Breaking News:

Solo KLB Corona

Wali Murid di Klaten Sebut Perlu Adanya Kombinasi Antara KBM Daring dan Luring Agar Anak Tak Jenuh

Metode kegiatan belajar mengajar (KBM) di Kabupaten Klaten masih menerapkan sistem daring atau online. Hal ini dilakukan untuk mencegah penularan Covi

Tribunsolo.com/Mardon Widiyanto
Ilustrasi Pendampingan Siswa-Siswi dalam Kegiatan Belajar Mengajar Secara Daring oleh Orang Tua di Rumah, Kamis (30/7/2020). 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Mardon Widiyanto

TRIBUNSOLO.COM, KLATEN - Metode kegiatan belajar mengajar (KBM) di Kabupaten Klaten masih menerapkan sistem daring atau online.

Hal ini dilakukan untuk mencegah penularan Covid-19 pada murid, mengingat kasus positif covid-19 di Kabupaten Klaten masih terus bertambah.

Meski demikian, ada beberapa orang tua murid yang mengeluhkan jika kegiatan belajar mengajar (KBM) dengan daring secara terus-menerus akan membuat anak-anak menjadi jenuh saat belajar.

Seperti yang diungkapkan salah satu wali murid asal Desa Kalitengah, Kecamatan Wedi, Laurentius Sukamta (48).

Setelah Menabung 15 Tahun, Nenek Penyapu Jalan Ini Kurban Sapi dan Kambing

Tebing Longsor di Kemuning Renggut 1 Nyawa, BPBD Karanganyar Sebut Tanah di Lokasi Rawan Longsor

Tertular dari Sang Anak, Ibu di Juwiring Klaten Positif Covid-19, Kini Keduanya Dirawat di RS

Viral Tukang Ojek Menangis karena Motornya Dibawa Kabur Penumpang, Sempat Antar Pelaku 40 KM

Dia khawatir anaknya menjadi jenuh belajar, jika KBM daring ini masih terus diterapkan.

"Sebelumnya, kami mengeluhkan dengan KBM secara daring ini, karena jika dilakukan terus menerus, akan membuat anak-anak menjadi jenuh," kata Sukamta kepada TribunSolo.com, Kamis, (30/7/2020).

Dia mengatakan sebagai seorang guru seharusnya dapat memberikan pengantar dan penugasan kepada anak.

Sehingga perlu ada solusi, seperti kombinasi model pembelajaran di tengah pandemi Covid-19.

Selain dilakukan secara daring juga dilakukan pembelajaran dengan luring secara terbatas dengan tetap menerapkan protokol Covid-19 ketat.

"Soalnya anak saat ini mengiranya bukan sekolah, mengingat pembelajaran hanya dilakukan secara daring di sekolah saja," jelas Sukamta.

Setiap hari anaknya mulai melakukan pembelajaran sejak Pukul 08.00 WIB dengan menggunakan aplikasi.

Dalam pendampingan, dirinya tak bisa mendampingi secara penuh.

"Untungnya saja istri saya bisa memberikan pendampingan dan menguasai materi pembelajaran anak, kalau saya baru bisa memberikan pendampingan setelah pulang kerja," jelas Sukamta.

"Mengingat ilmu itu juga berkembang jadi terkadang kesulitan untuk mempelajari seperti halnya mata pelajaran IPA, akhirnya saya juga harus melakukan pencarian di internet untuk memahaminya terlebih dahulu," lanjut Sukamta. (*)

Penulis: Mardon Widiyanto
Editor: Agil Tri
Sumber: TribunSolo.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved