Pasar Gede: Episentrum Akulturasi Budaya Tionghoa dan Jawa di Surakarta

Pasar Gedhe selain menjadi pusat perekonomian warga Solo, juga menjadi pusat budaya.

Tayang: | Diperbarui:
Yustia A. Adi
Suasana Pasar Gede Solo, sudah dipasangi lampion. Rabu (22/1/2025) 

TRIBUNSOLO.COM, SOLO -  Kehadiran Pasar Gede sebagai pusat perekonomian di kota Solo tidak terlepas dari Sejarah kedatangan orang-orang Tionghoa di Surakarta.

Kali Pepe yang terletak tidak jauh dari Pasar Gede menjadi saksi bisu kedatangan mereka.

Selain itu Kelenteng Tien Kok Sie yang terletak di sebelah Selatan Pasar Gede merupakan bukti keharmonisan hubungan antara orang tionghoa dan Keraton Kasunan Surakarta karena Klenteng ini merupakan pemberian keraton. 

Pasar Gede yang telah lama menjadi simbol perjumpaan budaya di Kota Surakarta tidak hanya  sebagai pusat perdagangan akan tetapi kawasan ini juga menjadi sebuah arena dari proses akulturasi budaya Tionghoa dan Jawa yang telah berlangsung secara alamiah selama ratusan tahun.

Pasar Gede selain menjadi pusat perekonomian warga Solo, juga menjadi pusat budaya.

Pasar Gede selama bertahun-tahun menjadi lokasi Perayaan Tahun Baru Imlek

Perayaan Imlek ini memiliki ciri khas yaitu diselenggarakannya festival Grebeg Sudiro. Festival ini merupakan salah satu bukti bahwa Solo telah menjadi ruang interaksi budaya yang harmonis.

Namun, di balik kemeriahan perayaan Imlek ini, Surakarta menyimpan sejarah panjang yang diwarnai dengan dinamika sosial, ketegangan antar etnis, serta upaya rekonsiliasi yang patut menjadi refleksi bersama.

Surakarta, sebagai kota budaya dan perdagangan, telah menjadi rumah bagi komunitas Tionghoa sejak era kolonial. Keberadaan mereka diakui dan diatur oleh Keraton Kasunanan Surakarta, yang pada masa lalu memberikan ruang khusus bagi komunitas ini untuk berkontribusi dalam perekonomian kota.

Pada abad ke-19, banyak warga Tionghoa yang berprofesi sebagai pedagang, mereka kemudian hidup membaur dengan orang Jawa dalam kehidupan sehari-hari.

Namun, hubungan antar etnis Tionghoa dan orang Jawa tidak selalu berjalan mulus. Ketimpangan ekonomi dan stereotip sosial menjadi pemicu utama ketegangan di kota ini kerap terjadi secara berulang dalam sejarah.

Ketegangan ini memuncak pada Mei 1998, ketika krisis ekonomi dan politik memicu kerusuhan besar di berbagai kota di Indonesia, termasuk Surakarta.

Berdasarkan catatan Komnas HAM, kerusuhan yang terjadi di Solo pada 14 Mei 1998 menyebabkan lebih dari 200 bangunan milik warga keturunan Tionghoa dibakar dan dijarah dan Pasar Gede menjadi salah satu sasaran utama, di mana toko-toko dihancurkan dan aktivitas ekonomi terhenti seketika.

Berbagai peristiwa Sejarah kerusuhan ini meninggalkan trauma yang mendalam bagi warga Solo, terutama etnis Tionghoa yang selama bertahun-tahun hidup dalam bayang-bayang ketakutan dan ketidakpastian.

Namun, seiring berjalannya waktu, masyarakat Solo menunjukkan ketangguhan dan semangat rekonsiliasi yang luar biasa.

Sumber: TribunSolo.com
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved