Sejarah di Kota Solo

Asal-usul Pasar Triwindu Solo : Awalnya Hanya Pasar Malam, Persembahan Putri Mangkunegoro VII

Pasar Triwindu berdiri pada tahun 1939, beberapa tahun sebelum Indonesia merdeka.

Penulis: Tribun Network | Editor: Hanang Yuwono
Kompas.com/LABIB ZAMANI
PASAR ANTIK SOLO - Barang-barang antik dan kuno yang dijual di Pasar Triwindu di Jalan Diponegoro Keprabon, Banjarsari, Solo, Jawa Tengah, Kamis (10/1/2019). Begini asal-usul Pasar Triwindu di Solo. (KOMPAS.com/LABIB ZAMANI) 

Ringkasan Berita:
  • Pasar Triwindu berdiri pada 1939 sebagai pasar malam hadiah bagi Mangkunegoro VII dan baru berkembang menjadi pusat barang antik sejak 1970-an.
  • Arsitekturnya khas Jawa dengan ikon patung Loro Blonyo, serta interior dua lantai yang dipenuhi barang antik, onderdil, hingga furnitur lawas.
  • Tak hanya tempat belanja, Triwindu juga menjadi ruang edukasi budaya dan lokasi event seperti Ngarsopuro Night Market dan Solo Art Market.

 

TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Pasar Triwindu Solo menjadi salah satu ikon wisata budaya Kota Solo, Jawa Tengah yang dikenal sebagai pusat barang antik.

Keberadaan pasar yang terletak dekat dengan jantung Kota Solo ini tidak dapat dilepaskan dari sejarah panjang Pura Mangkunegaran dan tradisi yang hidup di dalamnya.

Pasar ini tidak hanya menawarkan pengalaman berbelanja barang-barang lawas, tetapi juga menjadi saksi perjalanan sejarah Solo sejak sebelum kemerdekaan Indonesia.

Baca juga: Asal-usul Nama Ngemplak yang Kini jadi Kecamatan di Boyolali, Pernah Diusulkan Gabung ke Solo

Berawal dari Hadiah Ulang Tahun Mangkunegoro VII

Pasar Triwindu berdiri pada tahun 1939, beberapa tahun sebelum Indonesia merdeka.

Mengutip sejarah Pura Mangkunegaran, pasar ini awalnya merupakan pasar malam yang digelar pada masa pemerintahan Mangkunegoro VII.

Pasar malam tersebut merupakan hadiah ulang tahun dari Gusti Noeroel Kamaril kepada ayahnya, sekaligus sebagai peringatan tiga windu (24 tahun) kenaikan tahta Mangkunegoro VII.

Lokasi yang kini menjadi Pasar Triwindu dulunya adalah kandang kuda atau gedogan milik Mangkunegaran.

Baca juga: Asal-usul Nama Kecamatan Tulung Klaten, Konon Dulu Warganya Senang Menolong, Diberkahi Umbul Pelem

Pada masa awalnya, pasar ini sama sekali belum menjual barang antik, melainkan hanya berisi jajanan pasar, kain, dan majalah atau koran yang ditata di atas deretan meja.

Perkembangan Pasar: Dari Onderdil hingga Barang Antik

Memasuki tahun 1966, lorong-lorong Pasar Triwindu mulai dipenuhi onderdil, peralatan rumah tangga, dan perlengkapan pertukangan.

Barulah pada tahun 1970, barang-barang antik mulai mewarnai pasar ini, seperti lampu gantung, peralatan makan perak, dan keramik Tiongkok.

Sekitar 20 tahun kemudian, para pedagang berinovasi dengan membuat replika atau produk bermotif antik, sehingga menambah variasi koleksi.

Dari sinilah Triwindu berkembang menjadi pusat barang antik terbesar di Solo, dan eksistensinya bertahan hingga hari ini.

Pasar ini sempat berganti nama menjadi Pasar Windu Jenar setelah renovasi pada 2008, namun pada 17 Juni 2011 nama “Pasar Triwindu” kembali digunakan hingga sekarang.

Baca juga: Asal-usul Kecamatan Karangdowo Klaten : Saksi Bisu Kejayaan Majapahit, Ada Kisah Pangeran Bentar

Arsitektur Khas Jawa dan Ikon Loro Blonyo

Terletak di kawasan Ngarsopuro, Pasar Triwindu bukan hanya pusat perdagangan, tetapi juga bagian dari kawasan cagar budaya Solo.

Sumber: TribunSolo.com
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved