Sejarah di Kota Solo

Mengenal Bancakan, Tradisi Syukuran Weton yang Sarat Makna dan Masih Eksis di Solo Raya

Bancakan ini dilakukan sebagai salah satu bentuk syukur kepada Tuhan sekaligus upaya mempererat silaturahim.

Tayang:
Penulis: Tribun Network | Editor: Hanang Yuwono
TribunSolo.com
MENU BANCAKAN - Nasi bancakan weton yang terdiri nasi urap (gudangan), telur rebus, dan jajan pasar. Beginilah asal-usul dan makna bancakan yang masih eksis di Solo, Jawa Tengah. 

Ringkasan Berita:
  • Bancakan adalah tradisi makan bersama masyarakat Jawa sebagai syukur dan mempererat silaturahim, biasanya untuk anak-anak pada hari kelahiran atau weton, berbeda dengan kenduri yang untuk orang dewasa.
  • Prosesi meliputi doa, makan bersama dalam satu wadah (kepungan), serta simbolisme makanan seperti nasi tumpeng, gudhangan, dan telur rebus yang mengandung harapan dan filosofi hidup.
  • Bancakan weton kini mulai jarang dilakukan karena pengaruh teknologi dan pengetahuan agama.

 

TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Masyarakat Jawa, termasuk Solo, Jawa Tengah, memiliki tradisi makan bersama yang dikenal sebagai bancakan.

Bancakan ini dilakukan sebagai salah satu bentuk syukur kepada Tuhan sekaligus upaya mempererat silaturahim.

Tradisi ini tidak hanya sekadar bersantap, tetapi sarat makna simbolis dan nilai budaya yang telah diwariskan turun-temurun.

Baca juga: Sejarah Tradisi Nyumbang atau Njagong Hajatan di Solo : Akulturasi Hindu Jawa-Islam yang Bertahan

Perbedaan Bancakan dan Kenduri

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, bancakan berarti selamatan atau kenduri.

Meski keduanya mengundang tetangga untuk berdoa dan makan bersama, perbedaan terletak pada siapa yang diundang.

Bancakan biasanya digelar untuk anak-anak, terutama dalam memperingati hari kelahiran atau weton mereka setiap bulan, sedangkan kenduri mengundang orang dewasa.

Prosesi Bancakan

Prosesi utama bancakan dimulai dengan doa yang dipimpin orang tua anak yang dibancaki.

Makanan yang telah disiapkan diletakkan di tengah sebagai simbol agar mendapat berkah.

Doa umumnya berisi permohonan keselamatan, kesehatan, dan kebahagiaan untuk sang anak.

Sebelum makan, orang tua mengingatkan teman-teman yang hadir agar anak yang dibancaki diajak bermain siang hari dan ditemani tidur malam hari.

Baca juga: Asal-usul Kecamatan Jatinom di Klaten : Nama Pemberian Ki Ageng Gribig, Kawasan Penjaga Tradisi

Setelah doa, makanan dibagikan dan disantap bersama dalam satu wadah atau kepungan, simbol persatuan lintas perbedaan ekonomi, suku, bahkan agama.

Di beberapa tempat, nasi dibagikan secara adil sebelum dimakan bersama.

Makanan dan Filosofi Bancakan

Makanan khas bancakan biasanya berupa nasi liwet, tahu, tempe, urap sayur dengan kelapa parut, dan telur rebus, disajikan di tampah beralas daun pisang.

Nasi yang tersisa disebut nasi gandulan, biasanya dibagikan ke tetangga yang tidak hadir.

Sumber: TribunSolo.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved