Klaten Bersinar
Selamat Datang di Klaten Bersinar

Berita Sukoharjo

Cerita Pencari Tugu Triangulasi dari Sukoharjo Jateng, Hobi Hingga Tugu Triangulasi Dianggap Kuburan

Surya Harjono tak menyangka hobinya blusukan mencari tugu triangulasi membuatnya mengetahui banyak hal terutama soal cara orang dulu menghitung jarak

Penulis: Andreas Chris Febrianto | Editor: Adi Surya Samodra
TribunSolo.com / Dok Surya Harjono
Surya Harjono saat mencatat dan mengecek peta terkait tugu triangulasi 

Namun Surya tidak memungkiri di Indonesia ada banyak jenis tugu triangulasi tergantung fungsinya.

"Ini memang bukan tipe atau materi sejarah yang umum atau tren. Kalau biasanya jalur kereta, irigasi, stasiun. Tapi sekarang memang sudah mulai banyak yang sadar. Keunikannya ya dasarnya tugu triangulasi itu penting bagi sebuah sejarah wilayah. Yang kedua ternyata macam tugu triangulasi ada banyak. Ada 16 macam tugu trianggulasi kaya TSV (Trianggulasi Solo Vale) yang dibuat khusus untuk membuat kanal sungai bengawan solo baru dari Bojonegoro sampai Gresik. Itu bekasnya masih ada dan bisa dilihat di Google Map," kata dia.

Tak hanya penting bagi masyarakat sipil, tapi fungsi tugu triangulasi sendiri diakui Surya juga penting bagi kemiliteran.

Bahkan pembuatan tugu triangulasi sendiri selalu dilakukan oleh dua pihak yakni tentara angkatan darat dan ahli geodesi.

Tugu tirangulasi 2024
Peta dan tugu triangulasi

Meski memakan waktu dan biaya lumayan banyak untuk menelusuri keberadaan tugu triangulasi.

Surya merasa puas karena ikut melestarikan bangunan bersejarah dan memiliki nilai sejarah tinggi bagi masyarakat.

"Memakan waktu dan uang, karena memang kecintaan. Ya karena orang hobi itu kan memang orang kurang gawean. Jadi kalau hobi jadi nggak mikir sponsor atau sumbangan jadi nggak memikirkan uang yang didapat. Yang paling penting masyarakat yang ada di sekitar tugu triangulasi itu  bernilai sejarah tinggi," ungkapnya.

Tak hanya itu saja, pengusaha souvenir itu mengaku sering mendapat pengalaman unik selama menelusuri tugu triangulasi yang memiliki banyak ciri seperti tugu triangulasi primer yang bisa mencapai tinggi sampai 2 meter lebih, atau tugu trianggulasi sekunder yang mencapai 1,5 meter bahkan tugu triangulasi tersier dan quarter yang biasanya hanya berukuran tak sampai satu meter.

Salah satu cerita unik yang ia temui tak lain adalah anggapan masyarakat sekitar wilayah tugu triangulasi yang ia temukan dimana tak jarang bangunan penanda tersebut dianggap barang sakral.

"Paling banyak itu dimistiskan. Ada di atas gunung itu tugu triangulasi disadrankan karena dianggap kuburan. Ada juga diberi dupa hingga diberi sesajen sampai sekarang. Juga ada yang digunakan penamaan wilayah seperti tugu triangulasi menjadi wilayah Tanggulasi, lapangan Triangulasi termasuk puncak di Merbabu itu diberi nama puncak Triangulasi," pungkasnya.

Surya pun menegaskan dirinya akan terus menekuni hobi menjelajah dan mengulik sejarah yang telah ia tekuni sejak kecil tersebut.

(*)

Sumber: TribunSolo.com
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved