Kuliner Solo
Ini Sosis Bedug, Snack Legendaris Khas Boyolali: Ada Sejak 1955, Ukurannya Lebih Besar
Sosis Solo tentu tak asing di telinga masyarakat pecinta kuliner Kota Solo dan Solo Raya. Tapi pernahkah Anda mendengar dan mencoba Sosis Bedug?
Penulis: Vincentius Jyestha Candraditya | Editor: Ryantono Puji Santoso
Laporan Wartawan TribunSolo.com, Vincentius Jyestha
TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Sosis Solo tentu tak asing di telinga masyarakat pecinta kuliner Kota Solo dan Solo Raya. Tapi pernahkah Anda mendengar dan mencoba Sosis Bedug?
Jika belum pernah, Anda harus mencobanya. Snack ringan ini termasuk kuliner legendaris di Boyolali.
Berdiri sejak 1955 silam, Sosis Bedug memiliki besar dua kali lipat dari Sosis Solo kebanyakan.
Baca juga: 5 Makanan Buka Puasa Khas Wonogiri yang Jadi Favorit Para Pecinta Kuliner: Pindang Kambing
Baca juga: Nikmatnya Ayam Goreng Mbah Karto Tembel, Kuliner Enak yang Jadi Favorit Jokowi, Pernah Coba?
Penampilannya pun menggugah selera, membuat Anda menelan ludah.
Bagaimana tidak, dengan warna coklat keemasan dan balutan telur di sisi luar, membuat Sosis Bedug memiliki tekstur unik.
Saat TribunSolo.com melahap Sosis Bedug, rasa manis dan gurih langsung memenuhi mulut.
Manis itu bukan berasal dari gula, namun berasal dari daging sapi yang menjadi bahan dasar utama Sosis Bedug ini.
Baca juga: Rekomendasi Kuliner Khas Wonogiri, Pindang Kambing Mbok Sinem: Rasanya Enak dan Bikin Ketagihan
"Isinya daging sapi yang digiling. Dahulu itu masih dicacah (dicincang, - red) sendiri, tapi sekarang tenaganya sudah nggak mampu," kata Tatik Haryanti, pemilik Sosis Bedug, kepada TribunSolo.com.
Tatik (71), merupakan generasi kedua pemilik Sosis Bedug. Ayahnya yang bernama Karyo Prawiro adalah pencetus dari Sosis Bedug.
Karyo disebut Tatik suka memasak. Sehingga banyak resep dari makanan yang dijual di Sosis Bedug merupakan karya sang ayah.
Penamaan kuliner Boyolali ini pun unik. Sebab berasal dari panggilan Karyo Prawiro saat menjalankan tugas dari Pakubuwono X.
Baca juga: Besengek, Kuliner Khas Wonogiri yang Mulai Langka: Terbuat dari Tempe Melanding dan Cabai Hijau
Kala itu, Karyo ditugasi Pakubowono X untuk memukul bedug di Masjid Cipto Muyo. Karena tugasnya itu, dia pun dipanggil sebagai Mbah Bedug.
"Dulu kan disini ada pesanggarahan, ditugasi oleh Pakubuwono X untuk nutuk (memukul) bedug di Masjid Cipto Mulyo. Terus malah namanya nggak dipanggil Mbah Karyo Prawiro tapi Mbah Bedug," kata Tatik.
Sempat berjualan dengan nama Sosis Mbah Bedug, Tatik bersama keluarga akhirnya memutuskan merubah nama menjadi Sosis Bedug agar lebih mudah diingat pembeli.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/solo/foto/bank/originals/Sosis-Bedug-ini-terletak-di-Jl-Pengging-Banyudono.jpg)