Klaten Bersinar
Selamat Datang di Klaten Bersinar

Kuliner Solo

Kuliner Enak Klaten, Wedang Ronde Legendaris Pakdhe Djayus: Sudah Berdiri Sejak 1972

Ronde adalah makanan tradisional China dengan nama asli Tāngyuán. Nama tangyuan merupakan metafora dari reuni keluarga yang dibaca tuányuán.

TribunSolo.com/Ibnu Dwi Tamtomo
Wedang ronde Pakdhe Djayus, lokasinya berada di jalan Pemuda, Kecamatan Klaten Tengah, Klaten yang buka mulai pukul 17.30 sampai 22.00 WIB. 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Ibnu Dwi Tamtomo

TRIBUNSOLO.COM, KLATEN - Ronde adalah makanan tradisional China dengan nama asli Tāngyuán. Nama tangyuan merupakan metafora dari reuni keluarga yang dibaca tuányuán.

Ronde terbuat dari tepung ketan yang dicampur sedikit air dan dibentuk menjadi bola, direbus, dan disajikan dengan kuah manis.

Wedang ronde cocok dinikmati saat cuaca mulai dingin.

Baca juga: 8 Kuliner Solo yang Belum Pernah Terekspos, Tak Kalah Nikmat dan Ramai dari Kuliner Legend Lainnya

Baca juga: Rekomendasi Kuliner Wonogiri: Mie Ayam dan Es Asem Pak Sumarno, Ratusan Porsi Ludes Dalam Sehari

Suroso (50) adalah anak kelima dari 5 bersaudara keturunan Pakdhe Djayus, yang meneruskan usaha yang dirintis sejak 1972.

Suroso sudah menekuni bisnis warisan keluarga ini sejak 2010. Dia memilih resign dari pekerjaannya karena ingin mengelola warisan ayahnya.

"Saya sejak 2010, dulu sempet bekerja tapi resign lebih milih nerusin usaha bapak," ucapnya

"Kalau kerja kan nanti ada masa pensiun, tapi kalau usaha tetap jalan terus," imbuh Suroso.

Baca juga: Viral Pernikahan di Indramayu Bak Festival Kuliner, Tamu Boleh Makan Sepuasnya hingga Dibawa Pulang

Dia menjelaskan, bahwa awal mula membuat usaha ronde karena ayahnya sering bergaul dengan warga keturunan cina.

"Mungkin karena dulu bapak sering bergaul dengan warga Chinese ya, karena kan ronde itu asalnya dari Cina. Karena di Cina kan ada sembahyang ronde," terang Suroso.

Suroso menjelaskan, awal berjualan ronde masih dengan dipikul, karena jalan masih rusak.

"Bapak jualannya dulu dipikul menuju ke warung, karena jalan masih rusak. Dan kendaraannya juga tidak ada," terang Suroso.

"Dahulu belum ada perabotan dari plastik, kalau bukan kaca ya logam. Semua dipikul sama bapak," imbuhnya.

Sebelum ada listrik seperti sekarang, dahulu menggunakan dian hingga menggunakan petromax.

Baca juga: Solo Raih Penghargaan Kota Mahasiswa Terbaik, Megawati: Kuliner Solo Enak-enak Harganya Murah Meriah

Hingga saat ini Suroso masih setia menggunakan resep dari sang ayah. Untuk mempertahankan cita rasa yang ada sejak dahulu.

Halaman
12
Sumber: TribunSolo.com
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved