Stigma Solo sebagai Sarang Teroris

Sejarah Panjang Kota Solo, Jadi Pusat Pergerakan Islam Hingga Terstigma Sarang Teroris

Kota Solo ternyata memiliki sejarah panjang. Tak hanya menjadi pusat pergerakan Islam, tapi melekat pula stigma bahwa kota itu menjadi sarang teroris

TribunSolo.com
Ikon Kota Solo, patung Slamet Riyadi yang berada di kawasan Gladag, Jalan Slamet Riyadi. 

Humas Dewan Syariah Kota Surakarta, Endro Sudarsono bercerita bagaimana kelompok ini membuat tempat-tempat yang dianggap sarang maksiat yang sebelumnya terang-terangan kini sudah hampir tak bersisa.

Laskar semacam ini marak pasca-reformasi saat kebebasan dijunjung tinggi.

Seperti telah diketahui, Orde Baru menganut Pancasila sebagai asas tunggal. Dengan demikian pemahaman lain termasuk penegakan syariat akan dianggap subversif.

Tumbangnya rezim Orde Baru membuat kelompok-kelompok ini mulai muncul ke permukaan tanpa khawatir ditangkap oleh rezim.

“Harus diakui peran laskar berdampak positif. Pringgolayan ke timur, Pasar Kliwon, sampai ke Kartasura judi terang-terangan. Mabuk terang-terangan. Setelah adanya laskar sekarang hampir tidak ada yang terang-terangan. Itu pasca-reformasi 1998 ada kebebasan laskar ormas,” tutur Endro.

Sumber: TribunSolo.com
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved