Keraton Kartasura Dijebol
4 Fakta Dijebolnya Tembok Benteng Keraton Kartasura : Dijual Murah, Dibangun Kos-kosan
Berikut 4 fakta singkat yang menjelaskan duduk perkara insiden dijebolnya tembok Keraton Kartasura.
Penulis: Agil Trisetiawan | Editor: Aji Bramastra
Laporan Wartawan TribunSolo.com, Agil Trisetiawan
TRIBUNSOLO.COM, SUKOHARJO - Insiden dijebolnya tembok benteng Keraton Kartasura membuat banyak pihak khususnya pengamat dan pelestari sejarah prihatin.
Sejumlah fakta pun akhirnya malah terangkat ke permukaan.
Baca juga: Pembongkaran Benteng Keraton Kartasura Disebut Dapat Izin RT: Perawatannya Membebani Kas RT
Mulai tanah di kawasan cagar budaya itu yang dijual dengan harga murah, sampai warga setempat yang menyalahkan pemerintah tak pernah merawat dan memberi bantuan dana.
Berikut fakta insiden dijebolnya tembok Keraton Kartasura :
1. Dijual Murah untuk Kos-kosan
Tanah di kawasan Keraton Kartasura itu milik Lisnawati.
Keponakan Lisnawati, Bambang Cahyono (54) mengatakan tanah itu dijual ke seorang pria bernama Burhanudin.
Tanah dibeli Burhan seharga Rp 850 juta dengan luas tanah 682 meter persegi.
Artinya, harga tanah itu adalah Rp 1,2 juta per meter persegi.
Mengingat lokasi Keraton Kartasura yang cukup strategis di daerah Kartasura, Solo dan sekitarnya, harga tanah itu di pasaran harga tanah Solo sebenarnya termasuk murah.
Menurut Bambang, sedianya, lahan tersebut akan dibangun untuk dijadikan rumah kos-kosan.

2. Tak Tahu Bila Cagar Budaya
Pembeli tanah di Keraton Kartasura, Burhanudin (45), warga Kecamatan Gatak, Sukoharjo, tak tahu bila yang dirobohkannya adalah cagar budaya.
Burhan sapaan akrabnya mengaku tak menyangka akan terlibat kasus pengrusakan benda cagar budaya.