Fakta Menarik Tentang Solo
Makna Dulangan, Prosesi Pengantin Saling Menyuapi dalam Pernikahan yang Masih Eksis di Solo
Salah satu prosesi pernikahan yang paling menyentuh dan sarat makna adalah dulangan, yakni ritual saling menyuapi antara pengantin pria dan wanita.
Penulis: Tribun Network | Editor: Hanang Yuwono
Ringkasan Berita:
- Dulangan adalah prosesi saling menyuapi dalam pernikahan adat Solo yang melambangkan kasih sayang, komitmen, dan kerja sama suami-istri dalam membangun rumah tangga.
- Tradisi ini telah ada sejak era Mataram Kuno dan sarat makna filosofis, seperti kebersamaan, harmoni, keberkahan, serta penghormatan terhadap nilai dan leluhur Jawa.
- Dilakukan setelah kacar-kucur, dulangan memakai tumpeng atau nasi kuning dan tetap lestari meski mengalami penyesuaian di era modern.
TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Pernikahan adat Solo, yang berakar dari tradisi Keraton Kasunanan dan Mangkunegaran, dikenal kaya akan simbol, makna filosofis, dan nilai luhur budaya Jawa.
Salah satu prosesi pernikahan yang paling menyentuh dan sarat makna adalah dulangan, yakni ritual saling menyuapi antara pengantin pria dan wanita.
Prosesi dulangan bukan sekadar simbol kemesraan, melainkan gambaran komitmen, kasih sayang, serta kerja sama suami-istri dalam menapaki kehidupan rumah tangga.
Baca juga: Mengenal Suwuk: Metode Pengobatan Tradisional yang Mulai Ditinggalkan di Solo Raya
Tradisi ini menjadi penanda awal perjalanan baru dua insan yang telah dipersatukan dalam ikatan pernikahan.
Asal-Usul dan Sejarah Tradisi Dulangan
Istilah dulangan berasal dari kata dulang dalam bahasa Jawa, yang berarti piring atau nampan.
Dalam konteks pernikahan adat Solo, dulangan merujuk pada prosesi saling menyuapi makanan, biasanya nasi kuning atau tumpeng, yang diletakkan di atas dulang.
Tradisi dulangan telah dikenal sejak masa Kerajaan Mataram Kuno.
Pada masa itu, ritual ini dilakukan sebagai bagian dari upacara adat untuk memohon kesuburan, kemakmuran, serta keseimbangan hidup.
Baca juga: Asal-usul Kelenteng Tien Kok Sie : Kelenteng Tertua di Solo Sejak 1745, Selamat dari Kerusuhan 1998
Nasi kuning melambangkan hasil bumi dan harapan akan kehidupan yang makmur, sementara tindakan saling menyuapi mencerminkan semangat gotong royong dan kebersamaan.
Seiring waktu, dulangan kemudian menjadi bagian penting dalam pernikahan adat Jawa, termasuk di Solo, dengan makna yang semakin dipertegas sebagai simbol kasih sayang dan tanggung jawab bersama dalam rumah tangga.
Makna Filosofis Dulangan dalam Adat Solo
Prosesi dulangan mengandung berbagai makna filosofis yang mendalam, di antaranya:
- Kasih Sayang dan Perhatian
Saling menyuapi melambangkan cinta, perhatian, dan kepedulian antara suami dan istri dalam memenuhi kebutuhan satu sama lain.
- Kebersamaan dan Kerja Sama
Dulangan mengajarkan bahwa kehidupan rumah tangga harus dijalani bersama, saling mendukung dalam suka maupun duka.
- Harmoni dan Keseimbangan
Porsi suapan yang setara mencerminkan keseimbangan peran dan tanggung jawab antara suami dan istri.
- Keberkahan dan Kemakmuran
| Solo Catat Angka Kelahiran Rendah Menurut Hasil Survei Penduduk Antar Sensus 2025, Ini Penyebabnya |
|
|---|
| Daftar Angka Kelahiran Tertinggi di Jawa Tengah Menurut SUPAS 2025 : Solo Justru Rendah, Ada Apa? |
|
|---|
| Kelihatannya Mirip Tapi Ternyata Tak Sama, Ini Perbedaan Keris Solo dan Keris Yogyakarta |
|
|---|
| Cerita di Balik Kebiasaan Pria Solo Pakai Keris di Belakang saat Acara Penting, Punya Makna Mendalam |
|
|---|
| Pusat Barang Bekas Populer di Kota Solo ini Dulunya Kompleks Prostitusi |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/solo/foto/bank/originals/Prosesi-dahar-klimah-pada-pernihakan-Kaesang-dan-Erina.jpg)