Sejarah Kuliner Legendaris
Sejarah Wedang Dongo Keprabon, Kuliner Tradisional Khas Solo yang Eksis Sejak 1963
Saat ini, Kedai Wedang Dongo Keprabon kini dikelola oleh generasi ketiga yang masih setia menjaga cita rasa asli dari sang leluhur.
Penulis: Tribun Network | Editor: Hanang Yuwono
TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Ada banyak minuman tradisional khas Solo, Jawa Tengah, yang legendaris.
Salah satunya adalah Wedang Dongo.
Mungkin minuman satu ini masih asing bagi orang di luar Kota Solo.
Baca juga: Sejarah Bebek Goreng Pak Pinggir, Kuliner Legendaris Boyolali, Dirintis Sopir yang Doyan Kulineran
Namun namanya sudah melegenda sejak 1963.
Tribuners bisa mencicipi Wedang Dongo Keprabon yang berlokasi di Jalan Teuku Umar No.19, Keprabon, Kec. Banjarsari, Kota Surakarta, Jawa Tengah 57131.
Sejarah Wedang Dongo Keprabon
Wedang Dongo Keprabon ini berdiri sejak tahun 1963.
Kedai kuliner satu ini tak hanya mempertahankan resep turun-temurun, tetapi juga mampu menjawab selera zaman, menjadikannya tetap relevan hingga kini.
Saat ini, Kedai Wedang Dongo Keprabon kini dikelola oleh generasi ketiga yang masih setia menjaga cita rasa asli dari sang leluhur.
Baca juga: Sejarah Lentho, Kuliner Tradisional dari Boyolali, Dulu Makanan Pengganjal Perut saat Penjajahan
Menu andalan mereka adalah wedang dongo dan wedang kacang putih, dua minuman tradisional khas Solo yang identik dengan kehangatan dan kelezatan.
Mungkin yang berubah cuma cara masaknya—dulu pakai arang, sekarang pakai kompor gas.
Meski demikian, dijamin rasanya tetap sama.
Kuliner Penuh Filosofi
Wedang Dongo bukan sekadar minuman, tetapi juga sarat makna.
Dalam budaya Tionghoa, "dongo" memiliki arti doa.
Tradisi membawa tujuh butir mochi saat berdoa dipercaya dapat mendatangkan keberuntungan.
Inspirasi inilah yang tercermin dalam setiap porsi Wedang Dongo—terdiri dari kacang, kolang-kaling, dan bulatan ketan berisi kacang halus yang menyerupai ronde.
Baca juga: Sejarah Molen Pisang Tawangmangu Karanganyar, dari Sekaten Tahun 1984 Kini Jadi Oleh-oleh Khas
Yang membedakan Wedang Dongo dari wedang ronde terletak pada kuahnya yang lebih pekat dan bercita rasa jahe yang lebih kuat, memberikan sensasi hangat yang sempurna, terutama dinikmati di malam hari.
Dulunya, minuman ini bahkan dipercaya hanya disajikan untuk keluarga kerajaan.
Meskipun wedangan identik dengan generasi yang lebih tua, kini minuman seperti wedang dongo mulai menarik perhatian anak muda.
Kini banyak pengunjung muda yang datang, bahkan lebih memilih wedang dongo ketimbang kopi.
Dengan konsep yang lebih kekinian, kini Wedang Dongo Keprabon hadir dalam bentuk kafe di Jl. Teuku Umar No.19, Keprabon, Banjarsari, Solo, namun tetap mempertahankan tenda klasik di dekat Toko Atlas, Jl. Teuku Umar No.1.
Kedua lokasi ini tetap menjadi magnet bagi para penikmat kuliner tradisional Solo.
Selain minuman tradisional, Warung Dongo Keprabon juga menjual makanan kekinian seperti nasi goreng, olahan gurame, roti bakar, dan banyak menu lezat lainnya.
Wedang Dongo Keprabon buka dari pukul 10.00 WIB hingga 23.00 WIB setiap hari.
(*)
| Fakta Menarik Tongseng : Bukan Kuliner Asli Solo, Justru Penjual Pertamanya Warga Klego Boyolali |
|
|---|
| Cerita Panjang Kenapa Orang Solo Raya Gemar Sarapan Pakai Bubur Ayam, Tradisi dari Tiongkok |
|
|---|
| Sejarah Sego Berkat, dari Hidangan Hajatan Menjelma jadi Kuliner Khas Wonogiri |
|
|---|
| Ini Lho Asal-usul Mie Ayam Bisa Jadi Kuliner Populer di Solo Raya, Konon Berasal dari Tiongkok |
|
|---|
| Ini Lho Sejarah Pecel Bisa jadi Menu Sarapan Warga Solo Raya, Kuliner yang Sudah Ada Sejak Abad ke-9 |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/solo/foto/bank/originals/Kedai-Wedang-Dongo-Keprabon-yang-berlokasi-di-Jalan-Teuku-Umar.jpg)