Sejarah Kuliner Legendaris

Sejarah Geti Wijen, Cemilan Legendaris Wonogiri yang Terkenal Sejak 1950an

Geti wijen adalah camilan manis, gurih, dan sedikit pedas dari jahe yang berpadu dengan tekstur renyah namun sedikit lengket khas dari Wonogiri.

Tayang:
Penulis: Tribun Network | Editor: Hanang Yuwono
Tribunsolo.com/Erlangga Bima Sakti
KULINER LEGEND WONOGIRI - Geti wijen, makanan khas Wonogiri, Jawa Tengah, beberapa waktu lalu. Beginilah sejarah Geti Wijen. 

TRIBUNSOLO.COM, WONOGIRI - Apabila berkunjung ke Wonogiri, Jawa Tengah, ada beberapa cemilan khas yang bisa dijadikan olej-oleh.

Salah satunya adalah geti wijen.

Geti wijen adalah camilan tradisional yang menawarkan perpaduan rasa manis, gurih, dan sedikit pedas dari jahe yang berpadu dengan tekstur renyah namun sedikit lengket.

Baca juga: Sejarah Petolo Mayang di Depan Pura Mangkunegaran Solo : Bertahan 3 Generasi, Resep dari Jawa Timur

Hal itu menciptakan sensasi unik yang “digeget kroso ning ati” (digigit terasa di hati), seperti makna dari istilah “geti” dalam bahasa Jawa.

Sejarah dan Asal-Usul Geti

Geti sudah lama dikenal dan dikonsumsi masyarakat Wonogiri, namun baru mulai diproduksi secara massal sebagai industri rumahan sekitar tahun 1950-an.

Sejak saat itu, camilan ini mulai dipasarkan ke berbagai daerah di luar Wonogiri dan kini bisa ditemukan juga di beberapa wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Meski demikian, geti khas Wonogiri memiliki keunikan tersendiri, terutama dari bahan dasarnya.

Baca juga: Sejarah Mie Ayam Gajah Mungkur yang Tersebar di Banyak Tempat, Wujud Solidaritas Pedagang Wonogiri

Berbeda dengan versi geti dari daerah lain yang menggunakan kacang tanah, geti Wonogiri dibuat dari wijen sebagai bahan utama, dicampur dengan gula jawa dan jahe.

Biji wijen sering kali hanya digunakan sebagai taburan atau pelengkap dalam berbagai makanan, namun di Wonogiri, biji kecil ini justru diangkat menjadi tokoh utama.

Tak hanya lezat, biji wijen juga memiliki kandungan gizi yang tinggi.

Wijen dikenal mengandung minyak nabati hingga 50 persen, jauh lebih tinggi dibandingkan kacang kedelai yang hanya sekitar 20 persen.

Minyak wijen juga kaya akan Omega-6 dan protein, menjadikan geti sebagai camilan tradisional yang tak hanya enak, tapi juga sehat.

Baca juga: Sejarah Thiwul Ayu Mbah Marto, Salah Satu Rekomendasi Oleh-oleh di Karanganyar Jateng Sejak 1979

Geti vs. Enting-Enting

Sekilas, bentuk geti mirip dengan enting-enting, camilan tradisional lain yang juga menggunakan gula dan biji-bijian.

Sumber: TribunSolo.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved