Imlek 2026

Kenapa Perayaan Imlek di Solo Identik dengan Lampion? Begini Sejarah Panjangnya

Lantas, apa yang membuat lampion menjadi simbol tak terpisahkan dari perayaan Imlek di Solo? Begini kisahnya.

Tayang:
Penulis: Tribun Network | Editor: Hanang Yuwono
TRIBUNTRAVEL.COM
ORNAMEN IMLEK - Ribuan lampion dipasang di kawasan Pasar Gede, Solo, Jawa Tengah, untuk menyambut perayaan Tahun Baru Imlek, Rabu (6/2/2019). Beginilah sejarah lampion bisa jadi ornamen khas Imlek di Solo. 

Ringkasan Berita:
  • Tiap Hari Imlek, pemasangan lampion merah yang menghiasi jalan-jalan seperti Balai Kota dan Pasar Gede menjadi simbol kemeriahan dan harapan baik, serta melambangkan keberuntungan, kemakmuran, dan kesuksesan.
  • Lampion memiliki sejarah sejak Dinasti Tang dan dipercaya dapat mengusir kejahatan, serta menjadi simbol peneragan kehidupan yang lebih baik.
  • Pemasangan lampion juga mencerminkan semangat toleransi antarumat beragama, menjadikan Solo sebagai kota yang merayakan keberagaman budaya.

 

TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Perayaan Tahun Baru Imlek di Solo identik dengan lampion merah yang cantik.

Lampion-lampion dengan berbagai bentuk dan warna menghiasi sepanjang jalur dari Balai Kota Solo hingga Pasar Gede, menambah keceriaan dan atmosfer meriah khas perayaan Imlek.

Tradisi ini menjadi salah satu elemen penting dalam perayaan Imlek, tak hanya di Solo, tetapi di seluruh dunia, terutama di kalangan masyarakat Tionghoa.

Baca juga: 5 Rekomendasi Tempat Makan Instagramable di Klaten Jateng : Cocok untuk Kulineran Libur Imlek 2026

Lampion yang berwarna merah terang sering dipasang di rumah, tempat ibadah, kawasan pecinan, dan berbagai tempat umum lainnya, menciptakan suasana meriah dan penuh harapan.

Lantas, apa yang membuat lampion menjadi simbol tak terpisahkan dari perayaan Imlek?

Mari kita telusuri lebih jauh.

Lampion dan hiasan menyambut tahun baru imlek di sekitar Balai Kota Solo menuju Pasar Gede.
ORNAMEN IMLEK - Lampion dan hiasan menyambut tahun baru imlek di sekitar Balai Kota Solo menuju Pasar Gede. (TribunSolo.com/Ahmad Syarifudin)

Sejarah Lampion dalam Perayaan Imlek

Lampion, atau yang dalam bahasa Mandarin disebut "Denglong", memiliki makna yang sangat mendalam dalam budaya Tionghoa.

Asal-usul penggunaan lampion dalam perayaan Imlek dapat ditelusuri hingga zaman Dinasti Tang (618-907 Masehi). Pada masa itu, lampion digunakan untuk meramaikan perayaan Tahun Baru Imlek.

Lampion bukan sekadar ornamen dekoratif, melainkan simbol harapan dan penerangan kehidupan di tahun baru.

Harapan akan kemakmuran, rezeki, kesuksesan, dan kesehatan yang lebih baik dari tahun sebelumnya diterangi oleh cahaya lampion yang menerangi kegelapan.

Baca juga: Mitos Imlek di Solo, Kenapa Selalu Turun Hujan dan Apa Maknanya?

Selain itu, warna merah pada lampion juga memiliki arti tersendiri. Merah melambangkan keberuntungan, kemakmuran, dan kesatuan.

Masyarakat Tionghoa percaya bahwa lampion merah akan membawa keberuntungan dan membuka jalan rezeki.

Tradisi ini pun semakin berkembang dan menjadi bagian tak terpisahkan dari Festival Lampion, atau Yuan Xiao Jie, yang dirayakan pada hari ke-15 bulan pertama kalender Lunar, bertepatan dengan Cap Go Meh.

Sejumlah lampion terpasang di atas Tugu Jam Pasar Gede Solo, Selasa (7/1/2020).
TRADISI IMLEK - Sejumlah lampion terpasang di atas Tugu Jam Pasar Gede Solo, Selasa (7/1/2020). (TRIBUNSOLO.COM)

Lampion dan Legenda Nian

Sejarah lampion dalam Imlek juga terkait dengan legenda mengenai monster Nian, yang dipercaya sebagai makhluk jahat yang mengganggu warga pada malam tahun baru.

Sumber: TribunSolo.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved