Waspada, Ini Ciri-Ciri Preeklampsia Berat pada Ibu Hamil yang Perlu Diketahui

Apa itu Preeklampsia Berat (Peb)? Ini penjelasan Dokter Spesialis Kandungan RS JIH Solo dr. Nuri Dyah Anggraini, Sp.OG.

|
Istimewa
Dokter Spesialis Kandungan RS JIH Solo dr. Nuri Dyah Anggraini, Sp.OG dan ilustrasi perempuan hamil 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Ahmad Syarifudin

TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Dokter Spesialis Kandungan RS JIH Solo dr. Nuri Dyah Anggraini, Sp.OG mengungkapkan Preeklampsia Berat (PEB) menjadi salah satu komplikasi yang perlu diwaspadai ibu hamil.

“Preeklampsia adalah komplikasi pada ibu hamil yang ditandai dengan peningkatan tekanan darah 140/90 atau lebih saat usia kehamilan lebih dari 20 minggu disertai dengan protein urin positif,” ungkapnya.

Preeklampsia salah satunya dipicu oleh plasenta janin yang tidak berkembang dengan baik. Sejumlah faktor resiko yang menyebabkan seorang ibu hamil mengalami preeklampsia berat yakni hamil usia ekstrim, yakni terlalu tua (di atas 40 tahun) atau terlalu muda (di bawah 20 tahun).

Selain itu, kondisi obesitas juga bisa memicu terjadinya preeklampsia. Penyebab lain seperti penyakit autoimun dan memiliki riwayat darah tinggi sebelum hamil juga bisa menyebabkan kondisi ini.

Baca juga: Beda Keputihan dan Ketuban Ibu Hamil, Dokter RS JIH Solo Sarankan Hindari Produk Pembersih Vagina

Tanda-tanda yang perlu diwaspadai saat seseorang mengalami preeklampsia yakni tekanan darah tinggi yaitu 140/90 atau lebih disertai bengkak di kaki. Jika mengalami kondisi ini, maka harus dicek kadar protein dalam urin. Jika kandungan protein positif, maka seseorang bisa didiagnosis sebagai preeklampsia.

Lalu tanda-tanda lain seperti nyeri kepala, mual muntah, nyeri ulu hati, hingga sesak juga patut diwaspadai. Jika kondisi ini tidak tertangani, bisa terjadi eklampsia yang ditandai dengan kejang.

dr. Nuri pun menyarankan ibu hamil yang memiliki faktor resiko ataupun tanda-tanda yang mengarah ke preeklampsia untuk secara intens melakukan pemeriksaan kehamilan di tiap trimester secara teratur. Dengan demikian dokter bisa melakukan langkah antisipasi secara tepat.

“Harus kontrol teratur. Trimester 1, 2, dan 3 harus rutin. Kita bisa berikan antisipasi salah satunya pemberian aspilet dosis rendah untuk mencegah preeklampsia, atau obat penurun tensi dan pencegah kejang” terangnya. (*)

Sumber: TribunSolo.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved