Ledakan di Asrama Polisi Sukoharjo
Kesaksian Pemilik Paket yang Meledak Asal Klaten : Kaget, Padahal Barang Sudah Disita Polisi 2021
Pemuda asal Desa Sidowayah, Kecamatan Polanharjo dijemput polisi karena namanya tertera dalam paket yang meledak di Asrama Polisi Sukoharjo.
Penulis: Ibnu DT | Editor: Asep Abdullah Rowi
Laporan Wartawan TribunSolo.com, Ibnu Dwi Tamtomo
TRIBUNSOLO.COM, KLATEN - Mimpi apa semalam, ANH, pemuda 22 tahun asal Klaten.
Tak tahu apa-apa, dia pemuda asal Desa Sidowayah, Kecamatan Polanharjo dijemput polisi.
Ternyata dia dimintai keterangan setelah namanya tercantum dalam paket yang meledak di rumah Bripka Dirgantara Pradipta (35) di Asrama Polisi Sukoharjo, Minggu (25/9/2022).
ANH membenarkan penjemputan itu, lantaran dalam paket ada namanya.
"Anggota ke rumah dan tanya soal kejadian yang dulu. Saat itu saya jawab apa adanya. Dan saat itu saya langsung dibawa ke Grogol (Sukoharjo)," terangnya kepada TribunSolo.com.
Diterangkan oleh ANH bahwa saat itu, dirinya diperiksa selama beberapa jam kemudian sekitar pukul 02.00 WIB dirinya diperbolehkan ke rumahnya dan diantar oleh anggota Kepolisian.
Dirinya mengatakan jika semalam, dirinya dipanggil untuk menjawab beberapa pertanyaan terkait awal mula kejadiannya soal paket tersebut.
"Kalau paket itu dulu saya beli di online. Dan itu saya beli untuk perayaan Hari Raya idul Fitri pada tahun 2021," jelasnya.
Dirinya tak menampik bahwa isi paket tersebut merupakan bahan baku petasan.
"Awalnya tuh setelah saya beli (bahan petasan) terus saya gunakan sedikit sisanya sempat saya posting di status WhatsApp dan status Facebook," aku dia.
Baca juga: Pengakuan Pengirim Paket yang Meledak di Asrama Polisi Sukoharjo, Sebut Isinya Sumbu Buat Usir Tikus
Baca juga: Imbas Ledakan di Asrama Polisi Sukoharjo, Bocah Trauma, Menangis Sejadi-jadinya karena Ketakutan
"Terus kebetulan ada yang komentar terus diajak COD di Sukoharjo tanya harganya berapa, Tapi ternyata saya terkena razia. Saat razia itu, 7 hari jelang Idul Fitri," tambahnya.
Menurutnya paket tersebut tidak hanya berisi bubuk bahan baku petasan saja, namun di dalamnya juga terdapat sumbu yang digunakan untuk membuat petasan.
"Awalnya dulu saya beli sekitar 2 kg terus sempet saya pakai dan sisanya sekitar 1,8 atau 1,9 kg itu yang dijadikan barang COD (cash on delivery)," katanya.
"Dulu saya jual per ons Rp 35 ribu, tapi permintaannya cuman dua atau tiga ons waktu itu dan sisanya ada di rumah. Tapi karena waktu itu ada razia jadi semua diambil oleh pihak Kepolisian (dari rumah)," imbuhnya.