Berita Sukoharjo Terbaru

Dokter Tersangka Teroris Ditembak Mati, Anggota DPR RI Fraksi Gerindra: Densus 88 Harus Evaluasi

Anggota DPR RI Komisi 3 dari Fraksi Gerindra, Romo H.R Muhammad Syafi'i, menyoroti penangkapan tersangka kasus terorisme yang melibarkan dr. Su.

TribunSolo.com/Agil Tri
Anggota DPR RI Komisi 3 dari Fraksi Gerindra, Romo H.R Muhammad Syafi'i, saat berkunjung ke Mapolres Sukoharjo, Kamis (17/3/2022). 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Agil Tri

TRIBUNSOLO.COM, SUKOHARJO - Anggota DPR RI Komisi 3 dari Fraksi Gerindra, Romo H.R Muhammad Syafi'i, menyoroti penangkapan tersangka kasus terorisme yang melibarkan dr. Su, di Kabupaten Sukoharjo.

Dalam proses penangkapan itu, dr. Su tewas saat proses penangkapan di Desa Sugihan, Kecamatan Bendosari, Sukoharjo, Rabu (9/3/2022) lalu.

"Kalau dia membawa kendaraan mengancam jiwa orang banyak, itu beda lagi. Itu harus motifnya," katanya, Kamis (17/3/2022).

Baca juga: Densus 88 Antiteror Polri Penuhi Panggilan Komnas HAM soal Penembakan Tersangka Teroris di Sukoharjo

Baca juga: Soal Penangkapan Dokter Tersangka Teroris di Sukoharjo, Pengamat: Jamaah Islamiyah Ubah Strategi

"Mungkin dia kalap, panik, mungkin nekat sehingga membawa mobil seperti memang bisa mengganggu lalulintas. Tapi kalau itu dijadikan alasan dia dituduh teroris itu tidak benar, karena tidak sesuai dengan klausul terorisme yang ada di undang-undang nomor 5 tahun 2018," tambahnya.

Muhammad Syafi'i mengatakan, jika tindakan dr. Su itu dianggap berbahaya, maka petugas masih bisa melakukan tindakan lainnya. Seperti menembak ban mobil milik dr. Su.

Sebab, dr. Su tidak membawa senjata, dan berjalannya harus dibantu dengan tongkat.

Baca juga: Riwayat Hidup Dokter S, Terduga Teroris yang Ditembak Mati Densus 88: S1 Kedokteran UNS, Lulus 1994

"Di pasal 28 undang-undang nomor 5 tahun 2018 itu, bahwa penangkapan terduga terorisme harus menjunjung tinggi hak asasi manusia, yang dilakukan secara penuh kehati-hatian. Artinya, dia tidak boleh disiksa, tidak boleh diperlakukan secara kejam, tidak boleh dihina, atau dijatuhkan harkat martabatnya sebagai manusia," ucapnya.

"Jadi menurut saya, bahwa yang terjadi ini ada kesalahan prosedur, paling tidak tadi pak Kepala Densus Belasungkawa dan memberi respon seperti kejadian ini tidak akan terulang lagi," tambahnya.

Sehingga, kedepannya Densus 88 diharapkan melakukan evaluasi kembali dalam proses penangkapan terduga teroris.

Baca juga: Densus 88 Ungkap Alasan Tembak Mati Teroris di Sukoharjo, Bantah Dokter S Tak Melawan karena Stroke

Sebab, yang terjadi pada dr. Su adalah dia tidak membawa senjata, ataupun bom saat ditangkap.

"Kenapa tidak ditangkap waktu dia membuka praktik. Dia kan membuka praktik, dokter, walapun katanya sepi. Jadi itu lebih mungkin, ketika tidak ada pasien diambil," kata dia.

"Kata tetangga sebelahnya, dia suka berkebun, di belakang rumanya dia suka menanam gitu. Waktu menanam itu ditangkap lebih smoth," tambahnya.

Terkait status tersangka terorisme sendiri, dr. Su bukanlah sosok yang melakukan aksi terorisme.

Halaman
12
Sumber: TribunSolo.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved