Klaten Bersinar
Selamat Datang di Klaten Bersinar

Sejarah Kuliner Legendaris

Sejarah Molen Pisang Tawangmangu Karanganyar, dari Sekaten Tahun 1984 Kini Jadi Oleh-oleh Khas

Namun tahukah Tribuners? Molen pisang ini punya sejarah panjang lho sebelum menjadi oleh-oleh khas Tawangmangu.

Penulis: Tribun Network | Editor: Hanang Yuwono
TribunSolo.com/Fristin Intan
KULINER LEGENDARIS TAWANGMANGU - Molen pisang khas Tawangmangu, Karanganyar, Jateng, 2018 lalu. Begini sejarahnya molen pisang jadi kuliner khas Tawangmangu. 

TRIBUNSOLO.COM, KARANGANYAR - Wisata ke Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, rasanya belum lengkap tanpa mencicipi molen pisang.

Molen pisang kini sudah menjelma menjadi oleh-oleh khas Tawangmangu yang recommended.

Gurih renyah kulitnya, manis legit isinya—camilan ini kini sudah menjadi ikon kuliner kawasan wisata pegunungan yang sejuk tersebut. 

Baca juga: Sejarah Tempe Alakatak, Kuliner Khas nan Langka dari Weru Sukoharjo, Diyakini Sudah Ada Sejak 1900an

Namun tahukah Tribuners? Molen pisang ini punya sejarah panjang lho sebelum menjadi oleh-oleh khas Tawangmangu.

Dari Sekaten Solo ke Tawangmangu

Molen pisang khas Tawangmangu pertama kali diperkenalkan oleh Jiman Hadimartono atau yang akrab disapa Pak Man, pada tahun 1984.

Inspirasi datang tak terduga—saat berwisata bersama keluarga ke acara Sekaten di Alun-Alun Utara Surakarta.

Warsidi, penjual molen dan gorengan di Kawasan Pasar Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, saat ditemui Sabtu (26/2/2022).
KULINER KHAS TAWANGMANGU - Warsidi, penjual molen dan gorengan di Kawasan Pasar Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, saat ditemui Sabtu (26/2/2022). (TribunSolo.com/Septiana Ayu Lestari)

Di sana, Pak Man menjajal molen pisang khas Solo dan mulai terpikir untuk menghadirkan camilan serupa di kampung halamannya, Tawangmangu.

Baca juga: Sejarah Rumah Teh Ndoro Donker, Tempat Ngeteh Legendaris di Karanganyar, Kental Nuansa Belanda

Saat itu, kawasan wisata Tawangmangu belum memiliki camilan khas yang menonjol.

Melihat peluang tersebut, Pak Man mulai bereksperimen.

Tak sekadar meniru, ia berinovasi: mengganti pisang Kepok yang umum digunakan di Solo dengan pisang Bawen, varietas lokal dari Tawangmangu.

Pisang ini dikenal lebih empuk dan manis, berbeda dari pisang Kepok yang cenderung sepat dan alot.

Langkah awal Pak Man dimulai dari gerobak kecil di timur Terminal Tawangmangu.

Baca juga: Sejarah Bakpia Balong, Bakpia Khas Solo yang Melegenda Sejak 1960an, Resep dari Tiongkok

Tak butuh waktu lama, molen pisangnya langsung menarik perhatian, terutama dari para wisatawan yang berkunjung ke Grojogan Sewu—salah satu destinasi andalan Tawangmangu.

Seiring berjalannya waktu, camilan ini kian populer.

Halaman
12
Sumber: TribunSolo.com
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved