WAWANCARA EKSKLUSIF
Angka Pernikahan Solo Turun Tajam 3 Tahun Terakhir, Ternyata Bukan Sekedar Tren Lokal Tapi Dunia
Penurunan konsisten ini dinilai bukan sekadar perubahan pilihan individu, melainkan mencerminkan persoalan sosial yang lebih dalam.
Penulis: Putradi Pamungkas | Editor: Vincentius Jyestha Candraditya
Ringkasan Berita:
- Angka pernikahan di Solo turun dari 3.051 (2023) menjadi 2.828 (2025).
- Sosiolog UNS menilai ini gejala krisis keluarga dan hambatan pembangunan sosial.
- Fenomena serupa terjadi global, dipicu perubahan nilai dan gaya hidup generasi muda.
Laporan Wartawan TribunSolo.com, Putradi Pamungkas
TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Jumlah pernikahan di Kota Solo terus menurun dalam tiga tahun terakhir.
Hal itu dinilai menjadi sinyal krisis keluarga di masyarakat perkotaan.
Data Kementerian Agama (Kemenag) Kota Solo mencatat, angka pernikahan pada 2023 mencapai 3.051 pasangan, turun menjadi 2.969 pada 2024.
Di mana angka itu kembali merosot pada 2025 menjadi 2.828 pernikahan.
Baca juga: Di Balik Sepinya Akad Nikah, Menerka Perubahan Cara Anak Muda Solo Memandang Pernikahan
Penurunan konsisten ini dinilai bukan sekadar perubahan pilihan individu, melainkan mencerminkan persoalan sosial yang lebih dalam terkait melemahnya institusi keluarga.
Sosiolog Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Prof. Dr. Drajat Tri Kartono, M.Si., menyebut kondisi tersebut sebagai gejala krisis keluarga dalam perspektif sosiologi.
“Kalau orang tidak mau menikah atau menunda pernikahan, otomatis pembentukan keluarga terhambat. Kalau pembentukan keluarga terhambat, maka masyarakat secara luas juga mengalami keterlambatan dalam proses pengembangannya,” ujar Drajat saat berbincang dalam program Podcast TribunSolo.com, Jumat (6/2/2026).
Ia menilai keluarga merupakan unit dasar masyarakat.
Ketika pembentukannya tertunda, maka pembangunan sosial juga ikut melambat.
Lebih Ekstrem di Negara Maju
Menurutnya, tren ini tidak hanya terjadi di Solo, tetapi juga di berbagai belahan dunia.
Fenomena penurunan angka pernikahan bahkan lebih ekstrem di sejumlah negara maju.
Baca juga: Makna Prosesi Menginjak Telur, Ritual Sakral Pernikahan Adat Jawa yang Masih Eksis di Solo Raya
“Di dunia pun mengalami penurunan. Seperti Jepang misalnya, sekarang sampai harus membayar orang supaya mau menikah atau bahkan mengundang orang luar datang ke Jepang dengan syarat sudah menikah,” jelasnya.
Perubahan nilai, gaya hidup, serta struktur sosial modern menjadi faktor yang memengaruhi keputusan generasi muda untuk menikah.
Jika tren ini terus berlanjut, dampak jangka panjang terhadap struktur sosial dan pembangunan masyarakat dikhawatirkan semakin besar.
| Takut Perceraian Hingga Beban Finansial Tinggi, Jadi Alasan Generasi Muda di Kota Solo Ragu Menikah |
|
|---|
| Di Balik Sepinya Akad Nikah, Menerka Perubahan Cara Anak Muda Solo Memandang Pernikahan |
|
|---|
| Bebas dari Kasus KA Batara Kresna Sukoharjo, Surya Ogah Kembali Jaga Palang: Trauma & Risiko Besar |
|
|---|
| Bupati Setyo Sukarno Apresiasi Pencapaian Jekek, Akan Terus Berdialog untuk Kemajuan Wonogiri |
|
|---|
| Bupati Wonogiri Setyo Sukarno Soroti Korupsi Masif Rugikan Negara: Bikin Sengsara Jutaan Masyarakat |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/solo/foto/bank/originals/Hari-Cincin-Pernikahan-Sedunia.jpg)