Cuaca di Solo Raya
Wonogiri Masuki Masa Transisi dari Musim Hujan ke Kemarau
Kawasan Wonogiri kini mengalami transisi dari musim hujan ke kemarau. Masyarakat diminta waspada dengan cuaca ekstrem.
Penulis: Erlangga Bima Sakti | Editor: Ryantono Puji Santoso
Ringkasan Berita:
- BPBD Wonogiri menyebut wilayahnya kini memasuki masa transisi dari musim hujan menuju musim kemarau.
- Kepala Pelaksana BPBD Wonogiri Fuad Wahyu Pratama mengatakan puncak musim kemarau diperkirakan berlangsung pada Agustus mendatang.
- BPBD mengimbau masyarakat menggunakan air secara hemat dan tidak membakar sampah tanpa pengawasan untuk mencegah kebakaran. Warga juga diminta segera melapor jika mengalami kekeringan atau kesulitan air bersih.
Laporan Wartawan TribunSolo, Erlangga Bima
TRIBUNSOLO.COM, WONOGIRI - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Wonogiri menyebut saat ini wilayahnya memasuki masa transisi dari musim hujan menuju musim kemarau.
Kepala Pelaksana BPBD Wonogiri, Fuad Wahyu Pratama, membenarkan hal tersebut.
Ia menjelaskan bahwa berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), wilayah Jawa Tengah saat ini berada dalam masa transisi dari musim hujan menuju musim kemarau.
"Wonogiri diprediksi mulai memasuki musim kemarau pada Mei 2026, dengan sebagian kecil wilayah lebih awal pada April 2026," katanya.
Menurut Fuad, puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus mendatang. Karena itu, masyarakat diminta menjaga kesehatan dan mengantisipasi dampak cuaca ekstrem yang biasa menyertai musim kemarau.
"Masyarakat bisa melakukan pencegahan dehidrasi dengan minum air yang cukup mengingat saat kemarau suhu cenderung lebih tinggi pada siang hari," kata Fuad.
Selain menjaga asupan cairan, masyarakat juga diimbau menggunakan air secara bijak dan hemat.
Warga diminta tidak membakar sampah tanpa pengawasan untuk mencegah potensi kebakaran yang sering meningkat saat musim kemarau.
BPBD juga mengingatkan masyarakat agar segera melapor kepada pemerintah desa, relawan, maupun BPBD apabila terjadi kekeringan atau kesulitan mendapatkan air bersih.
Fenomena Bediding
Perubahan cuaca mulai dirasakan warga Wonogiri.
Malam hingga pagi hari terasa semakin dingin, sementara siang hari justru menyengat.
Fenomena yang dikenal masyarakat Jawa sebagai bediding ini mulai muncul seiring masuknya musim kemarau.
Di sejumlah wilayah, seperti Kecamatan Wonogiri Kota dan Baturetno, hawa dingin pada malam hari mulai membuat warga mengubah kebiasaan mereka.
Baca juga: Penyebab Sebagian Solo Raya Masih Hujan Meskipun Sudah Masuk Musim Kemarau
Aris Arianto (40), seorang warga Kecamatan Baturetno, menyebut suhu udara pada malam hari terasa jauh lebih dingin dibanding beberapa pekan lalu.
Bahkan, udara dingin mulai terasa sejak larut malam hingga menjelang pagi.
"Apalagi kalau sudah tengah malam sampai pukul 06.00. Hawanya dingin sekali," katanya.
Fenomena sebaliknya justru terjadi saat matahari bersinar.
Ketika malam menusuk dengan udara dingin, siang hari terasa lebih panas dan terik.
"Baru beberapa hari ini terasanya, sepertinya sudah mau kemarau," imbuhnya. (*)
| Fenomena Bediding Mulai Terasa di Wonogiri, Siang Panas dan Malam Dingin |
|
|---|
| Prakiraan Cuaca Kabupaten Boyolali Sabtu 30 Mei 2026 : Selo-Gladagsari Sejuk, Wilayah Kota Berawan |
|
|---|
| Prakiraan Cuaca Kabupaten Sukoharjo Sabtu 30 Mei 2026: Total Berawan, Suhu Capai 32 Derajat |
|
|---|
| Prakiraan Cuaca Kabupaten Karanganyar Sabtu 30 Mei 2026 : Mayoritas Berawan |
|
|---|
| Prakiraan Cuaca Kabupaten Sukoharjo Jumat 29 Mei 2026 : Dominan Berawan Seharian |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/solo/foto/bank/originals/Potret-surutnya-Waduk-di-Wonogiri-saat-musim-kemarau.jpg)