Suami Bunuh Istri Boyolali

Kronologi KDRT hingga Istri Tewas di Boyolali, Berawal dari Cekcok dengan Suami 

Sebelum membunuh istrinya, Tarman diduga terlibat cekcok dan kemudian membungkam istrinya dengan celana dalam. Korban ditemukan telanjang.

Penulis: Tri Widodo | Editor: Ryantono Puji Santoso
Istimewa/Humas Polres Boyolali
Polisi melakukan olah TKP dugaan KDRT hingga Meninggal Dunia, di Dukuh Sawengi, Desa Kembang, Kecamatan Gladagsari, Kamis (13/10/2022). 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Tri Widodo

TRIBUNSOLO.COM, BOYOLALI- Kasus KDRT hingga istri tewas dilakukan Tarman (40) warga Dukuh Sepi, Desa Jrakah, Kecamatan Selo, Boyolali

KDRT hingga istri tewas ini berawal dari cekcok dalam rumah tangga, korban Sri Suyamti (50) tewas di tangan Tarman, Kamis (13/10/2022).

Istrinya yang baru dia nikahi itu tewas di rumahnya Dukuh Sawengi, RT 03, RW 03, Desa Kembang, Kecamatan Gladagsari, Boyolali.

Informasi yang dihimpun, keduanya baru menikah 1 tahun yang lalu.

Setelah menikah itu, keduanya banyak tinggal di rumah Tarman, di Dukuh Sepi, Desa Jrakah, Kecamatan Selo.

Baru beberapa hari ini karena mau nyadran, keduanya menginap di rumah Sri Suyamti di Dukuh Sawengi, RT 03, RW 03, Desa Kembang, Kecamatan Gladagsari, Boyolali.

Saat berada di rumah itu, diduga keduanya terlibat cekcok usai berhubungan suami-istri.

Baca juga: Bengisnya Suami di Boyolali, Lakukan KDRT hingga Istri Tewas: Mulut Korban Tersumpal Celana Dalam 

Tarman yang kalap, kemudian membekap mulut sang istri.

Bahkan, Pelaku juga sempat menyumpali mulut korban dengan celana dalam.

Kepala Desa Kembang, Untung Susilo mengetahui peristiwa itu malah dari anggota Polsek Ampel.

Pelaku yang sadar akan kesalahannya itu langsung menyerahkan diri ke Polsek Selo yang kemudian dilanjutkan ke Polsek Ampel.

"Yang diduga menyerahkan diri ke Polsek Selo," katanya saat dihubungi TribunSolo.com, Kamis (13/10/2022).

Bersama anggota Polsek Ampel untuk kemudian mendatangi lokasi kejadian untuk mengecek kondisi korban.

Korban ditemukan sudah dalam kondisi meninggal dunia di atas tempat tidur tanpa busana.

"Ya memang tanpa busana. Tapi (apakah habis berhubungan suami-istri) nanti yang membuktikan hasil visum," tambahnya.

Saat ini, jenazah korban masih dilakukan autopsi di RSUD Dr. Moewardi Solo.

"Ini warga sudah siap. Nanti sewaktu-waktu (Jenazah datang) bisa langsung (dimakamkan)," jelasnya.

Bengisnya Suami di Boyolali

Kasus KDRT hingga tewas dilakukan seorang suami di Boyolali

Pelaku adalah Tarman (40). 

Dia tega menganiaya istrinya sendiri hingga tewas. 

Istrinya, Sri Suyatmi (50) dihabisi di rumahnya di Dukuh Sawengi, RT 03, RW 03, Desa Kembang, Kecamatan Gladagsari, Boyolali, Kamis (13/10/2022).

Kasi Humas, AKP Dalmadi mewakili Kapolres Boyolali mengatakan setelah menghabisi istrinya, pelaku langsung melaporkan diri ke Polsek Selo pada pukul 12.00 WIB.

Polsek Selo kemudian menginformasikan kejadian tersebut ke Polsek Ampel.

"Dari Polsek Selo menyampaikan ada seorang laki-laki yang menyerahkan diri ke Polsek Selo terkait dugaan penganiayaan atau KDRT,” jelasnya, saat dihubungi TribunSolo.com, Kamis (13/10/2022).

Atas laporan tersebut, lanjut Dalmadi, Unit Reskrim Polsek Ampel mengecek tempat kejadian perkara (TKP).

"Dan benar bahwa Korban dalam keadaan terlentang, mulut tersumpal celana dalam warna ungu, badan tertutup selimut," tambahnya.

Ibu Bunuh Anak di Sragen

Ibu yang tega membunuh anak kandungnya sendiri di Kabupaten Sragen ternyata kurang bersosialisasi dengan warga sekitar dalam kesehariannya.

Hal itu diungkap Ketua RT Dukuh Tlobongan, Desa/Kecamatan Sidoharjo, Kabupaten Sragen, Suwarno.

Diketahui, seorang ibu, W (64) menghabisi anaknya, S (46), pada Selasa (4/10/2022) sekitar pukul 01.00 WIB.

Suwarno juga menyebut W memiliki watak yang keras.

"Sama tetangga kanan kirinya tidak terlalu rukun, arisan bapak-bapak juga keluar," kata Suwarno, kepada TribunSolo.com, Selasa (4/10/2022).

Baca juga: Kesaksian Warga soal Ibu Bunuh Anak di Sragen: Tak Dengar Cek-cok, Sudah Dibungkus Tikar saat Datang

"Kedua orang sama-sama kakunya (keras)," tambahnya.

W sendiri sehari-hari merupakan penjual sayur keliling menggunakan sepeda dan bronjong.

"Jual sayur keliling setiap pagi, biasanya ke Sragen kota," singkatnya.

Ia mengatakan aksi W kemungkinan dipicu rasa kesal dan marah kepada putra pertamanya itu.

W disebut juga merasa malu lantaran S pernah mencuri dan keluar masuk penjara.

"Dulu S pernah mencuri, masuk keluar penjara, ibunya malu mungkin," katanya.

S sendiri diketahui tengah memiliki masalah dengan sang istri, hingga pulang ke rumah ibunya.

Baca juga: Kitab Primbon Syekh Imam Tabbri : Jadi Warisan Budaya Tak Benda Pertama dari Sragen, Isinya Istimewa

Namun, ibunya tidak mengizinkan S tidur di dalam rumah, dan tidur di teras rumah selama hampir kurang 3 bulan.

"Sudah ada 3 bulanan tidur diluar, bukan di kursi tapi di teras rumah itu, memang seperti itu," jelasnya.

"Ketika ditanya, kenapa kok anaknya dibiarin tidur di teras, ibunya bilang takut anaknya ambil barang-barang yang ada di dalam rumah," terangnya.

Dalam kesehariannya, S bekerja sebagai tukang batu.

Warga Tak Dengar Ada Cek Cok

Warga sekitar mengaku tidak mendengar terjadinya cek-cok sebelum pembunuhan anak kandung oleh ibunya sendiri di Kabupaten Sragen.

Diberitakan sebelumnya, S (46) dibunuh oleh ibunya, W (64) warga Dukuh Tlobongan, Desa/Kecamatan Sidoharjo, Kabupaten Sragen.

Kejadian tersebut terjadi pukul pada Selasa (4/10/2022) sekitar pukul 01.00 WIB.

Ketua RT setempat, Suwarno mengatakan jika sebelumnya tidak mendengar adanya pertengkaran dari rumah tersebut.

Waktu itu, saat tidur, ia dibangunkan oleh saudara korban terkait peristiwa tersebut.

Baca juga: Pasca Habisi Anaknya, Ibu di Sragen Berencana Buang Jenazah yang Dibungkus Tikar ke Sungai Mungkung

"Tidak ada teriakan, tidak tahu, pertengkaran tidak ada, sorenya disini ada arisan ibu-ibu di rumah saya," katanya kepada TribunSolo.com, Selasa (4/10/2022).

"Saya di rumah, dipanggil sama saudaranya, intinya S dikepruk batu sama ibunya, saya diminta ngecek, sudah meninggal atau belum, jenazah sudah dibungkus tikar," tambahnya.

Kepada Suwarno, W mengatakan jika ia telah membunuh putra pertamanya itu.

W mengatakan jika S sudah dalam kondisi meninggal dunia.

