Fakta Menarik Tentang Solo
Mengenal Tradisi Mendhem Ari-ari : Ritual Sakral Mengubur Plasenta Bayi di Solo Raya
Tradisi yang masih lestari di Solo Raya hingga kini adalah mendhem ari-ari, yakni prosesi mengubur ari-ari atau plasenta bayi setelah kelahiran.
Penulis: Tribun Network | Editor: Hanang Yuwono
Pada hari yang sama dengan prosesi mendhem ari-ari, masyarakat Jawa juga melaksanakan upacara brokohan.
Tradisi ini menjadi penanda bahwa seorang perempuan telah melahirkan.
Kata brokohan berasal dari bahasa Arab barokah yang berarti berkah, sehingga upacara ini juga merupakan ungkapan rasa syukur dan doa agar bayi selalu dilimpahi keberkahan.
Brokohan tergolong upacara alit atau kecil, dengan sesaji yang sederhana namun sarat makna.
Sesaji utama berupa jenang tujuh macam (jenang neton), yakni jenang putih, merah, baro-baro, blowok, palang, sliring, serta jenang merah yang diberi sedikit jenang putih.
Jenang putih melambangkan ibu, jenang merah melambangkan ayah, dan perpaduannya menyimbolkan orang tua.
Tujuh jenang ini melambangkan harapan akan rezeki dan kebahagiaan yang melimpah.
Baca juga: Apa Itu Tingalan Jumenengan Mangkunegara X Solo? Peringatan Kenaikan Tahta Diiringi Tradisi Sakral
Sesaji Brokohan dan Tata Cara Pembagian
Selain jenang, brokohan juga dilengkapi dengan dhawet, telur ayam kampung mentah, kelapa yang dibelah dua, gula jawa, serta kembang sritaman yang dibungkus daun pisang.
Setelah didoakan, jenang tujuh macam boleh disantap dan dibagikan kepada orang-orang di lingkungan keraton.
Sementara sesaji lainnya dibagikan kepada kerabat atau tetangga di luar tembok keraton yang mewakili empat penjuru mata angin atau keblat papat.
Jumlah sesaji brokohan ditentukan berdasarkan hitungan Jawa, yakni penjumlahan nilai hari dan pasaran kelahiran bayi.
Setiap rangkaian sesaji yang dibagikan terdiri atas dhawet, telur ayam kampung, seperempat kelapa, gula jawa, dan kembang sritaman.
Saat mengantarkan sesaji, utusan juga menyampaikan kabar kelahiran kepada tuan rumah.
Baca juga: Mengenal Tradisi Ruwahan dan Sejarahnya, Ritual Budaya Sambut Ramadhan di Solo Raya
Tradisi Mendhem Ari-ari di Boyolali
Tradisi mendhem ari-ari juga masih dilestarikan di sejumlah daerah, salah satunya Desa Pulisen, Boyolali.
Masyarakat setempat meyakini ari-ari sebagai “kembaran” sang bayi ketika berada dalam kandungan dan dianggap berjasa menjaga kehidupan janin.
| Daftar 10 Kota Paling Toleran di Indonesia 2025 Versi SETARA : Solo Tak Masuk 10 Besar |
|
|---|
| Mitos Bulan Dulkangidah Menurut Masyarakat Solo Raya: Kenapa Tak Dianjurkan Menikah di Bulan Ini? |
|
|---|
| 10 Mitos Ibu Hamil Menurut Kepercayaan Jawa, Masih Dipercaya Sebagian Warga Solo Raya |
|
|---|
| Ini Bedanya Bakso Solo, Bakso Wonogiri, dan Bakso Malang : Ternyata Bisa Dilihat dari Teksturnya |
|
|---|
| 8 Mitos Bangun Rumah Menurut Masyarakat Jawa, Masih Dipercaya Sebagian Warga Solo Raya |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/solo/foto/bank/originals/Ilustrasi-lokasi-dikuburnya-ari-ari-atau-plasenta.jpg)