Program Makan Bergizi Gratis di Solo
54 SPPG Tersebar di Solo, Pekerjanya Ada yang Ibu Rumah Tangga, Lulusan SD hingga Perguruan Tinggi
Saat ini, jumlah SPPG di Indonesia mencapai sekitar 15.000 unit dan ditargetkan meningkat menjadi 22.000 SPPG.
Penulis: Tribun Network | Editor: Rifatun Nadhiroh
Ringkasan Berita:• Program MBG di Kota Solo menyerap 1.600 tenaga kerja yang tersebar di 54 SPPG, dengan 73 persen pekerja berasal dari warga Solo.• Tenaga kerja berasal dari latar belakang beragam, mulai ibu rumah tangga, lulusan SD, SMA/SMK, hingga perguruan tinggi.
TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Solo, Jawa Tengah, tak hanya berdampak pada pemenuhan gizi masyarakat, tetapi juga membuka lapangan pekerjaan bagi ribuan warga dengan latar belakang pendidikan dan profesi yang beragam.
Hingga saat ini, terdapat 54 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang tersebar di Kota Solo dan telah menyerap sekitar 1.600 tenaga kerja.
Wakil Ketua Satuan Tugas (Satgas) MBG Pemerintah Kota (Pemkot) Solo, Purwanti, menyebutkan ribuan tenaga kerja tersebut bekerja di dapur-dapur SPPG yang melayani program MBG di berbagai wilayah kota.
Baca juga: Petani Melon Sragen Kesulitan Pasarkan Panen, Harap Diserap Program MBG
“Jumlah tenaga kerja yang terserap sekitar 1.600 orang dan tersebar di 54 SPPG,” kata Purwanti di Solo, Jawa Tengah, Minggu (8/2/2026).
Menariknya, mayoritas tenaga kerja yang terlibat berasal dari warga lokal. Purwanti menjelaskan, sekitar 73 persen tenaga kerja berasal dari Kota Solo, sementara sisanya berasal dari daerah penyangga seperti Wonogiri, Boyolali, Sukoharjo, dan Karanganyar.
“Jadi memang sebaran tenaga kerja ini 73 persen Solo. Lainnya dari Wonogiri, Boyolali, Sukoharjo, Karanganyar,” ujarnya.
Tak hanya menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar, program MBG juga membuka kesempatan kerja yang inklusif.
Menurut Purwanti, latar belakang tenaga kerja di SPPG sangat beragam, mulai dari ibu rumah tangga, fresh graduate, lulusan SMA/SMK, lulusan SD, hingga perguruan tinggi.
“Jadi sekali lagi kehadiran SPPG ini sangat membantu untuk penyerapan tenaga kerja,” ujar Purwanti yang juga menjabat sebagai Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekda Kota Solo.
Salah satu contoh ada di SPPG Sondakan I yang dikelola oleh Yayasan Raditya Bhakti Nusantara Solo.
Perwakilan yayasan, Dwi Hidayah, mengatakan SPPG tersebut mempekerjakan 47 tenaga kerja atau relawan.
Baca juga: MBG, Dari Uang Rakyat untuk Masa Depan Anak Indonesia
“Kalau per SPPG relawannya 47 orang, ditambah tim BGN tiga orang dan satu PIC dari yayasan,” kata Dwi.
Dwi menegaskan, sejak beroperasi, SPPG Sondakan I tetap konsisten dalam menyalurkan MBG tanpa mengurangi hak penerima manfaat. Selain itu, hak-hak tenaga kerja juga tetap dipenuhi.
“Alhamdulillah sampai saat ini Insya Allah semua berjalan lancar. Tidak ada kejadian yang tidak diinginkan. Mudah-mudahan ke depan zero accident bisa terus kami wujudkan,” ungkapnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/solo/foto/bank/originals/Setelah-mendapat-penolakan-rencana-pembangunan-dapur-SPPG-ini-dipastikan-bakal-berlanjut.jpg)