Stigma Solo sebagai Sarang Teroris
Sejarah Panjang Kota Solo, Jadi Pusat Pergerakan Islam Hingga Terstigma Sarang Teroris
Kota Solo ternyata memiliki sejarah panjang. Tak hanya menjadi pusat pergerakan Islam, tapi melekat pula stigma bahwa kota itu menjadi sarang teroris
Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Vincentius Jyestha Candraditya
Laporan Wartawan TribunSolo.com, Ahmad Syarifudin
TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Kota Solo memiliki sejarah panjang menjadi pusat pergerakan Islam.
Seorang praktisi hukum, Awod mengungkapkan bagaimana pondok pesantren tertua Jamsaren dan Mambaul Ulum yang terlibat perang melawan Belanda bersama Pangeran Diponegoro bermarkas di Solo.
“Kalau pondok pesantren kan Jamsaren. Pondok nomor 5 tertua di Indonesia. Memunculkan mambaul ulum sampai ke Ngruki, Gontor kemana-mana,” ungkapnya.
Pendiri Jemaah Islamiyah (JI) Abdullah Sungkar merupakan orang asli Solo.
Orang-orang yang terlibat dalam kelompok ini hingga kini terus diburu oleh Densus 88 Antiteror.
“Banyak kelompok di Solo. Tidak hanya kelompok agama, kelompok apa pun di sini banyak. Tidak dipungkiri keberadaan ustadz-ustadz, seperti Ustadz Abdullah Sungkar dan murid-muridnya,” terang Awud.
Setelah Bom Bali 1 tahun 2002, dalam kurun waktu sekitar satu tahun puluhan orang ditangkap di Solo dan sekitarnya lantaran dianggap terlibat dalam aksi teror.
Lalu terbentuklah Undang-Undang Nomor 15 tahun 2003 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme.
“Di Soloraya waktu awal sebelum ada UU ada 59 tertangkap dengan background masing-masing. Lakinya ditangkap meninggalkan anak istri itu yang kami urusi. Setelah peristiwa Bom Bali I. Tidak lama setelah reformasi,” ungkapnya.
Baca juga: Budaya Keplek Ilat Jadi Alasan Kuliner Non-Halal Menjamur di Solo Jateng, Padahal Mayoritas Muslim
Maka tidak heran stigma sarang teroris terus melekat di Kota Solo. Sebagai sebuah kota dengan basis pergerakan islam mengakar kuat, beragam ideologi bertumbuh.
Tidak hanya pelaku-pelaku ekstrimis yang ingin mengambil alih negara dengan bom bunuh diri.
Banyak pula kelompok yang sama-sama menegakkan syariat islam namun dengan cara lain.
Beberapa di antaranya laskar-laskar yang memberantas sarang judi dan minuman keras dengan cara mereka sendiri.
Di tengah ketidakpercayaan pada aparat penegak hukum, mereka menyatroni tempat-tempat tersebut dan ternyata cukup efektif menimbulkan efek jera.
| Eks Napiter Temukan Banyak Kejanggalan dari Penangkapan Kasus Bom Bunuh Diri di Mapolresta Solo |
|
|---|
| Kisah Eks Terpidana Teroris di Solo Jateng Dapat Pencerahan Saat Lihat Kebengisan Sesama Tahanan |
|
|---|
| Ragam Sumber Diskriminasi yang Dialami Eks Napiter Hingga Terduga Teroris, Ada Lembaga Negara |
|
|---|
| Pendampingan Hukum Disebut Tak Memadai Bagi Terduga Teroris, Stigma Buat Jauh dari Rasa Keadilan |
|
|---|
| Pakar Minta Waspadai Penegakan Hukum Problematis soal Terduga Teroris, Bisa Timbulkan Bibit Baru |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/solo/foto/bank/originals/patung-slamet-riyadi-solo-1.jpg)