Setelah itu, W meminta Suwarno untuk membuang jenazah ke sungai.

"Saya datang, ibunya itu bilang saya bunuh sudah meninggal, ayo buang ke sungai, terus saya bilang, jangan dibuang dulu, diselesaikan dulu urusannya," ujarnya.

"Si ibu bilang lagi, tidak usah telfon siapa-siapa, diselesaikan sendiri saja, batin saya seperti membuang ayam saja, saudaranya yang datang disuruh buang ya tidak mau," tambahnya.

Baca juga: Tragis, Pengantin Baru Asal Solo Tewas Usai Check In di Karanganyar : Diduga Overdosis Obat Kuat

S diketahui dibunuh dengan cara dipukul dengan cangkul hingga batang cangkul patah.

Ketika S dalam keadaan kejang-kejang, W masih memukul S dengan batu cor dengan berat 5 kilogram ke arah kepala sebanyak 9 kali.

"Saat diperiksa, katanya tidak menyesal, katanya saat kejadian spontan langsung del, ditanya menyesal tidak, katanya tidak menyesal," jelasnya.

"Itu dipacul sekali, kemudian dibleki cor-coran sebanyak 9 kali, batunya besar, 5 kilogram ada, pas diperagakkan tadi ibunya sampai meleyot (tidak kuat angkat)," tambahnya.

Kini, W sudah diamankan dan dimintai keterangan di Polres Sragen.

Sedangkan, jenazah korban masih dilakukan autopsi di RS Moewardi Surakarta. 

Hendak Dibuang ke Sungai

Usai membunuh anak kandungnya sendiri, seorang ibu di Kabupaten Sragen berencana membuang jenazah anaknya ke sungai.

Diketahui, korban berinisial S (46) dan ibunya berinisial W (64). Korban dan pelaku tinggal di rumah yang sama.

Ketua RT setempat, Suwarno menceritakan dirinya mengetahui kejadian tersebut setelah dipanggil pihak keluarga untuk mengecek apakah korban sudah meninggal atau belum.

"Saya di rumah, dipanggil sama saudaranya itu, intinya S di kepruk sama ibunya, saya disuruh memeriksa, sudah meninggal atau masih hidup," katanya kepada TribunSolo.com, Selasa (4/10/2022).

Baca juga: Kisah Pilu Dibalik Ibu Tega Bunuh Anak di Sragen : Malu, Kecewa dan Marah Anaknya Sering Mencuri

Ia menuturkan jika saat datang, tubuh korban sudah dibungkus tikar oleh ibunya.

Bahkan, menurut Suwarno mengatakan jika W meminta kepadanya untuk membuang jasad sang anak ke aliran Sungai Mungkung yang tak jauh dari rumahnya.

"Saya kesana sudah dibungkus tikar oleh ibunya, (jasad) mau dibuang ke sungai, saya datang, dipeluk sama ibunya, diajak buang ke sungai, saya tidak mau," jelasnya.

Ia menuturkan jika kondisi jenazah luka parah dibagian kepala, karena benturan dengan bongkahan batu cor.

"Pertama itu dipukul pakai cangkul, sampai patah jadi dua atau tiga, setelah itu ditimpali cor-coran, beratnya sampai 5 kilogram ada," tambahnya.

Kabar jenazah S hendak dibuang ke sungai juga dibenarkan oleh Kasi Humas Polres Sragen, Iptu Ari Pujiantoro mewakili Kapolres Sragen, AKBP Piter Yanottama.

Baca juga: BREAKING NEWS: Seorang Ibu Nekat Bunuh Anak Sendiri di Sragen, Habisi Pakai Batu Bata & Cangkul

"Awalnya, saudara korban ditelpon oleh adik korban yang memberitahukan diminta untuk datang ke rumah, dan warga lainnya datang ke lokasi, sesampainya di lokasi, pelaku bilang bahwa korban sudah dibunuh oleh pelaku," ungkapnya, Selasa (4/10/2022).

"Pelaku meminta tolong pada saudaranya itu untuk membantu pelaku untuk membuang jenazah korban ke aliran sungai Mungkung, yang tepat berada di belakang lokasi, namun saudaranya tersebut menolak karena ketakutan," tambahnya.

