Kemarau di Solo Raya
Boyolali Siagakan 95 Titik Mata Air Hadapi Musim Kemarau, Wonosamodro Terbanyak
Boyolali siapkan 95 titik mata air untuk hadapi musim kemarau 2026 dan antisipasi kekeringan
Penulis: Tri Widodo | Editor: Putradi Pamungkas
Ringkasan Berita:
- BPBD Boyolali menyiapkan 95 titik mata air untuk menghadapi musim kemarau 2026 dan mengantisipasi potensi kekeringan di wilayah rawan krisis air.
- Kecamatan Wonosamodro memiliki mata air terbanyak dengan 75 titik, sedangkan Kemusu tidak memiliki mata air dan bergantung pada sumur bor, embung, tandon, serta bantuan air bersih.
- Selain menyiagakan mobil tangki air, Pemkab Boyolali juga mendorong konservasi air melalui penghijauan, rehabilitasi lahan, pembangunan embung, dan edukasi hemat air
Laporan Wartawan TribunSolo.com, Tri Widodo
TRIBUNSOLO.COM, BOYOLALI - Pemerintah Kabupaten Boyolali bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menyiapkan strategi mitigasi kekeringan menghadapi musim kemarau 2026 yang diperkirakan berlangsung lebih panjang.
Salah satu langkah utama yang dilakukan adalah mengoptimalkan 95 titik mata air yang tersebar di sejumlah wilayah rawan kekeringan.
Plt Kepala Pelaksana BPBD Boyolali, Ari Wahyu Prabowo, mengatakan hasil inventarisasi terbaru menunjukkan puluhan mata air tersebut masih dapat dimanfaatkan untuk menopang kebutuhan air bersih masyarakat di enam kecamatan prioritas.
“Dari hasil pendataan, total ada 95 titik mata air di wilayah prioritas,” ujar Ari, Jumat (5/6/2026).
Wonosamodro Miliki Mata Air Terbanyak
Berdasarkan data BPBD Boyolali, Kecamatan Wonosamodro menjadi wilayah dengan jumlah mata air terbanyak, yakni 75 titik.
Selanjutnya, Kecamatan Wonosegoro memiliki 10 titik mata air, Cepogo enam titik, Tamansari tiga titik, dan Juwangi satu titik.
Sementara itu, Kecamatan Kemusu menjadi satu-satunya wilayah yang tidak memiliki mata air terdata.
Kondisi tersebut membuat Kemusu sangat bergantung pada sumber air alternatif, seperti sumur bor, embung, tandon air, hingga bantuan distribusi air bersih saat musim kemarau berlangsung.
“Untuk Kemusu nihil mata air, sehingga sangat bergantung pada sumur bor, embung, tandon, dan dropping air,” jelasnya.
BPBD Siagakan Sumber Air Cadangan dan Mobil Tangki
Selain mengoptimalkan mata air yang tersedia, BPBD Boyolali juga memaksimalkan pemanfaatan sumur bor desa, embung, dan tandon air milik warga sebagai sumber pasokan cadangan.
Sebagai langkah antisipasi menghadapi kondisi darurat, armada mobil tangki air bersih juga telah disiagakan untuk menjangkau desa-desa yang masuk kategori rawan krisis air, terutama wilayah yang hampir setiap tahun terdampak kekeringan.
Kondisi Embung dan Waduk Masih Aman
Ari menjelaskan, hasil pemantauan sementara menunjukkan kondisi embung, waduk, dan telaga di Kabupaten Boyolali masih relatif aman.
Menurutnya, kondisi tersebut dipengaruhi oleh curah hujan yang masih terjadi dalam beberapa bulan terakhir meski intensitasnya mulai menurun.
“Secara umum masih aman, tetapi terus kami pantau agar tahu kapan harus dilakukan intervensi,” ujarnya.
Baca juga: Hadapi Musim Kemarau, BPBD Sukoharjo Siapkan Skema Distribusi Bantuan Air Bersih untuk Masyarakat
Pemkab Dorong Konservasi Air Jangka Panjang
| Dampak El Nino di Karanganyar, Petani Bawang Panen Justru Lebih Cepat, Ini Sebabnya |
|
|---|
| Petani Karanganyar Diimbau Tak Panik Hadapi El Nino, Wajib Terapkan Pola Budidaya Hemat Air |
|
|---|
| Hadapi El Nino 2026, Petani Karanganyar Dianjurkan Gunakan Benih Padi Genjah |
|
|---|
| Dampak El Nino di Karanganyar : Petani Padi Merugi, Hortikultura Justru Untung |
|
|---|
| BMKG Prediksi Kemarau 2026 Datang Lebih Cepat, Ini Imbauan untuk Petani Karanganyar |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/solo/foto/bank/originals/Potret-surutnya-Waduk-di-Wonogiri-saat-musim-kemarau.jpg)