Klaten Bersinar
Selamat Datang di Klaten Bersinar

Mitos di Wonogiri

Kisah Masjid Tiban Pracimantoro Wonogiri Berusia 400 Tahun, Simpan Kitab Kuno yang Tak Boleh Difoto

Masjid ini konon katanya menjadi salah satu titik awal penyebaran agama Islam di masa lampau. 

Penulis: Erlangga Bima Sakti | Editor: Hanang Yuwono
TribunSolo.com/Erlangga Bima Sakti
MASJID KUNO WONOGIRI - Masjid Tiban Gunung Cilik, sekarang dikenal menjadi Masjid Sabiilul Mutttqin itu terletak di Dusun Pakem, Desa Sumberagung, Pracimantoro, yang berbatasan dengan Kabupaten Gunung Kidul, April 2023 lalu. Masjid ini simpan kitab kuno yang dilarang untuk difoto. (TribunSolo.com/Erlangga Bima Sakti) 

TRIBUNSOLO.COM, WONOGIRI - Ada sebuah kisah panjang dan penuh dengan misteri di sebuah masjid di pedalaman Kecamatan Pracimantoro, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah.

Masjid ini konon katanya menjadi salah satu titik awal penyebaran agama Islam di masa lampau. 

Masjid tersebut pun dimanakan Masjid Tiban Gunung Cilik.

Baca juga: Nahas, Rumah di Boyolali Tertimpa Talut Masjid yang Longsor, Tembok Jebol Tak Bisa Dihuni

Lokasinya ada di sebuah bukit kecil yang sedikit lebih tinggi dari dataran di sekitarnya sehingga disebut sebagai Masjid Gunung Cilik.

Masjid yang sekarang dikenal menjadi Masjid Sabiilul Mutttqin itu terletak di Dusun Pakem, Desa Sumberagung, Pracimantoro. Desa ini ada di perbatasan Wonogiri-Gunungkidul.

Takmir Masjid Sabiilul Muttaqin, Sutomo menjelaskan, masjid itu diyakini sudah ada sejak 400 tahun lalu. Kala itu, baru terdapat delapan rumah yang ada di sekitarnya.

"Suatu saat warga itu melihat langgar yang berada di puncak Gunung Cilik. Setelah didatangi ternyata benar ada masjid. Tiba-tiba ada padahal tidak merasa membangun," kata Sutomo menceritakan kisah turun temurun itu.

Baca juga: 4 Masjid di Solo yang Sediakan Takjil Gratis Selama Ramadhan 2025, Bisa Sekalian Wisata Religi

Saat itu bangunan masjid terbuat dari kayu dan menggunakan ijuk sebagai atap.

Namun, tidak ada catatan sejarah yang menggambarkan seperti apa bentuk masjid, tapi diyakini berbentuk joglo atau limasan.

Masjid tiban itu lantas dibersihkan dan digunakan untuk tempat beribadah warga.

Bahkan ketika salat Jumat banyak tokoh dari berbagai daerah yang datang.

Baca juga: Bupati Hamenang Tarling di Masjid Asy Syafaah Bersejarah di Klaten, Upayakan Perbaikan Fasilitas!

seiring berjalannya waktu, masjid tersebut termakan usia sehingga rusak.

Warga tak berani memperbaiki, hanya saja warga berusaha menyelamatkan kayu masjid.

"Saat mau mengambil blandar ditemukan kitab kecil, tulisannya arab di atas kayu. Buku itu sudah bertahun-tahun kena panas hujan tidak apa-apa, masih aman dan bisa dibaca," jelas Tomo.

Berdasarkan cerita turun-temurun, bongkaran kayu itu hendak dibawa ke Pracimantoro.

Halaman
12
Sumber: TribunSolo.com
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved