Berita Boyolali Terbaru

Uniknya Tarian Amita Lembu Abipraya: Diciptakan Seniman Ampel Boyolali, Penari Bertopeng Kepala Sapi

Sebuah tarian di acara parade Merapi-Merbabu menarik perhatian warga. Sebab penarinya mengenakan topeng berkepala sapi

Tayang:
Tribunsolo.com/Tri Widodo
Tarian Amita Lembu Abipraya membuka acara Parade Merapi-Merbabu di Alun-alun PB VI Selo, Boyolali, Minggu (23/10/2022). Tarian yang diciptakan seniman Ampel itu menggunakan topeng kepala sapi pada kepala penarinya. 

"Pernah rumah itu kok ada yang kurang srek. Kemudian mengundang kami. Dan ternyata di perkarangan rumah tersebut terdapat makam bayi yang tidak terawat. Lalu kami mendapatkan wangsit mengenai titik lokasi keberadaan makam tersebut," jelas Slamet Seno, kepada TribunSolo.com, Kamis (22/9/2022).

Kesakralan tarian ini pun menjadikan kelompok tari ini masih terus melestarikannya.

Sebab, tarian ini juga memiliki makna filosofis yang dalam bagi kehidupan manusia.

Tarian jangkrik ngentir ini berkisah tentang perjalanan peradaban manusia dalam mencari kehidupan sejati.

Baca juga: Tari Morosebo, Tarian Sakral Ciptaan Sanggar Tari di Cepogo, Gerakannya Penuh Makna 

Saat itu  peradaban manusia yang belum mengenal tuhan menjadikan masyarakat hidup bebas tanpa aturan.

“Seiring perjalanan waktu, mereka ingin mencari jati diri atau Tuhan. Istilahnya yang namanya orang hidup, pingin ngerti sejatine urip,” jelasnya.

Dalam perjalanannya mencari petunjuk atau wangsit, caranya pun bermacam-macam.

Seperti memuja pohon besar, gunung, matahari dan ada pula yang melalui jejogetan atau tarian hingga puncaknya pikirannya kosong dan kerasukan roh leluhur atau istilahnya payah.

“Dalam keadaan payah munculah petunjuk-petunjuk atau wangsit yang sangat bermanfaat masyarakat,” kata  imbuhnya.

Apalagi menurut sejarah yang berkembang tarian ini sengaja diciptakan masyarakat saat itu sebagai media berkomunikasi dengan arwah leluhur dalam menjalani kehidupan yang baik.

Baik dalam menentukan waktu usaha tani, maupun dalam mengatur tatanan kehidupan.

Sebab, saat itu, masyarakat banyak yang gagal panen karena kurang memahami waktu yang tepat dalam menanam.

Sehingga mereka butuh bimbingan dari para leluhur.

Baca juga: Tahun 2022, 80 Ribu Warga Boyolali Masih Hidup di Bawah Garis Kemiskinan

"Untuk berkomunikasi dengan leluhur, maka  Arwah leluhur akan merasuki penari. Saat kerasukan itulah disampaikan hal-hal yang baik," jelasnya.

Selama penari kerasukan ini, musik harus terus berbunyi.

Sumber: TribunSolo.com
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved