Berita Boyolali Terbaru
Perjuangan Penambang Tradisional di Kali Apu Boyolali, Tetap Kerja Walau Status Merapi Siaga
Peningkatan aktivitas Awan Panas Guguran (APG) Gunung Merapi tidak mengecilkan nyali penambang pasir manual di Kali Apu, Desa Klakah, Kecamatan Selo.
Penulis: Tri Widodo | Editor: Ryantono Puji Santoso
Laporan Wartawan TribunSolo.com, Tri Widodo
TRIBUNSOLO.COM, BOYOLALI- Peningkatan aktivitas Awan Panas Guguran (APG) Gunung Merapi tidak mengecilkan nyali penambang pasir manual di Kali Apu, Desa Klakah, Kecamatan Selo.
Meski bahaya Erupsi bisa terjadi kapanpun, warga tetap nekat melakukan penambangan dengan cara manual untuk mencukupi kebutuhan hidup.
Slamet ( 45) warga Desa Klakah, Kecamatan Selo, salah seorang penambang pasir manual di aliran sungai yang berhulu di puncak Merapi.
Baca juga: Warga Boyolali Tak Panik, Sering Rasakan Getaran dan Suara Gemuruh Merapi: Kami Sudah Terbiasa
Baca juga: Bukan Boyolali dan Klaten, Tapi Magelang yang Diguyur Abu Merapi, Sudah Berlangsung Berhari-hari
Dia sudah puluhan tahun melakukan kegiatan penambangan pasir ini.
"Sudah biasa seperti ini. Mau kerja apa juga tidak bisa," ujarnya.
Dia mengaku, penambang pasir manual ini cukup untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari hari.
Baca juga: Merapi Muntahkan Awan Panas Hari Ini, Desa Tlogolele Boyolali Diguyur Hujan Abu
Untuk itu setiap hari dia harus mencari pasir di Kali Apu ini, agar anak dan istrinya tetap bisa makan.
Itu juga yang menyebabkan dia merasa tidak takut dengan aktivitas Merapi saat ini.
"Sudah terbiasa dengan kondisi ini. Cuma kalau hujan kami tidak berangkat nambang," ujarnya.
Baca juga: Gunung Kidul Gempa, Warga Klaten Ikut Rasakan Goncangan, Dikira Sumbernya dari Erupsi Gunung Merapi
Yati (21) penambang lain mengatakan, jika kondisi cuaca buruk dia dan 2 orang penambang satu timnya memilih untuk istirahat di rumah.
"Terutama saat cuaca di atas (Puncak Merapi) terlihat mendung pekat. karena akan ada banjir lahar," ujarnya.
Beruntung akhir-akhir ini cuaca cukup bersahabat. Walaupun APG terus dikeluarkan oleh Merapi.
Baca juga: Dampak Hujan Abu Merapi, Petani di Desa Tlogolele Boyolali Terpaksa Tunda Panen
Sementara itu, Kapolsek Selo, IPTU Maryanto meminta penambang pasir manual di Kali Apu meningkatkan kewaspadaannya.
Hati-hati saat cuaca buruk dan selalu memperhatikan aktivitas gunung Merapi.
"Kami tidak bisa melarang. Karena itu merupakan mata pencaharian warga. Hanya kami minta untuk meningkatkan kewaspadaan," pungkasnya.
Warga Tak Panik
Selain terdampak guyuran hujan abu vulkanik Merapi, warga yang tinggal di kawasan rawan bencana (KRB) 3 Merapi juga kerap mendengar suara gemuruh dan merasakan getaran dari puncak Merapi.
Sutar (66) warga Dukuh Ngadirojo, Desa Stabelan, Kecamatan Selo merasakan getaran dan mendengar suara gemuruh dari puncak Merapi, Senin pagi (16/8/2021).
Dia yang tinggal di KRB 3 sudah cukup terbiasa dengan fenomena tersebut.
Baca juga: Cerita Warga Boyolali di Radius 3 Km dari Puncak Merapi: Sering Dengar Gemuruh dan Rasakan Getaran
Baca juga: Merapi Semburkan Lava Pijar & Awan Panas, Boyolali & Klaten Aman, Magelang Kembali Diguyur Hujan Abu
"Ya tidak panik lah. Hampir setiap hari setiap ada luncuran awan kami selalu mendengarnya," ujarnya.
Dia pun masih cukup tenang dengan kondisi ini. Hanya saja, dia selalu waspada dengan kemungkinan yang akan terjadi.
"Alhamdulillah kami masih aman dan dari Pemerintah belum ada imbauan untuk mengungsi," ujarnya.
Baca juga: Gunung Merapi Muntahkan Awan Panas, Magelang Dilanda Hujan Abu
Sekretaris Desa ( Sekdes) Tlogolele, Neigen Actah Edi Nur Saputra mengatakan hal senada.
Warga yang berada di KRB 3 mendengar dan merasakan getaran dari Awan Panas guguran (APG).
"Warga kami belum ada instruksi untuk mengungsi. Sementara ini masih aman," pungkasnya.
Hujan Abu
Desa Tlogolele, Kecamatan Selo, Boyolali diguyur hujan abu pagi ini, Senin (16/8/2021).
Aktivitas masyarakat sekitar masih seperti biasa.
Sekretaris Desa ( Sekdes) Tlogolele, Neigen Actah Edi Nur Saputra mengungkapkan, wilayah Desa Tlogolele saat ini terjadi hujan abu.
"Cukup tebal. Atap-atap rumah warga terlihat putih," ujarnya.
Baca juga: Cerita Warga Boyolali di Radius 3 Km dari Puncak Merapi: Sering Dengar Gemuruh dan Rasakan Getaran
Seperti diketahui, hujan abu terjadi di wilayah Desa Tlogolele, Kecamatan Selo, Senin (16/8/2021).
Hujan abu ini terjadi setelah gunung Merapi kembali meluncurkan dua kali Awan Panas Guguran (APG).
Muntahan APG pertama terjadi pada pukul 05.36 WIB. Di seismogram, amplitudo APG ini tercatat 49 mm dengan durasi 165 detik.
Baca juga: Cerita Warga Boyolali di Radius 3 Km dari Puncak Merapi: Sering Dengar Gemuruh dan Rasakan Getaran
Baca juga: Sedekah Gunung Merapi Malam 1 Suro di Boyolali, Tahun Ini Digelar Lebih Sederhana: Prihatin Corona
Jarak luncuran material mencapai maksimal 2 kilometer mengarah ke barat daya.
Tidak berselang lama kemudian, merapi kembali menuntaskan APG lagi pukul 05.53 WIB.
Erupasi kedua ini lebih besar lagi. Durasinya tercatat 289 detik dan amplitudo 66 mm.
Baca juga: Viral Video Gunung Merapi Muntahkan Awan Panas, Penambang Pasir Nampak Santai
Luncuran material juga lebih panjang, mencapai 3,5 kilometer ke arah barat daya.
Selain itu, tinggi kolom mencapai 600 meter dari puncak.
Suara Gemuruh
Warga Desa Tlogolele, Selo, Boyolali mendengar suara gemuruh sebelum melihat hujan abu turun di wilayah mereka.
Mereka tidak khawatir sebab Merapi sudah beberapa kali erupsi
Paimun (40) warga Tlogomulyo mengatakan, mendengar suara gemuruh tersebut sebelum turun hujan abu.
Baca juga: Merapi Muntahkan Awan Panas Hari Ini, Desa Tlogolele Boyolali Diguyur Hujan Abu
Hujan abu tersebut mulai turun sekitar pukul 06.00 WIB hingga 09.00 WIB pada Minggu (8/8/2021).
"Tadi pagi sekitar jam 6 turun hujan abu setelah ada gemuruh, tapi hujannya sedikit, paling abunya cuma terbawa angin," Ujar Paimun.
Walau dengan intensitas rendah, hujan abu tersebut mampu menutupi sejumlah genteng rumah warga, ruas jalan hingga tanaman di perkebunan.
Meski demikian, aktivitas warga yang terdampak hujan abu tidak terganggu. Menurut pantauan TribunSolo.com, sejumlah warga tetap menjalankan aktivitas secara normal.
Hal tersebut lantaran dalam seminggu terakhir, Gunung Merapi sudah mengalami erupsi sebanyak 7 kali. Sehingga warga sudah biasa dengan keadaan ini.
Sementara itu, pantauan Badan Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) selama beberapa jam terakhir, terhitung sebanyak 4 kali Gunung Merapi mengeluarkan awan panasnya.
Dikutip dari laman twitter @BPPTKG, rangkaian awan panas tersebut muncul selama empat kali, pertama kali muncul pada pukul 04.58 WIB, hingga terakhir pukul 08.32 WIB pada hari Minggu (8/8/2021) dengan kekuatan yang berbeda-beda.
Baca juga: Gunung Merapi Muntahkan Awan Panas, Magelang Dilanda Hujan Abu
Baca juga: Berkali-kali Merapi Keluarkan Awan Panas, Warga di Lereng Santai, Tetap Petik Tembakau & Cari Rumput
Akibat dari luncuran awan panas tersebut, sejumlah pemukiman yang berada di kaki Gunung Merapi pun terkena imbasnya.
Salah satunya di Dusun Tlogomulyo RT 4 RW 2, Desa Tlogolele, Selo, Boyolali.
Disana terjadi turun hujan abu dengan intensitas rendah.
Baca juga: Viral Pemuda Pamer Bisa ke Pasar Bubrah Merapi saat Status Siaga III, Begini Reaksi TNGM
Baca juga: Geger Cahaya dari Langit di Merapi, Pertanda Apa Bagi Kepercayaan Jawa Kuno, Ini Kata Pakar Budaya
Kepala BPBD Boyolali, Bambang Sinung menjelaskan, bahwa sampai saat ini belum ada instruksi untuk mengevakuasi warga yang berada di kaki Gunung Merapi.
"Belum ada, sampai saat ini kondisi masih aman, memang saat ini sering terjadi seperti itu," jelas Bambang.
Bambang menjelaskan, bahwa sampai saat ini belum ada laporan tentang kerusakan yang terjadi dikarenakan kekuatan luncuran yang tidak besar. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/solo/foto/bank/originals/aktivitas-penambangan-pasir.jpg)