Stigma Solo sebagai Sarang Teroris
Sejarah Panjang Kota Solo, Jadi Pusat Pergerakan Islam Hingga Terstigma Sarang Teroris
Kota Solo ternyata memiliki sejarah panjang. Tak hanya menjadi pusat pergerakan Islam, tapi melekat pula stigma bahwa kota itu menjadi sarang teroris
Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Vincentius Jyestha Candraditya
Humas Dewan Syariah Kota Surakarta, Endro Sudarsono bercerita bagaimana kelompok ini membuat tempat-tempat yang dianggap sarang maksiat yang sebelumnya terang-terangan kini sudah hampir tak bersisa.
Laskar semacam ini marak pasca-reformasi saat kebebasan dijunjung tinggi.
Seperti telah diketahui, Orde Baru menganut Pancasila sebagai asas tunggal. Dengan demikian pemahaman lain termasuk penegakan syariat akan dianggap subversif.
Tumbangnya rezim Orde Baru membuat kelompok-kelompok ini mulai muncul ke permukaan tanpa khawatir ditangkap oleh rezim.
“Harus diakui peran laskar berdampak positif. Pringgolayan ke timur, Pasar Kliwon, sampai ke Kartasura judi terang-terangan. Mabuk terang-terangan. Setelah adanya laskar sekarang hampir tidak ada yang terang-terangan. Itu pasca-reformasi 1998 ada kebebasan laskar ormas,” tutur Endro.
| Eks Napiter Temukan Banyak Kejanggalan dari Penangkapan Kasus Bom Bunuh Diri di Mapolresta Solo |
|
|---|
| Kisah Eks Terpidana Teroris di Solo Jateng Dapat Pencerahan Saat Lihat Kebengisan Sesama Tahanan |
|
|---|
| Ragam Sumber Diskriminasi yang Dialami Eks Napiter Hingga Terduga Teroris, Ada Lembaga Negara |
|
|---|
| Pendampingan Hukum Disebut Tak Memadai Bagi Terduga Teroris, Stigma Buat Jauh dari Rasa Keadilan |
|
|---|
| Pakar Minta Waspadai Penegakan Hukum Problematis soal Terduga Teroris, Bisa Timbulkan Bibit Baru |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/solo/foto/bank/originals/patung-slamet-riyadi-solo-1.jpg)