Opini

Mengubah Skeptisme menjadi Kepercayaan: Servant Leadership ala Sherly Tjoanda Taklukkan Rakyat Malut

Di antara gemuruh nikel dan bisik kecurigaan, Sherly Tjoanda turun seperti embun pagi lembut menyentuh luka Pulau Obi,

Tayang: | Diperbarui:
Tangkap Layar Instagram Sherly Tjoanda
Mengubah Skeptisme menjadi Kepercayaan: Servant Leadership ala Sherly Tjoanda Taklukkan Hati Rakyat Maluku Utara - Ditulis oleh Anindita Revana dan Zalfa Naifatu Iffah. Mahasiswa Jurusan Administrasi Negara, Fakultas Ilmu Administrasi, Universitas Indonesia 

Penulis: Anindita Revana dan Zalfa Naifatu Iffah.
Mahasiswa Jurusan Administrasi Negara, Fakultas Ilmu Administrasi, Universitas Indonesia 

TRIBUNSOLO.COM - Di antara gemuruh nikel dan bisik kecurigaan, Sherly Tjoanda turun seperti embun pagi lembut menyentuh luka Pulau Obi, meruntuhkan tembok skeptis dengan pelayanan tulus yang berbisik, “aku ibumu”.

Ketika warga Pulau Obi memandang curiga bayang-bayang tambang keluarga Laos, Sherly Tjoanda turun tangan langsung dengan servant leadership tulus yang mengubah skeptisme menjadi kepercayaan melalui empati dan pelayanan otentik sebagai "ibu provinsi". 

Gubernur perempuan pertama Maluku Utara sejak dilantik Februari 2025 ini menghadapi ujian berat di Pulau Obi, pusat pertambangan nikel yang diterpa konflik kriminalisasi aktivis lingkungan, kerusakan ekologi, dan tuduhan konflik kepentingan keluarga suaminya, Benny Laos, yang tewas tragis pada 2024.

Pulau Obi bukan sekadar titik koordinat peta di Pulau Maluku Utara medan perang sosial ekonomi dimana nikel mendominasi, tetapi juga memicu ketegangan. 

Pasca Sherly Tjoanda naik tahta menggantikan Benny Laos, warga setempat awalnya skeptis.

Tuduhan yang menggantung: Apakah Gubernur baru ini sekadar pewaris dinasti tambang atau benar - benar pelayan rakyat?

Latar belakang dan Motivasi Sherly

Beberapa bulan terakhir, sosok Sherly Tjoanda, Gubernur perempuan pertama di Maluku Utara, menjadi sorotan publik. 

Keberadaannya menarik perhatian karena provinsi ini dikenal memiliki budaya patriarki yang cukup kuat.

 Sherly Tjoanda sendiri resmi menjabat sebagai Gubernur Maluku Utara untuk periode 2025–2030.  

Kemenangan beliau menjadi Gubernur menyita perhatian publik. Tidak hanya karena Ia perempuan, tetapi juga karena Ia membawa identitas yang tidak umum bagi dunia politik Maluku Utara: berlatar etnis Tionghoa, non-Muslim, dan memiliki rekam jejak bisnis di sektor pertambangan. 

Meski, bukan berasal dari latar belakang politik yang kuat, kehidupannya seketika mulai berubah. 

Hal tersebut dimulai ketika suaminya, yaitu Benny Laos yang merupakan Bupati Morotai ini meninggal dunia dalam kecelakaan speedboat di Taliabu Barat. 

Setelah kepergian suaminya, Sherly Tjoanda sempat menolak permintaan partai politik untuk maju di Pilkada, tetapi kemudian ia memutuskan untuk melanjutkan perjuangan suaminya.

Perjuangan Sherly Menerapkan Servant Leadership

Sumber: TribunSolo.com
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved