Sejarah di Kota Solo

Kenapa Kota Solo Punya Banyak Stasiun Kereta Api dan Lokasinya Berdekatan? Ini Sejarahnya

Ya, Solo memang memiliki stasiun kereta api yang jaraknya sangat berdekatan, bahkan hanya terpaut beberapa kilometer saja.

Tayang:
Penulis: Tribun Network | Editor: Hanang Yuwono
Tribunsolo.com/Andreas Chris
SUASANA STASIUN - Suasana Stasiun Solo Balapan di Kota Solo, Jawa Tengah, beberapa waktu lalu. Ini sejarahnya kenapa satsiun di Solo berdekatan dan jumlahnya cukup banyak. 

Akibatnya, di satu kota bisa berdiri beberapa stasiun yang lokasinya berdekatan karena dibangun oleh perusahaan yang berbeda.

Seiring waktu, banyak stasiun dan jalur rel milik swasta tersebut kemudian dibeli dan dikelola oleh Staatsspoorwegen (SS), perusahaan kereta api milik pemerintah Hindia Belanda.

STASIUN BERSEJARAH SOLO - Stasiun Solo Kota dan Railbus Batara Kresna yang tengah berhenti pada 2023 lalu. Beginilah asal-usul Stasiun Solo Kota atau Sangkrah yang menjadi salah satu bangunan bersejarah di Solo, Jawa Tengah. (KOMPAS.com/ANGGARA WIKAN PRASETYA)
STASIUN BERSEJARAH SOLO - Stasiun Solo Kota dan Railbus Batara Kresna yang tengah berhenti pada 2023 lalu. (KOMPAS.com/ANGGARA WIKAN PRASETYA)

Namun, meski kepemilikannya berpindah tangan, stasiun-stasiun tersebut tetap dipertahankan dan difungsikan sesuai kebutuhan operasional.

Baca juga: Kenapa Kuah Soto Khas Solo Kebanyakan Bening? Ternyata Ada Sejarah dan Alasannya Lho

Pasca Kemerdekaan hingga PT KAI

Ketika Jepang masuk ke Indonesia pada 1942, seluruh aset perkeretaapian dikelola oleh Rikuyu Sokyoku atau Dinas Kereta Api Jepang.

Setelah Indonesia merdeka, pengelolaan kereta api kemudian diambil alih oleh Djawatan Kereta Api Republik Indonesia (DKARI) melalui Maklumat Kementerian Perhubungan No. 1/KA Tahun 1946.

DKARI inilah yang menjadi cikal bakal berdirinya PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau PT KAI.

Sejak saat itu, seluruh aset perkeretaapian, baik rel maupun stasiun, berada di bawah satu pengelolaan.

Meski demikian, stasiun-stasiun yang jaraknya berdekatan tetap difungsikan, biasanya dengan pembagian layanan berdasarkan rute, kelas kereta, atau jenis layanan yang berbeda.

Sekilas Sejarah Pembangunan Rel Kereta Api

Pembangunan jaringan rel kereta api di Hindia Belanda dimulai sejak 1875.

Jalur pertama dibangun oleh perusahaan swasta Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij (NISM), yang menghubungkan Kemijen di Semarang menuju Desa Tanggung di Grobogan.

Jalur ini kemudian dilanjutkan hingga menghubungkan Semarang dan Surakarta pada 1870.

Selain NISM, pemerintah kolonial juga membangun jaringan kereta api negara melalui Staatsspoorwegen (SS), yang rute pertamanya adalah Surabaya–Pasuruan–Malang pada 1875.

Baca juga: Dari Benteng hingga Kauman, Kenapa Solo dan Jogja Punya Banyak Kemiripan? Inilah Asal-usulnya

Keberhasilan kedua perusahaan ini mendorong munculnya banyak perusahaan kereta api swasta lainnya, seperti SJS, SCS, OJS, hingga DSM di Sumatera.

Hingga 1939, total panjang rel kereta api di Jawa dan Sumatera mencapai lebih dari 6.800 kilometer.

Namun, pasca kemerdekaan, banyak jalur tersebut yang dinonaktifkan, terutama pada era Orde Baru, sehingga kini hanya sebagian yang masih beroperasi.

STASIUN DI SOLO - Stasiun Solo Balapan, lebih dikenal dengan Stasiun Balapan, adalah stasiun kereta api kelas besar tipe A yang terletak di perbatasan antara Kestalan dan Gilingan, Banjarsari, Surakarta
STASIUN DI SOLO - Stasiun Solo Balapan, lebih dikenal dengan Stasiun Balapan, adalah stasiun kereta api kelas besar tipe A yang terletak di perbatasan antara Kestalan dan Gilingan, Banjarsari, Surakarta (Google Maps Stasiun Balapan Solo)

Lima Stasiun Kereta Api di Kota Solo

Sumber: TribunSolo.com
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved