Berita Boyolali Terbaru

Intip Harga Hotel Bintang 3 Loji Kridanggo MaxOne di Boyolali : Tampak Mewah, Ada Sky Lounge Rooftop

Hotel yang memiliki 8 lantai itu menjadi satu-satunya bangunan paling tinggi yang ada di piusat perkotaan Boyolali.

Tayang:
Penulis: Tri Widodo | Editor: Asep Abdullah Rowi
TribunSolo.com/Tri Widodo
Salah satu kamar Loji Kridanggo Hotel MaxOne, tepatnya di jantung kotanya Boyolali, yakni di timur Simpang Lima Boyolali, Jalan Pemuda Nomor,1 Kelurahan Siswodipuran, Kecamatan Boyolali yang baru dibuka, Rabu (8/12/2021). 

Patung berukuran besar itu sengaja didirikan oleh Pemkab Boyolali di Selo sebagai tanda bahwa PB VI punya peran besar dalam perlawanan terhadap Belanda di Selo.

Patung PB VI Simpang PB VI setinggi lebih dari 4 meter itu berdiri tegak di tengah-tengah bundaran Simpang PB VI menelan anggaran Rp 674 juta dari APBD Boyolali.

Solo Tidak Punya

Pegiat Sejarah Boyolali, R. Surojo mengaku patung raja Solo berukuran besar ini hanya ada di Boyolali.

"Solo malah tidak punya," ujarnya kepada TribunSolo.com, Sabtu (11/9/2021).

Dia menyatakan Perang Jawa yang dipimpin Pangeran Diponegoro yang meletus pada tahun 1825 tak lepas dari Pesanggrahan Selo PB VI Selo.

Di Pesanggrahan itulah, Pangeran Diponegoro bersama Pakubuwono VI menyusun strategi perang dalam melawan pasukan Belanda.

Tak hanya untuk menyusun strategi perang saja, namun logistik dan persenjataan prajurit Diponegoro juga didapatkan di Selo.

Baca juga: Sebelum Meninggal Dunia, Putra Paku Buwono XII GPH Noer Cahyaningrat Berjuang Lawan Sakit Tumor Otak

“PB VI memberikan logistik perang terhadap perjuangan Diponegoro juga di Selo,” ujarnya.

Dia menyebut PB VI sengaja memilih Selo sebagai tempat penyusunan strategi dan pendistribusian logistik.

Adapun Selo yang berada di dataran tinggi di lereng Merapi-Merbabu, sangat tepat untuk mengelabui pasukan Belanda dengan menjadikan lokasi tersebut sebagai Pesanggrahan untuk meditasi Raja.

Belanda pun lalu percaya dan sedikitpun tak mencurigai dengan aktifitas PB VI di Selo tersebut. Apalagi di lereng Merbabu itu, PB VI juga membuat sebuah Goa yang dulu bernama Goa Raja.

“Padahal, di situlah PB VI dan Pangeran Diponegoro susun strategi perang dan PB VI memberikan senjata kepada pasukan Diponegoro,” ucapnya.

Selo yang berada pada jalur lurus ke Jogja yakni melalui lereng Merapi, wilayah Kecamatan Musuk, Kemalang, hingga Sleman cukup strategis sebagai jalur komunikasi pasukan telik sandi Diponegoro yakni Soijoyo warga Musuk.

“Untuk mengamankan Diponegoro saat menuju Selo, ada pasukan Benteng Komunikasi. Sehingga Pangeran Diponegoro bisa dengan aman dan selamat saat ke Selo,” tambahnya.

Sumber: TribunSolo.com
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved