Sejarah Kuliner Legendaris
Sejarah Sosis Solo Kuliner Ikonik Kota Bengawan, Ini Bedanya dengan Risoles dan Lumpia
Nah, Sosis Solo ini bukanlah kuliner berisi daging yang dibungkus usus atau lemak seperti sosis pada umumnya.
Penulis: Tribun Network | Editor: Hanang Yuwono
Ringkasan Berita:
- Sosis Solo adalah kuliner ikonik Solo, mirip risol, kulit tipis dari telur dadar, isian daging sapi atau ayam, lahir dari akulturasi kuliner Tionghoa-Eropa.
- Perbedaan dengan camilan lain: Risoles berbahan tepung panir, lumpia berisi rebung; sosis Solo dimakan sebagai camilan, tekstur empuk dan gurih.
- Rekomendasi enak: Yu Ndibel, Mbah Wiryo, Ibu Cicik, Gajahan Bu Ning, Pojok Beteng; tersedia versi goreng atau beku untuk oleh-oleh.
TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Selain serabi, sosis juga menjadi salah satu kuliner ikonik Kota Solo, Jawa Tengah.
Kuliner ini lebih akrab disebut Sosis Solo.
Nah, Sosis Solo ini bukanlah kuliner berisi daging yang dibungkus usus atau lemak seperti sosis pada umumnya.
Baca juga: Sejarah Nasi Rames, Kuliner Populer di Solo yang Konon Pernah jadi Makanan Pemersatu saat Penjajahan
Sosis Solo justru lebih mirip risol, namun tetap dinamai “sosis” karena sejarah dan proses pembuatannya yang unik.
Menurut Murdijati Gardjito, peneliti dari Pusat Studi Pandan dan Gizi Universitas Gadjah Mada, sosis Solo lahir dari akulturasi antara seni dapur Eropa dan tradisi kuliner Solo.
“Sosis ini hasil akulturasi, bentuknya sudah tidak sama dengan sosis lain,” jelas Murdijati pada 2020 lalu.
Bahan dan Cara Pembuatan Sosis Solo
Sosis Solo terbuat dari daging sapi giling yang digulung di dalam telur dadar tipis.
Bumbu yang digunakan sederhana, seperti merica, bawang putih, dan pala, menyesuaikan selera lokal karena masyarakat Solo pada masa penjajahan tidak terbiasa mengonsumsi susu, berbeda dengan sosis Eropa yang dicampur susu.
Heri Priyatmoko, dosen sejarah Universitas Sanata Dharma, menambahkan bahwa sosis Solo dikembangkan oleh pengusaha restoran Tionghoa di Solo untuk menjajakan hidangan bagi bangsawan kolonial dan priyayi setempat.
Baca juga: Tahok Pak Citro, Kuliner Khas Tionghoa Saksi Sejarah Bandar Dagang Pasar Gede Solo
Telur yang melimpah di Jawa menjadi bahan utama untuk kulit sosis, yang membutuhkan keterampilan khusus agar tidak mudah sobek saat digulung.
Berbeda dengan sosis Eropa yang biasanya disantap sebagai lauk roti, sosis Solo dikonsumsi sebagai camilan.
Kulit telur tipis memberikan tekstur lembut dan gurih, berbeda dengan lumpia atau risoles yang memiliki lapisan berbeda.
Perbedaan Sosis Solo, Lumpia, dan Risoles
Meski bentuknya mirip, sosis Solo, lumpia, dan risoles memiliki perbedaan jelas:
Tampilan dan tekstur:
- Sosis Solo: digoreng dengan baluran telur, tekstur tidak terlalu renyah.
- Risoles: dibalur tepung panir, renyah saat digigit.
- Lumpia: kulit tanpa baluran, lebih renyah dari luar.
| Cerita Panjang Kenapa Orang Solo Raya Gemar Sarapan Pakai Bubur Ayam, Tradisi dari Tiongkok |
|
|---|
| Sejarah Sego Berkat, dari Hidangan Hajatan Menjelma jadi Kuliner Khas Wonogiri |
|
|---|
| Ini Lho Asal-usul Mie Ayam Bisa Jadi Kuliner Populer di Solo Raya, Konon Berasal dari Tiongkok |
|
|---|
| Ini Lho Sejarah Pecel Bisa jadi Menu Sarapan Warga Solo Raya, Kuliner yang Sudah Ada Sejak Abad ke-9 |
|
|---|
| Rekomendasi Kuliner Solo : Cicipi Nasi Liwet Bu Wongso Lemu yang Legendaris Sejak 1950-an |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/solo/foto/bank/originals/Sosis-Solo-yang-menjadi-kuliner-ikonik.jpg)