Kasus Investasi Koperasi BLN

Korban Dugaan Penipuan BLN Boyolali Menjerit : Harta Benda Habis, Kirim Surat Terbuka ke Prabowo

Para nasabah koperasi Bahana Lintas Nusantara (BLN) di Boyolali mengirimkan surat terbuka kepada Presiden Prabowo Subianto.

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Tri Widodo | Editor: Putradi Pamungkas
TribunSolo.com/ Andreas Chris
KANTOR BLN - Lokasi yang disebut-sebut kantor pusat Koperasi Bahana Lintas Nusantara (BLN) yang berada di jalan Ronggowarsito, Kota Solo, Kamis (5/6/2025). Koperasi Bahana Lintas Nusantara (BLN) menjadi sorotan usai puluhan nasabah atau anggotanya melakukan pelaporan dugaan penipuan di banyak kantor kepolisian termasuk Polresta Solo. 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Tri Widodo 

TRIBUNSOLO.COM, BOYOLALI - Para nasabah koperasi Bahana Lintas Nusantara (BLN) di Boyolali mengirimkan surat terbuka kepada Presiden Prabowo Subianto.

Mereka berharap Presiden turun tangan langsung menyelesaikan kasus dugaan penipuan investasi yang telah menjerat ribuan korban di berbagai daerah.

“Surat terbuka kami kirimkan via media sosial. Semoga pengaduan kami ke Pak Presiden membuat kasusnya cepat ditangani,” ujar Aris, salah satu perwakilan nasabah BLN, Jumat (12/9/2025).

BUKTI TRANSFER - Salah satu anggota koperasi Bahana Lintas Nusantara (BLN) menunjukan bukti transfer dirinya saat kepincut berinvestasi beberapa bulan lalu. ara nasabah koperasi Bahana Lintas Nusantara (BLN) di wilayah Boyolali kembali bersuara lantang. Mereka mengirimkan surat terbuka kepada Presiden Prabowo Subianto, berharap orang nomor satu di Indonesia itu turun tangan membantu penyelesaian kasus yang telah menjerat ribuan orang.
BUKTI TRANSFER - Salah satu anggota koperasi Bahana Lintas Nusantara (BLN) menunjukan bukti transfer dirinya saat kepincut berinvestasi beberapa bulan lalu. Para nasabah koperasi Bahana Lintas Nusantara (BLN) di wilayah Boyolali kembali bersuara lantang. Mereka mengirimkan surat terbuka kepada Presiden Prabowo Subianto, berharap orang nomor satu di Indonesia itu turun tangan membantu penyelesaian kasus yang telah menjerat ribuan orang. (Tribun Solo / Tri Widodo)

Langkah ini diambil setelah berbagai upaya sebelumnya belum membuahkan hasil.

Aris menyebut para nasabah telah menemui Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, untuk meminta perlindungan hukum. 

Namun, hingga kini belum ada tindak lanjut yang nyata.

Tak hanya itu, perwakilan korban juga mendatangi Polda Jawa Tengah untuk mempertanyakan perkembangan penanganan kasus.

Mereka ingin memastikan apakah laporan akan ditangani langsung oleh Polda atau tetap dilimpahkan ke masing-masing Polres.

Menurut Aris, kondisi para nasabah kini semakin memprihatinkan.

Banyak dari mereka adalah pensiunan yang mengandalkan dana pensiun untuk hidup sehari-hari.

“Ada 5 rumah milik nasabah sudah dipasang plang lelang oleh kreditur, 10 rumah sudah mendapat SP III, 30 mobil dan 100-an motor sudah dikembalikan ke leasing karena gagal bayar,” ungkapnya.

Aris juga mendesak Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) serta Tim Pemburu Aset Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) untuk segera menginventarisasi aset BLN.

“Saya yakin aset BLN yang tidak diatasnamakan BLN atau Pak Nico selaku pemilik BLN masih banyak. Jadi kami meminta PPATK dan TPPU ikut campur agar asetnya jelas, supaya bisa dikembalikan ke korban, berapapun nilainya,” tegas Aris.

Salah satu nasabah dari Semarang, Saleh, mengaku awalnya ragu bergabung. Namun karena terus dijanjikan hasil besar, ia akhirnya tergoda berinvestasi.

Sumber: TribunSolo.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved