Pemulung Tambal Jalan di Sukoharjo
Potret Rumah Pemulung yang Perbaiki Jalan Rusak Pakai Uang Pribadi: Dinding Triplek, Lantai Semen
"Saya dari kecil hidup di desa, setelah orangtua meninggal, saya yang masih kecil menumpang di rumah kakak saya, setelah itu saya merantau ke Solo,"
Penulis: Ilham Oktafian | Editor: Ryantono Puji Santoso
Laporan Wartawan TribunSolo.com, Ilham Oktafian
TRIBUNSOLO.COM, SUKOHARJO - Rumah Mulyadi (45) di Desa Mayang, Kecamatan Gatak, Sukoharjo jauh dari kata mewah.
Ya, pemulung yang tiap hari memperbaiki jalan rusak dengan uang pribadinya itu hidup sederhana.
Ia tinggal bersama mertuanya, rumah Mulyadi sendiri berada di bagian paling depan.
Baca juga: Akhir Kisah 2 Warga Sragen Rebutan Tanah Selebar 33 CM Selama 4 Tahun, Ketua RT Sebut Sudah Selesai
Baca juga: Penghasilan Rp 30 Ribu per Hari, Pemulung yang Sering Perbaiki Jalan Hanya Bisa Beli Semen Eceran
Saat TribunSolo.com berada di lokasi, tampak bagian depan dipenuhi hasil rongsokannya, mulai dari bahan plastik sampai besi.
Beberapa hasil rongsokan yang sudah dipilah ia letakkan di dalam karung dan siap untuk ditukar dengam sejumlah uang.
Di samping gunungan rongsokan itu, Mulyani dan kelima anaknya beristirahat.
Untuk tidur, mereka berada di salah satu kamar yang hanya beralaskan semen.
Dinding dari kediamannya pun hanya terpasang triplek.
Sikap sederhana yang dilakoni Mulyani rupanya bukan tanpa sebab.
Ia yang lahir di Sragen mengaku sudah terbiasa hidup susah dengan segala keterbatasannya.
"Saya dari kecil hidup di desa, setelah orangtua meninggal, saya yang masih kecil menumpang di rumah kakak saya, setelah itu saya merantau ke Solo dari tahun 1988 hidup menggelandang," katanya Senin (23/11/2020).
Beberapa tahun kemudian, ia menikah dan tinggal di Mayang, Gatak, Sukoharjo.
"Kalau saya memulung ini dianggap susah, rasanya lebih susah saat saya dulu menggelandang," aku dia.
"Saya sudah bersyukur seperti ini," imbuhnya.