Imlek 2026
Kenapa Perayaan Imlek di Solo Identik dengan Lampion? Begini Sejarah Panjangnya
Lantas, apa yang membuat lampion menjadi simbol tak terpisahkan dari perayaan Imlek di Solo? Begini kisahnya.
Penulis: Tribun Network | Editor: Hanang Yuwono
Ringkasan Berita:
- Tiap Hari Imlek, pemasangan lampion merah yang menghiasi jalan-jalan seperti Balai Kota dan Pasar Gede menjadi simbol kemeriahan dan harapan baik, serta melambangkan keberuntungan, kemakmuran, dan kesuksesan.
- Lampion memiliki sejarah sejak Dinasti Tang dan dipercaya dapat mengusir kejahatan, serta menjadi simbol peneragan kehidupan yang lebih baik.
- Pemasangan lampion juga mencerminkan semangat toleransi antarumat beragama, menjadikan Solo sebagai kota yang merayakan keberagaman budaya.
TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Perayaan Tahun Baru Imlek di Solo identik dengan lampion merah yang cantik.
Lampion-lampion dengan berbagai bentuk dan warna menghiasi sepanjang jalur dari Balai Kota Solo hingga Pasar Gede, menambah keceriaan dan atmosfer meriah khas perayaan Imlek.
Tradisi ini menjadi salah satu elemen penting dalam perayaan Imlek, tak hanya di Solo, tetapi di seluruh dunia, terutama di kalangan masyarakat Tionghoa.
Baca juga: 5 Rekomendasi Tempat Makan Instagramable di Klaten Jateng : Cocok untuk Kulineran Libur Imlek 2026
Lampion yang berwarna merah terang sering dipasang di rumah, tempat ibadah, kawasan pecinan, dan berbagai tempat umum lainnya, menciptakan suasana meriah dan penuh harapan.
Lantas, apa yang membuat lampion menjadi simbol tak terpisahkan dari perayaan Imlek?
Mari kita telusuri lebih jauh.
Sejarah Lampion dalam Perayaan Imlek
Lampion, atau yang dalam bahasa Mandarin disebut "Denglong", memiliki makna yang sangat mendalam dalam budaya Tionghoa.
Asal-usul penggunaan lampion dalam perayaan Imlek dapat ditelusuri hingga zaman Dinasti Tang (618-907 Masehi). Pada masa itu, lampion digunakan untuk meramaikan perayaan Tahun Baru Imlek.
Lampion bukan sekadar ornamen dekoratif, melainkan simbol harapan dan penerangan kehidupan di tahun baru.
Harapan akan kemakmuran, rezeki, kesuksesan, dan kesehatan yang lebih baik dari tahun sebelumnya diterangi oleh cahaya lampion yang menerangi kegelapan.
Baca juga: Mitos Imlek di Solo, Kenapa Selalu Turun Hujan dan Apa Maknanya?
Selain itu, warna merah pada lampion juga memiliki arti tersendiri. Merah melambangkan keberuntungan, kemakmuran, dan kesatuan.
Masyarakat Tionghoa percaya bahwa lampion merah akan membawa keberuntungan dan membuka jalan rezeki.
Tradisi ini pun semakin berkembang dan menjadi bagian tak terpisahkan dari Festival Lampion, atau Yuan Xiao Jie, yang dirayakan pada hari ke-15 bulan pertama kalender Lunar, bertepatan dengan Cap Go Meh.
Lampion dan Legenda Nian
Sejarah lampion dalam Imlek juga terkait dengan legenda mengenai monster Nian, yang dipercaya sebagai makhluk jahat yang mengganggu warga pada malam tahun baru.
| Momen Libur Imlek 2026: 4 Rekomendasi Hotel di Tawangmangu Karanganyar, Bisa Nikmati Alam |
|
|---|
| Libur Long Weekend dan Tahun Baru Imlek Dongkrak Okupansi Hotel di Karanganyar, Capai 95 Persen |
|
|---|
| Libur Imlek 2026 Bernuansa Alam, Ini 5 Rekomendasi Hotel di Tawangmangu Karanganyar |
|
|---|
| Libur Imlek 2026, Rekomendasi 5 Menu Kuliner di Sragen, Ada Opor Ayam |
|
|---|
| Mengenal Kue Moho atau Hwat Kwee, Kuliner Khas Solo Perpaduan Tionghoa-Jawa, Laris Manis saat Imlek |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/solo/foto/bank/originals/lampion-imlek-solo.jpg)