Kawan Tuli Coffee and Space

Kawan Tuli Coffee and Space di Solo, Tempat Dua Dunia Bertemu Tanpa Batas, Tak Ada Sapaan Barista

Di sini tidak ada barista yang akan menyambut, “Mau pesan apa?”. Sebab, semua barista di sini tuli.

Tayang:
TribunSolo.com/Ahmad Syarifudin
KAFE UNIK - Suasana Kawan Tuli Coffee and Space yang berlokasi di Jalan Ronggowarsito No.16, Kp. Baru, Kec. Ps. Kliwon, Kota Surakarta, Jawa Tengah, Minggu (12/4/2026). 

Ringkasan Berita:
  • Kawan Tuli Coffee hadir sebagai ruang interaksi antara teman dengar dan tuli.
  • Pengunjung diajak merasakan pengalaman komunikasi non-verbal sederhana.
  • Tujuannya membangun kesadaran inklusivitas dan membuka peluang kerja difabel.

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Ahmad Syarifudin

TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Di tengah menjamurnya coffee shop di Kota Solo, ada salah satu coffee shop yang mencoba peruntungan, Kawan Tuli Coffee and Space.

Di sini tidak ada barista yang akan menyambut, “Mau pesan apa?”.

Sebab, semua barista di sini tuli.

Saat aku datang hanya ada salah satu karyawan dengan papan tulis di depannya.

Suasana Kawan Tuli Coffee and Space berlokasi di Jalan Ronggowarsito No.16, Kp. Baru, Kec. Ps. Kliwon, Kota Surakarta, Jawa Tengah
Suasana Kawan Tuli Coffee and Space berlokasi di Jalan Ronggowarsito No.16, Kp. Baru, Kec. Ps. Kliwon, Kota Surakarta, Jawa Tengah (TribunSolo.com/Ahmad Syarifudin)

Ia memandang saya dengan tatapan menunggu apa yang akan aku katakan, tentu saja secara visual.

Baca juga: Kampung Batik Kauman Solo Diserbu Wisatawan, Bangunan Heritage & Kedai Kopi Kekinian Jadi Spot Foto

Aku yang tak bisa bahasa isyarat menuliskan maksud kedatanganku untuk berbincang dengan Co-Founder Kawan Tuli Coffee and Space, Florentino Bintang.

Saat ia menghampiriku, kami berbincang banyak hal.

Namun satu hal yang langsung aku amini: Kita masih jauh dari inklusif.

“Ketika teman-teman dengar mau pesan mereka pasti bingung. Mau pesan matcha cloud. Mereka berdiri di situ. Mereka memaksa berinteraksi. Dari situ muncul ada spark of understanding,” ungkap Florentino, kepada TribunSolo.com, Jumat (10/4/2026). 

Aku seakan datang ke dunia mereka.

Saat semua pelayan tuli, lalu sebagai teman dengar aku merasakan sebagaimana yang mereka rasakan saat mengakses fasilitas publik yang semestinya aksesibel juga untuk mereka.

“Gini ya rasanya. Kalau misal kita reverse posisinya teman-teman tuli antri di puskesmas yang nggak ada nomornya dipanggil. Kaya gitu rasanya. Ini dalam day to day basis kita pengen teman-teman dengar punya experience yang sama,” jelas Tino, sapaan akrabnya.

Interaksi Tak Harus Bahasa Isyarat

Ia pun menyadari masih minim teman-teman dengar yang menguasai bahasa isyarat.

Ia tak saklek orang yang datang ke coffee shop-nya harus menguasai bahasa isyarat.

Sumber: TribunSolo.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved