Desakan Pencopotan Camat Selogiri

Polemik Camat Selogiri Jadi Sorotan DPRD Wonogiri, Minta Kondisi Tetap Kondusif

Anggota DPRD Wonogiri menilai polemik Camat Selogiri adalah akumulasi dari kekesalan perangkat Desa.

Tayang:
TribunSolo.com/Erlangga Bima Sakti
MINTA CAMAT DICOPOT - Rapat Koordinasi Pemkab Wonogiri bersama perangkat desa se-Kecamatan Selogiri, Jumat (5/6/2026). Para perangkat desa yang tergabung dalam Persatuan Perangkat Desa Indonesia (PPDI) Kecamatan Selogiri kompak meminta agar Fredy Sasono dicopot dari jabatannya sebagai Camat Selogiri. Mereka mengeluhkan kepemimpinan Fredy yang dinilai telah menimbulkan ketidaknyamanan di kalangan perangkat desa. 
Ringkasan Berita:
  • Ketua Komisi I DPRD Wonogiri Bambang Sadriyanto menilai polemik antara Camat Selogiri Fredy Sasono dan perangkat desa merupakan konsekuensi dari dinamika yang terjadi selama ini.
  • Bambang menyebut penyampaian aspirasi oleh PPDI Kecamatan Selogiri kepada Bupati Wonogiri merupakan hak yang patut dihargai dan kini menjadi ranah pemerintah daerah untuk menindaklanjutinya.
  • Meski terjadi polemik, Bambang memastikan pelayanan publik di desa tetap berjalan normal.

Laporan Wartawan TribunSolo, Erlangga Bima

TRIBUNSOLO.COM, WONOGIRI – Polemik yang mencuat antara Camat Selogiri Fredy Sasono dan perangkat desa se-Kecamatan Selogiri mendapat perhatian Ketua Komisi I DPRD Wonogiri Bambang Sadriyanto.

Bambang berpandangan persoalan tersebut merupakan konsekuensi dari dinamika yang terjadi selama ini.

"Kalau menurut saya, itu hukum sebab akibat," katanya saat ditemui di DPRD Wonogiri, Selasa (9/6/2026).

Bambang menilai langkah perangkat desa yang tergabung dalam Persatuan Perangkat Desa Indonesia (PPDI) Kecamatan Selogiri menyampaikan aspirasi kepada Bupati Wonogiri Setyo Sukarno merupakan hak yang patut dihargai.

Sebagai tokoh masyarakat Selogiri, ia mengaku telah mendengar berbagai keluhan yang berkembang di kalangan perangkat desa terkait gaya kepemimpinan camat.

Namun menurutnya, penyelesaian persoalan tersebut kini menjadi ranah pemerintah daerah sebagai pihak eksekutif.

Sebagai informasi, Fredy Sasono sendiri mulai menjabat Camat Selogiri sejak Januari 2026 setelah sebelumnya bertugas sebagai camat di Kecamatan Wonogiri Kota.

Fredy Sasono (46) merupakan Camat Giritontro Wonogiri.
DITUNTUT COPOT. Fredy Sasono (46) merupakan Camat Selogiri Wonogiri. (TribunSolo.com/Erlangga Bima Sakti)

Bambang mengungkapkan, saat awal penugasan di Selogiri, Fredy sempat datang ke kediamannya untuk berdiskusi mengenai kondisi wilayah yang akan dipimpinnya.

Dalam kesempatan itu, Bambang memberikan sejumlah masukan terkait karakter masyarakat Selogiri.

Ia menegaskan bahwa selama ini hubungan antara pemerintah desa dan kecamatan berjalan harmonis. Bahkan, seluruh desa di Kecamatan Selogiri berhasil meraih status Desa Mandiri.

"Itu bukti selama ini desa dan perangkatnya klir. Komunikasi dengan Pak Sigit (Sigit Purwanto, Camat Selogiri sebelumnya) klir. Saya minta jaga ritme yang sudah berjalan baik," jelasnya.

Selain itu, Bambang juga mengingatkan mengenai karakter masyarakat Selogiri yang dikenal dengan istilah bandol ngropol, yakni masyarakat yang memiliki solidaritas dan ikatan sosial yang kuat.

"Saat itu Mas Fredy datang, saya minta jaga keharmonisan. Saya kasih pesan itu," imbuhnya.

Bukan Provokasi

Menurut Bambang, setiap pemimpin memang memiliki karakter dan gaya kepemimpinan masing-masing. Namun, berbagai peristiwa yang dinilai kurang berkenan oleh perangkat desa akhirnya memunculkan akumulasi kekecewaan.

Ia menegaskan bahwa langkah yang diambil perangkat desa merupakan murni kehendak mereka sendiri dan bukan karena adanya pihak yang memprovokasi.

Baca juga: Momen Camat Selogiri Buka Turnamen Sepakbola Pasca Dituntut Perangkat Desa Agar Dicopot dari Jabatan

"Kalau kehendaknya (perangkat desa) seperti itu, Pak Bupati ya harus segera bersikap. Teman-teman PPDI minta dievaluasi. Ya monggo evaluasi seperti apa kewenangan Pak Bupati," ujarnya.

Meski terjadi polemik, Bambang memastikan pelayanan publik di tingkat desa tetap berjalan normal. Ia meminta perangkat desa tetap menjaga profesionalisme sembari menunggu keputusan dari pemerintah daerah.

"Hari ini perangkat desa klir. Pesan saya juga setelah menyampaikan aspirasi jangan berubah, tunggu kebijakan. Layanan kepada masyarakat masih jalan," kata dia. (*)

Sumber: TribunSolo.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved