Klaten Bersinar
Selamat Datang di Klaten Bersinar

Berita Boyolali Terbaru

Siap-siap, Usai Hotel Bintang 3 Pertama Kini di Boyolali Hadir Wisata Cimory, Lokasi di Kawasan Selo

Tempat wisata baru, hotel mewah untuk wisatawan dan aneka kuliner baru di Kabupaten Boyolali kian bermunculan.

Penulis: Tri Widodo | Editor: Asep Abdullah Rowi
TribunSolo.com/Tri Widodo
ILUSTRASI : Suasana di kawasan wisata dingin yang menjadi jujukan wisatawan di Puncak Selo, Kabupaten Boyolali, Selasa (17/8/2021). 

Patung berukuran besar itu sengaja didirikan oleh Pemkab Boyolali di Selo sebagai tanda bahwa PB VI punya peran besar dalam perlawanan terhadap Belanda di Selo.

Patung PB VI Simpang PB VI setinggi lebih dari 4 meter itu berdiri tegak di tengah-tengah bundaran Simpang PB VI menelan anggaran Rp 674 juta dari APBD Boyolali.

Solo Tidak Punya

Pegiat Sejarah Boyolali, R. Surojo mengaku patung raja Solo berukuran besar ini hanya ada di Boyolali.

"Solo malah tidak punya," ujarnya kepada TribunSolo.com, Sabtu (11/9/2021).

Dia menyatakan Perang Jawa yang dipimpin Pangeran Diponegoro yang meletus pada tahun 1825 tak lepas dari Pesanggrahan Selo PB VI Selo.

Di Pesanggrahan itulah, Pangeran Diponegoro bersama Pakubuwono VI menyusun strategi perang dalam melawan pasukan Belanda.

Tak hanya untuk menyusun strategi perang saja, namun logistik dan persenjataan prajurit Diponegoro juga didapatkan di Selo.

Baca juga: Sebelum Meninggal Dunia, Putra Paku Buwono XII GPH Noer Cahyaningrat Berjuang Lawan Sakit Tumor Otak

“PB VI memberikan logistik perang terhadap perjuangan Diponegoro juga di Selo,” ujarnya.

Dia menyebut PB VI sengaja memilih Selo sebagai tempat penyusunan strategi dan pendistribusian logistik.

Adapun Selo yang berada di dataran tinggi di lereng Merapi-Merbabu, sangat tepat untuk mengelabui pasukan Belanda dengan menjadikan lokasi tersebut sebagai Pesanggrahan untuk meditasi Raja.

Belanda pun lalu percaya dan sedikitpun tak mencurigai dengan aktifitas PB VI di Selo tersebut. Apalagi di lereng Merbabu itu, PB VI juga membuat sebuah Goa yang dulu bernama Goa Raja.

“Padahal, di situlah PB VI dan Pangeran Diponegoro susun strategi perang dan PB VI memberikan senjata kepada pasukan Diponegoro,” ucapnya.

Selo yang berada pada jalur lurus ke Jogja yakni melalui lereng Merapi, wilayah Kecamatan Musuk, Kemalang, hingga Sleman cukup strategis sebagai jalur komunikasi pasukan telik sandi Diponegoro yakni Soijoyo warga Musuk.

“Untuk mengamankan Diponegoro saat menuju Selo, ada pasukan Benteng Komunikasi. Sehingga Pangeran Diponegoro bisa dengan aman dan selamat saat ke Selo,” tambahnya.

Hingga akhirnya, kedua pahlawan nasional itu ditangkap Belanda dalam waktu yang hampir bersamaan.

“Kedua Pahlawan Nasional itu tertangkap Belanda pada tahun 1830. Diponegoro ditangkap di Residen Belanda Magelang, sedangkan PB VI ditangkap di Parangtritis,” ujarnya.

“PB VI begitu ditangkap langsung diasingkan ke Ambon, tanpa sistem peradilan,” imbuhnya.

Dirintis Sejak Seno Samodro

Paguyuban Kawula Karaton Surakarta (Pakasa), KRA Teguh Widodo Hadi Nagoro, mengungkapkan pembangunan patung merupakan rangkaian pembangunan Simpang PB VI sejak tiga tahun lalu semasa Bupati Seno Samodro.

“Pembangunan patung plus pendukung seperti taman dan air mancur sekitar Rp 674 juta dari Pemkab Boyolali,” ujarnya.

Pembangunan dilakukan dalam tiga tahap. Tahap pertama pembangunan jalan, tahap kedua pembangunan kios dan penyempurnaan.

Dan tahap ketiga pembangunan patung PB VI, taman dan air mancur serta panggung hiburan.

“Ini nanti bakal menjadi ikon baru di Boyolali. Kami berharap Pemkab Boyolali membangun lebih banyak ikon berbau budaya," jelasnya.

"Diharapkan awal November nanti bisa diresmikan,” lanjut dia. (*)

Sumber: TribunSolo.com
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved