Tribun Solo Wiki

Sejarah Ki Gedhe Solo, Sosok di Balik Berdirinya Kota Surakarta Ternyata Ada 3 Orang

Di kawasan Baluwarti, tepatnya di timur Ndalem Mlayakusuman terdapat makam sosok yang disebut-sebut menjadi tokoh berdirinya Kota Surakarta

|
Tribunsolo.com/Andreas Chris
Makam Ki Ageng Solo yang kerap dilirik Caleg jelang Pemilu untuk berziarah. 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Andreas Chris Febrianto Nugroho

TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Di kawasan Baluwarti, tepatnya di timur Ndalem Mlayakusuman terdapat makam sosok yang disebut-sebut menjadi tokoh berdirinya Kota Surakarta atau yang lebih dikenal sebagai Kota Solo.

Makam tersebut merupakan makam Ki Gedhe Solo, cikal bakal penamaan Solo yang menjadi sebutan Kota Surakarta sampai hari ini.

Lantas siapakah sosok Ki Gedhe Solo sendiri?

Dosen UIN RM Said, Mohammad Aprianto menerangkan bahwa ternyata Ki Gedhe Solo bukanlah nama lahir dari tokoh tersebut melainkan nama jabatan.

Hal itu menurut Apri bisa dilihat dalam Babad Sala yang menyebut ada tiga sosok Ki Gedhe Solo.

Baca juga: Cerita Caleg DPRD Solo Pilih Ziarah ke Makam Ki Gedhe Solo Jelang Pemilu : Kulonuwun Pada Leluhur

"Ki Gede Sala ada tiga, Ki Gede Sala I, leluhur atau cikal bakal adanya Desa Sala. Ki Gede Sala II, putera Ki Gede Sala I. Ki Gede Sala III, putera Ki Gede Sala II," ujar Apri saat dikonfirmasi TribunSolo.com, Selasa (16/1/2024).

Sementara itu untuk luas wilayah Desa Solo sendiri saat di bawah kepemimpinan Ki Gedhe Solo disebut Apri cukup luas sebagai sebuah desa yang lumayan jauh dari kerajaan.

"Luas Desa Sala terlihat dari beberapa batas-batas wilayahnya. Utara di Kali Pepe, Timur di Bengawan-Beton terus arah selatan di Desa Nusupan, Selatan di Sungai Wingka dan Barat berbatasan dengan tempat yang cukup berliku, mulai dari Sungai Pepe ke Selatan sampai Gading, terus ke Selatan sampai Sungai Wingka," sambungnya.

Sebelum menjadi pusat pemerintahan Keraton Kasunanan Surakarta, Ki Gedhe Solo bertugas sebagai Bekel atau pemimpin desa.

Sedangkan rumah Ki Gedhe Solo sendiri disebut Aprianto berada di lokasi yang saat ini menjadi Sithinggil Keraton Kasunanan Surakarta.

"Kyai Gede Sala sebagai bekel Desa, memiliki wewenang untuk menarik pajak para saudagar yang melintas di perlintasan transaksi sungai dan pelabuhan (bandar)," kata dia.

Namun saat kepemimpinan Ki Gedhe Solo III, terjadi pemberontakan di Keraton Kartasura yang dikenal dengan peristiwa Geger Pacinan.

Baca juga: Daya Tarik Makam Ki Gedhe Solo, Sosok Dibalik Cikal-Bakal Kota Solo, Dilirik Caleg Jelang Pemilu

Hal itu membuat Paku Buwono II sebagai Raja harus menyingkir ke Ponorogo untuk sementara waktu dan memandatkan untuk mencari lokasi baru yang akan didirikan menjadi istana.

Akhirnya wilayah Desa Sala sendiri dipilih sebagai lokasi pendirian keraton yang baru dengan memberikan imbalan kepada Ki Gedhe Solo berupa sejumlah uang.

Sumber: TribunSolo.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved