Fakta Menarik Tentang Solo

Makna Dulangan, Prosesi Pengantin Saling Menyuapi dalam Pernikahan yang Masih Eksis di Solo

Salah satu prosesi pernikahan yang paling menyentuh dan sarat makna adalah dulangan, yakni ritual saling menyuapi antara pengantin pria dan wanita.

Tayang:
Penulis: Tribun Network | Editor: Hanang Yuwono
DOK. YOUTUBE/PRESIDEN JOKO WIDODO
PROSESI PERNIKAHAN - Prosesi dahar klimah pada pernihakan Kaesang dan Erina di Solo, Jawa Tengah. Biasanya mempelai juga saling menyuapi atau dulangan, ini maknanya. (DOK. YOUTUBE/PRESIDEN JOKO WIDODO) 

Ringkasan Berita:
  • Dulangan adalah prosesi saling menyuapi dalam pernikahan adat Solo yang melambangkan kasih sayang, komitmen, dan kerja sama suami-istri dalam membangun rumah tangga.
  • Tradisi ini telah ada sejak era Mataram Kuno dan sarat makna filosofis, seperti kebersamaan, harmoni, keberkahan, serta penghormatan terhadap nilai dan leluhur Jawa.
  • Dilakukan setelah kacar-kucur, dulangan memakai tumpeng atau nasi kuning dan tetap lestari meski mengalami penyesuaian di era modern.

 

TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Pernikahan adat Solo, yang berakar dari tradisi Keraton Kasunanan dan Mangkunegaran, dikenal kaya akan simbol, makna filosofis, dan nilai luhur budaya Jawa.

Salah satu prosesi pernikahan yang paling menyentuh dan sarat makna adalah dulangan, yakni ritual saling menyuapi antara pengantin pria dan wanita.

Prosesi dulangan bukan sekadar simbol kemesraan, melainkan gambaran komitmen, kasih sayang, serta kerja sama suami-istri dalam menapaki kehidupan rumah tangga.

Baca juga: Mengenal Suwuk: Metode Pengobatan Tradisional yang Mulai Ditinggalkan di Solo Raya

Tradisi ini menjadi penanda awal perjalanan baru dua insan yang telah dipersatukan dalam ikatan pernikahan.

Asal-Usul dan Sejarah Tradisi Dulangan

Istilah dulangan berasal dari kata dulang dalam bahasa Jawa, yang berarti piring atau nampan.

Dalam konteks pernikahan adat Solo, dulangan merujuk pada prosesi saling menyuapi makanan, biasanya nasi kuning atau tumpeng, yang diletakkan di atas dulang.

Tradisi dulangan telah dikenal sejak masa Kerajaan Mataram Kuno.

Pada masa itu, ritual ini dilakukan sebagai bagian dari upacara adat untuk memohon kesuburan, kemakmuran, serta keseimbangan hidup.

Baca juga: Asal-usul Kelenteng Tien Kok Sie : Kelenteng Tertua di Solo Sejak 1745, Selamat dari Kerusuhan 1998

Nasi kuning melambangkan hasil bumi dan harapan akan kehidupan yang makmur, sementara tindakan saling menyuapi mencerminkan semangat gotong royong dan kebersamaan.

Seiring waktu, dulangan kemudian menjadi bagian penting dalam pernikahan adat Jawa, termasuk di Solo, dengan makna yang semakin dipertegas sebagai simbol kasih sayang dan tanggung jawab bersama dalam rumah tangga.

Makna Filosofis Dulangan dalam Adat Solo

Prosesi dulangan mengandung berbagai makna filosofis yang mendalam, di antaranya:

  • Kasih Sayang dan Perhatian

Saling menyuapi melambangkan cinta, perhatian, dan kepedulian antara suami dan istri dalam memenuhi kebutuhan satu sama lain.

  • Kebersamaan dan Kerja Sama

Dulangan mengajarkan bahwa kehidupan rumah tangga harus dijalani bersama, saling mendukung dalam suka maupun duka.

PERNIKAHAN ADAT JAWA - Ilustrasi pernikahan adat Jawa saat momen Temu Panggih. GKR Bendoro dan KPH Yudanegara mengikuti prosesi panggih di Keraton Yogyakarta, DI Yogyakarta, Selasa (18/10/2011). Beginilah sejarah gending Kebo Giro yang dilantunkan ketika momen sakral Temu Panggih.
PERNIKAHAN ADAT JAWA - Ilustrasi pernikahan adat Jawa saat momen Temu Panggih. GKR Bendoro dan KPH Yudanegara mengikuti prosesi panggih di Keraton Yogyakarta, DI Yogyakarta, Selasa (18/10/2011). (Tribunnews.com/TRIBUN JOGJA/HASAN SAKRI GHOZALI))
  • Harmoni dan Keseimbangan

Porsi suapan yang setara mencerminkan keseimbangan peran dan tanggung jawab antara suami dan istri.

  • Keberkahan dan Kemakmuran
Sumber: TribunSolo.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved