Fakta Menarik Tentang Solo

Mengenal Tradisi Mendhem Ari-ari : Ritual Sakral Mengubur Plasenta Bayi di Solo Raya

Tradisi yang masih lestari di Solo Raya hingga kini adalah mendhem ari-ari, yakni prosesi mengubur ari-ari atau plasenta bayi setelah kelahiran.

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Tribun Network | Editor: Hanang Yuwono
Banjarmasinpost.co.id/Nurkholis Huda
MENDHEM ARI-ARI - Ilustrasi lokasi dikuburnya ari-ari atau plasenta. Di Solo Raya, Jawa Tengah, tradisi ini disebut dengan mendhem ari-ari, begini makna filosofinya. (banjarmasinpost.co.id/nurkholis huda) 

Ari-ari dibersihkan terlebih dahulu lalu dimasukkan ke kendil dari tanah liat.

Di dalam kendil dimasukkan pula kertas kosong, pensil, dan rokok, kemudian dibacakan doa oleh kakek, nenek, atau orang tua bayi agar kelak sang anak menjadi pribadi yang berguna bagi bangsa dan negara.

Kedalaman Kubur dan Penerangan Ari-ari

Di Boyolali, kendil berisi ari-ari umumnya dikubur sedalam 50 sentimeter dan dilindungi dengan penutup seperti ember atau tenggok agar aman dari hujan.

Di atasnya dipasang lampu penerangan yang diusahakan menyala terus, minimal selama selapan atau bahkan hingga satu tahun.

Lampu dipercaya sebagai simbol penerang agar anak tidak “bingung” dalam menjalani kehidupan.

Namun, terdapat pula variasi kepercayaan.

Ada kepercayaan yang menyebut ari-ari sebaiknya tidak dikubur terlalu dalam, maksimal 30 sentimeter, agar pertumbuhan gigi anak kelak lebih cepat.

Ritual ini di Boyolali dikenal dengan sebutan Batir.

Selain itu, posisi penguburan ari-ari juga dibedakan berdasarkan jenis kelamin bayi.

Untuk bayi laki-laki, ari-ari dikubur di sisi kanan depan pintu rumah, sedangkan untuk bayi perempuan di sisi kiri.

Penentuan letak ini dipercaya membawa keseimbangan dan kebaikan bagi kehidupan sang anak.

(*)

Sumber: TribunSolo.com
Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved