Fakta Menarik Tentang Solo
Makna Dulangan, Prosesi Pengantin Saling Menyuapi dalam Pernikahan yang Masih Eksis di Solo
Salah satu prosesi pernikahan yang paling menyentuh dan sarat makna adalah dulangan, yakni ritual saling menyuapi antara pengantin pria dan wanita.
Penulis: Tribun Network | Editor: Hanang Yuwono
Makanan yang digunakan, seperti nasi kuning atau tumpeng, melambangkan doa akan rezeki, keberkahan, dan kehidupan yang sejahtera.
- Penghormatan terhadap Leluhur
Melalui dulangan, pengantin menunjukkan penghormatan pada tradisi dan nilai-nilai budaya Jawa yang diwariskan secara turun-temurun.
Baca juga: Mengenal Sosok Soehadi Prijonegoro yang Dijadikan Nama RSUD Sragen, Dulu Jadi Dokter Raja Surakarta
- Posisi Dulangan dalam Rangkaian Pernikahan Adat Solo
Prosesi dulangan biasanya dilakukan setelah kacar-kucur, yaitu ritual pemberian nafkah simbolis dari suami kepada istri berupa biji-bijian, beras kuning, dan uang receh.
Kacar-kucur melambangkan tanggung jawab suami sebagai pencari nafkah.
Sebelum dulangan dilakukan, terdapat prosesi dulangan pungkasan, yakni suapan terakhir dari orang tua kepada pengantin.
Momen ini menjadi simbol berakhirnya tanggung jawab orang tua dalam memberi penghidupan, sekaligus penyerahan sepenuhnya kepada pasangan yang kini membentuk keluarga baru.
Tata Cara Prosesi Dulangan
Prosesi dulangan dalam pernikahan adat Solo dilakukan secara sakral dengan tahapan berikut:
Pengantin pria dan wanita saling menyuapi makanan dan minuman sebanyak tiga kali.
Angka tiga melambangkan kesempurnaan serta simbol keharmonisan dan penyatuan lahir batin.
Makanan yang digunakan umumnya berupa tumpeng, yang sering kali berjumlah sembilan. Sembilan tumpeng ini melambangkan tutur adilinuwih atau nasihat-nasihat luhur kehidupan, antara lain:
- Tumpeng Kesawa: rajin bekerja
- Tumpeng Puput: berani mandiri
- Kidang Soka: tumbuh besar dari proses kecil
- Bedhah Negara: bersatunya laki-laki dan perempuan
- Sangga Langit: bakti pada orang tua
- Pangruwat: bakti pada mertua
- Tunggarana: ingat pada pemberi kehidupan
- Pangapit: suka duka dalam kuasa Tuhan
- Manggada: kesadaran bahwa tak ada yang abadi
Setelah saling menyuapi, kedua mempelai minum air putih dari gelas yang sama sebagai simbol kebersamaan dan saling berbagi dalam kehidupan.
Variasi dan Perkembangan Dulangan di Era Modern
Seiring perkembangan zaman, prosesi dulangan mengalami beberapa penyesuaian.
Selain tumpeng atau nasi kuning, dulangan juga dapat menggunakan nasi liwet atau makanan tradisional lain.
Di beberapa daerah, dulangan dilakukan dengan sendok yang sama sebagai simbol kebersamaan yang utuh.
Kini, dulangan tidak hanya dilakukan di rumah adat, tetapi juga di hotel atau gedung pertemuan.
Meski demikian, esensi dan makna filosofisnya tetap dijaga oleh pasangan pengantin.
(*)
| 12 Mitos Pernikahan yang Masih Dipercaya Sebagian Masyarakat Solo, Ada Istilah 'Kebo Balik Kandang' |
|
|---|
| Kisah di Balik 'The Spirit of Java' yang jadi Slogan Kota Solo, Ini Sosok Penciptanya |
|
|---|
| 7 Mitos Beli Rumah yang Masih Banyak Dipercaya Warga Solo Raya, Ini Faktanya |
|
|---|
| Mudah di Temukan di Angkringan Solo, Tempe Gembus Ternyata Simpan Nilai Sejarah dan Budaya Tinggi |
|
|---|
| Kisah di Balik Kebiasaan Warga Solo Raya Sarapan Soto di Pagi Hari : Kuah Hangat dan Ringan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/solo/foto/bank/originals/Prosesi-dahar-klimah-pada-pernihakan-Kaesang-dan-Erina.jpg)