Fakta Menarik Tentang Solo
Kenapa Sala Disebut Solo? Begini Penjelasan dan Sejarahnya
Namun, tak sedikit masyarakat yang bertanya-tanya, mengapa nama resminya Surakarta, tetapi lebih populer disebut Solo?
Penulis: Tribun Network | Editor: Hanang Yuwono
Penyebutan tersebut kemudian semakin populer dan digunakan secara luas oleh masyarakat hingga sekarang.
Sala sebenarnya adalah nama desa tempat berdirinya Keraton Surakarta Hadiningrat.
Dengan kata lain, Surakarta merupakan nama resmi kerajaan dan wilayah pemerintahan, sedangkan Solo atau Sala adalah nama populer yang digunakan masyarakat sehari-hari.
Surakarta dan Solo, Apa Bedanya?
Hingga kini masih banyak orang menganggap Surakarta dan Solo adalah dua wilayah berbeda.
Padahal, keduanya merujuk pada kota yang sama.
Nama resmi kota tersebut adalah Surakarta, sedangkan Solo merupakan sebutan yang lebih akrab di masyarakat.
Nama Solo sendiri berasal dari Desa Sala, lokasi awal berdirinya Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.
Selain sebagai nama kota, Surakarta juga pernah digunakan sebagai nama eks karesidenan yang meliputi tujuh wilayah di Solo Raya, yaitu Kota Solo, Boyolali, Klaten, Sukoharjo, Karanganyar, Sragen, dan Wonogiri.
Baca juga: Belajar Sejarah Sekaligus Rekreasi, Ini Daftar Tempat Wisata Budaya dan Sejarah di Karanganyar
Berkaitan dengan Perpecahan Kerajaan Mataram
Setelah pusat kerajaan pindah ke Desa Sala, konflik internal Kerajaan Mataram ternyata belum berakhir. Kerajaan masih menghadapi perlawanan dari Raden Mas Said dan Pangeran Mangkubumi.
Perselisihan tersebut akhirnya menghasilkan Perjanjian Giyanti pada 13 Februari 1755.
Isi perjanjian itu menjadi tonggak penting dalam sejarah Jawa karena membagi Kerajaan Mataram menjadi dua kekuasaan, yaitu Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan Kasultanan Yogyakarta Hadiningrat.
Sejak saat itu, Kerajaan Mataram Islam resmi berakhir dan lahirlah dua pusat pemerintahan baru di Jawa.
Asal-usul Nama Sala dari Tanaman
Selain berkaitan dengan nama desa, kata Sala juga diyakini berasal dari nama tanaman yang dahulu tumbuh subur di kawasan tersebut.
Beberapa sumber menyebut tanaman sala banyak ditemukan di wilayah tempat berdirinya Keraton Surakarta.
Keyakinan ini bahkan diperkuat oleh penelitian terhadap sebuah pohon tua yang berada di halaman Keraton Surakarta Hadiningrat.
| Dulu Lahan Pacuan Kuda Milik Mangkunegaran, Kini Jadi Stasiun Terbesar di Kota Solo |
|
|---|
| Makna Tradisi Mitoni, Ritual Selamatan Kehamilan 7 Bulan yang Masih Eksis di Solo Raya |
|
|---|
| Makna Batik Parang yang Dilarang Dikenakan di Keraton Solo dan Mangkunegaran |
|
|---|
| Tempe Gembus Mudah Dijumpai di Angkringan Solo, Ternyata Pernah Jadi Penyelamat Saat Krisis Pangan |
|
|---|
| Kisah Menarik Kelurahan Gajahan di Solo, Ternyata Dulu Tempat Kandang Gajah Milik Keraton Surakarta |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/solo/foto/bank/originals/patung-slamet-riyadi-ikon-solo.jpg)