Asal Usul Solo
Kenapa Surakarta Bisa Disebut Solo? Begini Asal-usulnya
Bahkan mungkin banyak yang mengira Surakarta dan Solo adalah dua kota yang berbeda.
Penulis: Tribun Network | Editor: Hanang Yuwono
TRIBUNSOLO.COM - Kenapa Surakarta bisa disebut dengan nama Solo?
Pertanyaan ini mungkin bakal melintas di benak masyarakat luas.
Bahkan mungkin banyak yang mengira Surakarta dan Solo adalah dua kota yang berbeda.
Baca juga: Di Solo, Jokowi Jawab Klaim PDIP Soal Utusan Agar Tak Dipecat : Saya Difitnah Diam Tapi Ada Batasnya
Lantas bagaimana sejarahnya Surakarta bisa disebut Solo?
Melansir Kompas.com, Kota Surakarta lahir dari pemindahan pusat pemerintahan Kerajaan Mataram Islam.
Di masa pemerintahan Amangkurat II, pusat pemerintahan dipindahkan ke Kartasura akibat pemberontakan yang dipimpin oleh Trunojoyo.
Namun, setelah peristiwa Geger Pecinan pada 1743 yang menghancurkan Keraton Kartasura.
Baca juga: Profil Vicky Prasetyo, Artis yang Bertemu Jokowi Secara Tertutup di Solo, Nama Aslinya Hendrianto
Peristiwa tersebut dipicu oleh pemberontakan etnis Tionghoa lantaran Pakubuwono II, yang kala itu memimpin Keraton Kartasura, dinilai berpihak kepada Belanda.
Karena Keraton Kartasura hancur, Pakubuwono II memerintahkan pemindahan keraton dari Kartasura ke Desa Sala. Desa Sala dipilih karena beberapa faktor, utamanya karena posisinya yang dekat dengan Sungai Bengawan Solo.
Lokasi ini dipilih atas pertimbangan strategis dan geografis.
Secara resmi, Keraton Surakarta mulai ditempati pada 17 Februari 1745, meskipun pembangunannya belum selesai sepenuhnya.
"Pakubuwono menganggap kerajaan di Kartasura sudah tidak bertuah, sehingga kemudian dipindahkan ke arah timur yaitu di pinggir (sungai) Bengawan Solo," ujar pengamat budaya Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Prof. Dr. Bani Sudardi, dikutip dari Kompas.com (9/11/2022).
Seiring waktu, Desa Sala berkembang menjadi sebuah kota besar dan dikenal dengan nama Surakarta Hadiningrat.
Asal Usul Bisa Disebut Solo
Nama Solo ternyata berakar dari Desa Sala.
Seperti dijelaskan oleh Dekan Fakultas Ilmu Budaya UNS, Prof. Warto, "Pada awalnya nama yang benar adalah Sala. Itu nama yang punya sejarah panjang. Jadi, Kota Solo yang sekarang kita kenal itu awalnya dari sebuah perpindahan kerajaan dari Kartasura ke Surakarta (Desa Sala) tahun 1745."
Baca juga: Fakta Menarik tentang Selat, Kuliner Khas Solo yang Rasanya Manis Segar : Ada Sejak Zaman Penjajahan
Namun, ketika orang-orang Eropa datang, mereka kesulitan mengucapkan "Sala" dengan tepat. Pelafalan pun bergeser, dari "Sala" menjadi "Solo".
"Orang Belanda susah menyebut Sala, sehingga berubah menjadi Solo," tambah Prof. Warto.
Dalam aksara Jawa, perbedaan antara huruf "a" dan "o" memang signifikan.
"Kalau Sala ditulis dengan huruf Jawa nglegena atau telanjang. Kalau di-taling-tarung jadi ‘o’ makanya So–lo gitu," jelasnya lebih lanjut.
Sejak saat itu, nama Solo lebih banyak digunakan dalam percakapan sehari-hari dan semakin populer hingga saat ini.
Nama Resmi
Namun, perlu dicatat jika nama resmi kota ini adalah Surakarta.
"Nama resmi untuk pemerintahan adalah Surakarta, itu resminya yaitu Kotamadya Surakarta," ujar Prof. Bani Sudardi.
Nama Surakarta sendiri memiliki makna filosofis. Kata "sura" berarti keberanian, sementara "karta" berarti sempurna atau penuh.
Nama ini juga bisa diartikan sebagai lanjutan dari Kartasura, sebagai bentuk kesinambungan monarki dari Kerajaan Mataram Islam.
Laman resmi DPRD Kota Surakarta pun menegaskan bahwa dalam konteks formal dan administrasi pemerintahan, nama yang digunakan adalah Surakarta.
Sebaliknya, dalam percakapan umum, masyarakat lebih sering menggunakan Solo.
Kesimpulan: Tiga Nama, Satu Kota
Jadi, apa bedanya Sala, Solo, dan Surakarta? Singkatnya:
- Sala adalah nama asli desa tempat Keraton Surakarta dibangun.
- Solo adalah pengucapan yang lebih populer, terutama setelah pengaruh kolonial Belanda.
- Surakarta adalah nama resmi yang digunakan dalam administrasi pemerintahan.
Meski memiliki nama yang berbeda, ketiganya merujuk pada tempat yang sama: sebuah kota budaya yang kaya akan sejarah dan tradisi, yang hingga kini tetap dikenal sebagai salah satu pusat kebudayaan Jawa di Indonesia.
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul : Sejarah Kenapa Surakarta Disebut Solo
| Prediksi Skor Arema Vs Persis Solo Menurut 3 Mesin AI : Arema Diunggulkan, tapi Persis Punya Peluang |
|
|---|
| Arema FC Vs Persis Solo : Milomir Seslija Waspadai Kekuatan Arema FC yang Dominan Head to Head |
|
|---|
| Jadwal KRL Solo-Jogja Sabtu 18 April 2026: Lengkap dari Stasiun Palur hingga Stasiun Tugu Yogyakarta |
|
|---|
| Jadwal Keberangkatan Kloter Pertama JCH Embarkasi Solo, 22 April 2026 |
|
|---|
| 29.121 Jemaah Calon Haji 2026 Bakal Diberangkatkan Lewat Embarkasi Solo |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/solo/foto/bank/originals/patung-slamet-riyadi.jpg)