Sejarah di Kota Solo
Kenapa Kota Solo Punya Banyak Stasiun Kereta Api dan Lokasinya Berdekatan? Ini Sejarahnya
Ya, Solo memang memiliki stasiun kereta api yang jaraknya sangat berdekatan, bahkan hanya terpaut beberapa kilometer saja.
Penulis: Tribun Network | Editor: Hanang Yuwono
Akibatnya, di satu kota bisa berdiri beberapa stasiun yang lokasinya berdekatan karena dibangun oleh perusahaan yang berbeda.
Seiring waktu, banyak stasiun dan jalur rel milik swasta tersebut kemudian dibeli dan dikelola oleh Staatsspoorwegen (SS), perusahaan kereta api milik pemerintah Hindia Belanda.
Namun, meski kepemilikannya berpindah tangan, stasiun-stasiun tersebut tetap dipertahankan dan difungsikan sesuai kebutuhan operasional.
Baca juga: Kenapa Kuah Soto Khas Solo Kebanyakan Bening? Ternyata Ada Sejarah dan Alasannya Lho
Pasca Kemerdekaan hingga PT KAI
Ketika Jepang masuk ke Indonesia pada 1942, seluruh aset perkeretaapian dikelola oleh Rikuyu Sokyoku atau Dinas Kereta Api Jepang.
Setelah Indonesia merdeka, pengelolaan kereta api kemudian diambil alih oleh Djawatan Kereta Api Republik Indonesia (DKARI) melalui Maklumat Kementerian Perhubungan No. 1/KA Tahun 1946.
DKARI inilah yang menjadi cikal bakal berdirinya PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau PT KAI.
Sejak saat itu, seluruh aset perkeretaapian, baik rel maupun stasiun, berada di bawah satu pengelolaan.
Meski demikian, stasiun-stasiun yang jaraknya berdekatan tetap difungsikan, biasanya dengan pembagian layanan berdasarkan rute, kelas kereta, atau jenis layanan yang berbeda.
Sekilas Sejarah Pembangunan Rel Kereta Api
Pembangunan jaringan rel kereta api di Hindia Belanda dimulai sejak 1875.
Jalur pertama dibangun oleh perusahaan swasta Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij (NISM), yang menghubungkan Kemijen di Semarang menuju Desa Tanggung di Grobogan.
Jalur ini kemudian dilanjutkan hingga menghubungkan Semarang dan Surakarta pada 1870.
Selain NISM, pemerintah kolonial juga membangun jaringan kereta api negara melalui Staatsspoorwegen (SS), yang rute pertamanya adalah Surabaya–Pasuruan–Malang pada 1875.
Baca juga: Dari Benteng hingga Kauman, Kenapa Solo dan Jogja Punya Banyak Kemiripan? Inilah Asal-usulnya
Keberhasilan kedua perusahaan ini mendorong munculnya banyak perusahaan kereta api swasta lainnya, seperti SJS, SCS, OJS, hingga DSM di Sumatera.
Hingga 1939, total panjang rel kereta api di Jawa dan Sumatera mencapai lebih dari 6.800 kilometer.
Namun, pasca kemerdekaan, banyak jalur tersebut yang dinonaktifkan, terutama pada era Orde Baru, sehingga kini hanya sebagian yang masih beroperasi.
Lima Stasiun Kereta Api di Kota Solo
| Asal-usul Nama Kecamatan Serengan di Solo : Saksi Bisu Perjuangan Kemerdekaan |
|
|---|
| Serupa Tapi Tak Sama, Ini Perbedaan Nasi Kucing Solo dan Jogja |
|
|---|
| Fakta Menarik Batik Parang, Ada Pantangan Dilarang Dipakai di Keraton Solo dan Mangkunegaran |
|
|---|
| Asal-usul Nama Kelurahan Kadipiro di Solo : Konon Bermakna 'Keterlaluan' saat Zaman Majapahit |
|
|---|
| Asal-usul Nama Kelurahan Banyuanyar di Solo, Ada Kali Anyar yang Jadi Pemisah dengan Boyolali |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/solo/foto/bank/originals/Suasana-Stasiun-Solo-Balapan-Jelang-Libur-Natal-dan-Tahun-Baru-Nataru-2024.jpg)