Kemudian, warga pun melaporkan kejadian tersebut ke kepolisian, dan dilakukan proses olah TKP, selanjutnya pelaku diamankan ke Mapolres Sragen.

Selain mengamankan pelaku, polisi juga mengamankan barang bukti.

"Barang bukti yang diamankan yakni bongkahan batu cor, cangkul yang kondisi patah yang diduga digunakan untuk memukul korban, 2 buah HP, tikar dan tapi yang digunakan untuk membungkus jenazah korban, dan tangga bambu," pungkasnya.

Malu Gegara Anak Sering Mencuri

Ada kisah pilu dibalik seorang ibu yang tega membunuh anak kandung sendiri di Kabupaten Sragen, Selasa (4/10/2022).

Ibu berinisial W (64) itu ternyata menahan malu dan kekecewaan yang teramat sangat kepada anaknya yang berinisial S (42).

Berdasarkan penuturan W, alasan dirinya membunuh S karena merasa kecewa dan marah, lantaran sang anak sering mencuri. 

"Karena ibunya kecewa, marah, malu, karena anaknya sering mencuri, kemudian ibunya merasa malu dan kecewa," kata Kapolsek Sidoharjo, AKP Harno, saat dihubungi TribunSolo.com, Selasa (4/10/2022). 

Baca juga: Cerita Petani di Sragen, Beli BBM Pakai Jeriken, Tiba-tiba Diancam dan Diperas

Baca juga: Atlet Futsal Sragen Nizar Tuai Decak Kagum Saat Indonesia Hajar Lebanon di Piala Asia Futsal 2022

Informasi yang dihimpun TribunSolo.com, kejadian tersebut terjadi sekitar pukul 02.10 WIB pagi tadi. 

Dimana kejadian berawal ketika anak sedang tidur di teras rumah ibunya, yang beralamat di Dukuh Tlobongan, RT 22, Desa/Kecamatan Sidoharjo, Kabupaten Sragen. 

Awalnya korban dihantam bongkahan batu bata berulang kali. 

Kemudian, korban kejang-kejang dan dipukul lagi menggunakan cangkul. 

Bahkan, lempengan cangkul yang digunakan untuk memukul sampai terlepas. 

Baca juga: Dilema Perajin Tahu Sragen, Tak Berani Ubah Harga & Kurangi Ukuran saat Harga Kedelai Impor Meroket

Baca juga: DPP NasDem Usung Anies Baswedan Capres 2024, DPD Sragen Tegak Lurus Menangkan Anies 

"Dihantam pakai bongkahan batu bata, terus kemudian (dipukul) berulang kali, masih kejang-kejang, dipukul memakai cangkul, sampai cangkulnya lepas," terangnya. 

Saat ini, korban dibawa ke RS Moewardi Solo sedangkan W sedang dilakukan pemeriksaan di Polres Sragen. 

"Korban autopsi dulu ke RS Moewardi Solo, ibunya kita periksa di Polres Sragen," pungkasnya.

Nasib Anak Bunuh Ibu Kandung di Sragen

Setelah aksinya terungkap, kini DS (33) harus mempertanggung jawabkan perbuatannya. 

Ya, DS kini telah resmi ditetapkan sebagai tersangka atas kasus pembunuhan dengan korban S (53) yang merupakan ibu kandungnya sendiri.

DS tega menghabisi nyawa ibunya karena merasa jengkel selalu dinasehati untuk mencari pekerjaan yang layak.

Baca juga: Warga Berkerumun Lihat Reka Ulang Kasus Anak Bunuh Ibunya di Sragen : Penasaran dengan Sosok Pelaku

Baca juga: Cerita Desa Jabung Sragen Jadi Sentra Usaha Konveksi: Berawal dari Merantau, Buka Pasar Jakarta

Aksi kejinya itu dilakukan dengan memukul tubuh sang ibu hingga sang ibu terjatuh ke lantai.

Setelah terjatuh, kepala S dibenturkan ke lantai sebanyak 3 kali hingga tak sadarkan diri namun masih hidup.

Agar aksinya tak diketahui, DS kemudian memposisikan tubuh sang ibu seolah-olah terjatuh di kamar mandi, yakni dengan posisi sujud dan kepala masuk ke dalam ember kecil berisi air. 

Aksinya tersebut terbongkar setelah polisi melakukan pembongkaran makam dan melakukan autopsi. 

Kapolres Sragen, AKBP Piter Yanottama mengatakan korban dikenakan pasal 338 KUHP tentang pembunuhan dan juga pasal 351 ayat 3 KUHP tentang penganiayaan dengan pemberatan yang menyebabkan meninggal dunia. 

"Atas perbuatannya DS terancam pidana maksimal 15 tahun penjara," kata Piter di Mapolres Sragen beberapa waktu lalu.

Baca juga: Pilunya Nasib Pelajar Sragen, Menuju Sekolah Malah Jadi Korban Kecelakaan Karambol di Sambungmacan

Baca juga: Potret Kemiskinan di Sragen, Rumah Laso Beralaskan Tanah & Dinding Bambu, Kini Dapat Bantuan RTLH

Polres Sragen pun menggelar reka ulang adegan di rumah tersangka pada Jumat (15/7/2022). 

Dalam reka adegan tersebut diperagakan 32 adegan sesuai dengan keterangan pelaku saat pemeriksaan. 

Yakni kejadian malam hari sebelum kejadian, saat kejadian, hingga pasca kejadian. 

Menurut Kasat Reskrim Polres Sragen, AKP Lanang Teguh Pambudi mengatakan pasal yang dikenakan terhadap tersangka saat ini masih sama. 

"Pasal yang disangkakan saat ini masih sama, tapi juga tidak menutup kemungkinan, setelah hasil koordinasi dengan jaksa barangkali ada pasal yang diterapkan, jika berubah nanti diungkapkan lagi," terangnya. 

Reka ulang kali ini dirasa cukup dan kemungkinan tidak akan dilakukan reka ulang lanjutan.

Reka Ulang Dipenuhi Warga, Penasaran Sosok Pelaku

Polisi gelar reka ulang adegan kasus pembunuhan yang dilakukan seorang anak kepada ibu kandungnya, Jumat (15/7/2022). 

Sebelumnya diberitakan, seorang anak berinisial DP (32) warga Kelurahan Sragen Wetan, Kecamatan/Kabupaten Sragen ditetapkan sebagai tersangka atas pembunuhan terhadap S (53) yang tak lain adalah ibu kandungnya sendiri.

DP yang sehari-hari tinggal berdua bersama sang ibu, tega memukul badan sang ibu hingga lemas. 

Baca juga: Kejinya Anak di Sragen Bunuh Ibu Kandung, Setelah Dihabisi Dibuat Seolah Terjatuh di Kamar Mandi

Baca juga: Kronologi Pengungkapan Kasus Anak Bunuh Ibu Kandung Sendiri di Sragen, Berawal dari Kecurigaan Warga

Untuk mengelabui perbuatannya, DP membuat skenario yang mana seolah-olah sang ibu meninggal dunia karena terpeleset. 

Saat ditemukan oleh warga sekitar, S dalam kondisi sujud dengan kepala masuk ke dalam ember yang berisi ember dalam kondisi meninggal dunia. 

Kasus ini dapat diungkap, setelah polisi melakukan pembongkaran makam dan dilakukan autopsi. 

Proses reka ulang sendiri dilakukan sejak pukul 09.00 WIB dan selesai 2 jam kemudian. 

Rekonstruksi dilakukan di rumah tersangka dan dilakukan secara tertutup. 

Meski begitu, ada beberapa warga sekitar yang penasaran karena kasus tersebut cukup menyita perhatian warga Sragen. 

Baca juga: Motif Anak Tega Bunuh Ibu Kandung di Sragen: Jengkel Disuruh Cari Kerja dan Dibandingkan Keponakan

Baca juga: Warga Sragen Meninggal Sujud Tapi Kepala Masuk ke Ember, Keluarga Minta Polisi Bongkar Makam

Mulai dari ibu-ibu, bapak-bapak, hingga anak-anak penasaran ingin melihat sosok anak yang tega menghabisi nyawa ibu kandungnya sendiri itu. 

"Bocahe sing endi (orangnya yang mana), pingin weruh bocahe (ingin lihat orangnya), kok tega-tegane," ujar seorang ibu paruh baya. 

Seorang nenek yang melihat tersangka dibawa keluar terus mengucapkan kalimat istighfar "Astaghfirullah hal adzim" berkali-kali.

Kapolres Sragen, AKBP Piter Yanottama melalui Kasat Reskrim Polres Sragen AKP Lanang Teguh Pambudi mengatakan total ada 32 adegan yang diperagakan ulang. 

"Total ada 32 reka adegan, kita rekonstruksi dari yang bersangkutan ini istirahat, kejadian kemudian pasca kejadian," ungkapnya saat ditemui wartawan, Jumat (15/7/2022). 

Pihaknya masih mendalami pemeriksaan lebih lanjut apakah terdapat fakta baru dari kasus yang menyebabkan hilangnya nyawa manusia tersebut. 

Di dalam reka adegan diterjunkan sebanyak 6 personel dan juga personel untuk mengamankan selama proses reka ulang berlangsung.

Kronologi Anak Bunuh Ibu Kandungnya Sendiri

Aksi keji dilakukan DP alias M (32) warga Kampung Widoro, Kelurahan Sragen Tengah, Kecamatan/Kabupaten Sragen.

DP tega menghabisi nyawa ibu kandungnya sendiri, yakni Setyorini (53) pada Selasa (28/6/2022) lalu. 

Kapolres Sragen, AKBP Piter Yanottama mengatakan kasus tersebut terungkap setelah muncul kecurigaan dan kejanggalan yang dirasakan para tetangga terhadap kematian Setyorini.

Baca juga: Kejinya Anak di Sragen Bunuh Ibu Kandung, Setelah Dihabisi Dibuat Seolah Terjatuh di Kamar Mandi

Setyorini diketahui dimakamkan pada Selasa (28/6/2022) siang hari setelah ditemukan meninggal dunia dalam posisi sujud dengan kepala masuk ke dalam ember pada pagi harinya. 

Warga dan keluarga yang curiga kemudian melaporkan kejanggalan tersebut kepada Polres Sragen kemudian dilakukan pembongkaran makam dan dilaksanakan autopsi pada Minggu (3/7/2022). 

Tetangga sekitar juga kerap mendengar adanya cek-cok mulut dari rumah korban. 

Menurut AKBP Piter, berdasarkan hasil autopsi ditemukan pendarahan di lapisan otak Setyorini. 

"Dari hasil secara umum, Biddokkes Polda Jawa Tengah mengatakan korban atas nama Setyorini meninggal akibat adanya luka lebam, memar, dibagian belakang kepala bagian bawah akibat benda tumpul," ujarnya kepada wartawan, Rabu (6/7/2022). 

"Kemudian ada juga sedikit luka di pelipis kanan kemudian ada juga luka di dada kanan juga," tambahnya. 

Dari hasil autopsi itulah, Polres Sragen langsung melakukan penyelidikan dan pengumpulan barang bukti karena adanya indikasi tindak pidana pembunuhan.

Polres Sragen mengumpulkan barang bukti dan memeriksa 6 orang saksi yang kebanyakan adalah tetangga korban. 

Pihaknya juga melakukan olah TKP dan menemukan dia alat bukti yang cukup, dan akhirnya bisa menetapkan DP alias M adalah pelaku dari pembunuhan tersebut.

DP diketahui merupakan anak tunggal dan kandung dari Setyorini yang sehari-hari tinggal bersama korban. 

"Pelaku sudah kita tangkap dan tahan, yang bersangkutan menjelaskan secara gamblang detik-detik apa yang sudah dilakukan terhadap ibu kandungnya sampai meninggal dunia," terangnya. 

Diakui DP ia telah melakukan kekerasan fisik terhadap Setyorini dengan cara memukul dengan tangan kiri bagian kepala, tangan dan dada hingga terjatuh.

"Ketika terjatuh, pelaku membenturkan kepala korban ke lantai sebanyak tiga kali dan kemudian korban pingsan, dan menurut pelaku tangan korban masih bergerak," kata AKBP Piter. 

"Selanjutnya untuk mengaburkan aksinya, yang bersangkutan membuat skenario biar Seolah-olah terjatuh di kamar mandi," tambahnya. 

Ya, kemudian oelaku memasukkan kepala korban ke dalam ember kemudian diisi air dengan gayung berwarna kuning hingga meninggal dunia.

Jengkel Disuruh Cari Kerja dan Dibandingkan Ponakan

DP (33) warga Kampung Widoro, Kelurahan Sragen Wetan, Kecamatan/Kabupaten Sragen resmi ditetapkan sebagai tersangka atas kasus pembunuhan terhadap ibu kandungnya sendiri.

Setyorini (53) diketahui meninggal dunia dalam keadaan sujud dengan kepala masuk ke dalam ember di kamar mandi pada Selasa (28/6/2022). 

Terungkap motif DP melakukan aksi keji tersebut karena merasa jengkel selalu dinasehati sang ibu untuk mencari kerja.

Baca juga: Kejinya Anak di Sragen Bunuh Ibu Kandung, Setelah Dihabisi Dibuat Seolah Terjatuh di Kamar Mandi

Diketahui DP yang tinggal berdua dengan sang ibu hidup dalam keadaan ekonomi yang pas-pasan. 

Terkadang tetangga iba dan memberikan makanan kepada keduanya. 

Kapolres Sragen, AKBP Piter Yanottama membenarkan hal tersebut. 

"Pelaku dan korban diketahui sehari-hari memang tinggal bersama, sebagai ibu dan anak tunggal, karena kesulitan ekonomi, korban sebagai seorang ibu kerap memberikan nasehat agar anaknya mencari kerja yang layak," ungkapnya Rabu (6/7/2022). 

"Pelaku juga disarankan berangkat ke Jakarta menyusul kakak keponakannya, bahasanya apa tidak ingin memperbaiki rumah supaya kita bisa hidup dengan layak," tambahnya. 

Menurut AKBP Piter, DP melakukan tindakan tersebut secara spontan dan dalam keadaan sehat tidak mengalami gangguan kejiwaan. 

Sebelum melaksanakan aksinya itu, DP sempat berkumpul dengan teman-temannya dan minum-minuman keras hingga mabuk pada Senin (27/6/2022) malam. 

Kemudian pada Selasa (28/6/2022) sekitar pukul 00.30 WIB, DP kembali ke rumah kemudian bertemu dengan sang ibu. 

Sang ibu kembali menasehati DP, namun DP mengatakan untuk dibahas besok dan ia kemudian tidur. 

Keesokan harinya, sekitar pukul 05.00 WIB Setyorini kembali menasehati DP untuk mencari kerja. 

"Besok paginya kembali dibahas hal tersebut sehingga menyebabkan yang bersangkutan menjadi emosi menjadi meledak, spontanitas DP melakukan hal tersebut," jelasnya. 

"DP melakukan tindakan fisik memukul bagian tubuh dari korban kemudian jatuh ke lantai, kepala dibenturkan tiga kali ke lantai hingga ibunya tak berdaya, kemudian kepala ibunya dimasukkan ke ember berisi air, sehingga atas dasar itu korban meninggal dunia," terangnya. 

Dengan rasa tak berdosa, pelaku melanjutkan tidurnya setelah melakukan aksi keji itu. 

Kemudian ada tetangga yang melihat ada separuh badan seperti terjatuh dan ketika dipanggil tidak menjawab. 

Dari situlah baru diketahui Setyorini telah meninggal dunia.

Selain itu, DP juga merasa jengkel karena selalu dibanding-bandingkan dengan kakaknya. 

Diketahui, Setyorini juga mengasuh kedua keponakannya dan sempat tinggal bersama dan sudah dianggap sebagai anak sendiri.

Kedua anak asuh Setyorini sudah bekerja di Kabupaten Karanganyar dan Jakarta yang terkadang juga membantu perekonomian Setyorini di Sragen. 

"Ada pengakuan pelaku jengkel karena dibanding-bandingkan dengan kakak keponakan, berangkat sana ke temuin kakak Jakarta," ujarnya. 

"Kami melihat itu sebagai nasehat seorang ibu kepada anaknya untuk mendapatkan kehidupan yang layak, namun direspon demikian oleh pelaku," terangnya.

(*)

 

Sumber: TribunSolo.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved