Mitos di Wonogiri
Kisah Masjid Tiban Pracimantoro Wonogiri Berusia 400 Tahun, Simpan Kitab Kuno yang Tak Boleh Difoto
Masjid ini konon katanya menjadi salah satu titik awal penyebaran agama Islam di masa lampau.
Penulis: Erlangga Bima Sakti | Editor: Hanang Yuwono
Namun rencana itu gagal karena tak ada yang berani membawa kayu tersebut, mengingat bangunan itu masjid tiban.
Baca juga: 3 Tahun Mangkrak, Proyek Masjid Sriwedari Solo Masih Butuh Anggaran Rp 26 Miliar untuk Tuntas
"Akhirnya kayu itu ditaruh di pekarangan. Di utara masjid ini, sekitar 300 meter dari sini. Kayu-kayu itu ditaruh dan pinggirnya dibuat galengan. Sehingga lama kelamaan tertutup tanah," imbuh Tomo.
Selanjutnya setelah masjid tiban dibongkar, warga membuat masjid baru namun tak di lokasi masjid tiban itu.
Barulah pada tahun 2012, warga membangun kembali masjid di lokasi masjid tiban atau di Gunung Cilik itu.
"Awalnya juga tidak berani bangun di Gunung Cilik. Kan sini menjadi belantara, banyak kayu besar dan hewan. Mau bangun juga maju-mundur jadi atau enggak. Karena kan juga masih dianggap kramat bekas masjid tiban," ujarnya.
Di masa sekarang, Masjid tersebut diberi nama Sabilul Musttaqin.
Baca juga: 5 Masjid di Solo Jateng untuk Ngabuburit Ramadhan, Punya Desain Unik dan Bersejarah
Ukuran masjid lebih besar dari masjid tiban namun di lokasi yang sama, yakni puncak bukit atau gunung cilik.
"Ya sekarang namanya Masjid Sabiilul Muttaqin nama masjidnya. Tapi masih dikenal sebagai Masjid Gunung Cilik," katanya.
Tentang kitab kecil yang ditemukannya, sekira 1989-1990, Sutomo diberi kepercayaan pakdenya untuk menyimpan kitab itu.
Dia mengaku membawa kitab itu selama 6 tahun. Hingga akhirnya kitab itu disimpan di masjid atas permintaan para sesepuh desa.
Ada dua kitab kuno yang tersimpan di masjid itu. Kedua kitab berwarna kuning itu bertuliskan arab.
Kitab itu terbuat dari kulit hewan dan ditulis menggunakan tangan.
Isi kitab itu tulisan Al Qur'an, bacaan tahlil dan mujaroba. Sebab ada beberapa simbol bertuliskan aksara Arab.
"Kitab ini tidak boleh difoto, kalau dipelajari, dibaca boleh saja. Tapi tidak bisa difoto," jelasnya.
(TribunSolo/Erlangga Bima Sakti)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.