Berita Boyolali Terbaru
Erupsi Merapi 2010 Jadi Awal Teror Geng Kera ke Warga Gobumi di Boyolali : Turun Gunung Cari Makan
Kehidupan warga Gobumi yang tenang terusik oleh geng kera yang turun gunung semenjak erupsi Merapi 2010 silam
Penulis: Tri Widodo | Editor: Vincentius Jyestha Candraditya
Laporan Wartawan TribunSolo.com, Tri Widodo
TRIBUNSOLO.COM, BOYOLALI - Erupsi Merapi pada 2010 silam, merubah nasib warga Gobumi, Desa Mriyan, Kecamatan Tamansari, Boyolali.
Mereka mendapatkan teror dari geng kera ekor panjang semenjak erupsi terjadi.
Kawanan kera yang turun gunung saat Erupsi saat ini tak mau kembali naik lagi.
Merekapun akhirnya mendiami jurang-jurang atau gua yang ada tak jauh dari kawasan pemukiman penduduk itu.
Baca juga: DAS Bendungan Cengklik Boyolali Ditanami Rambutan, Kelengkeng hingga Jambu, Ini Tujuan Dibaliknya
"Sebelum tahun 2010 itu keranya juga sudah ada. Tapi tak sebanyak setelah 2010," kata Widiyanto, salah seorang warga setempat kepada TribunSolo.com, Minggu (30/10/2022).
Warga Gobumi sebelumnya bisa hidup damai sebelum akhir 2010.
Mereka mampu hidup dengan menanami lahan pertaniannya dengan aneka tanaman sayur-sayuran.
Berbagai jenis sayuran dapat timbuh subur di lahan yang ada di lereng Merapi itu.
Warga pun hidup dalam berkemakmuran karena hasil alam yang melimpah ruah.
Baca juga: Kisah Dukuh Gobumi di Boyolali : Warga Satu Desa Menderita, Dibuat Miskin karena Teror Geng Kera
Saat itu, populasi kera yang tak begitu banyak cukup mudah diatasi.
Cukup dengan teriakan saja, kera yang mau masuk ladang langsung enyah.
Tapi pasca erupsi Merapi 2010 hingga sekarang, jangan teriakan, di lempar gumpalan tanah saja belum tentu kera itu mau pergi.
Kera yang turun gunung dan tinggal di dekat kawasan pemukiman terus berkembang biak.
Bahkan perkembang biakan kera ini sangat cepat.
Saat ini, populasinya sudah ribuan ekor kera.
Baca juga: Kuliner Boyolali: Bakso Buaya Darat, saat Dibuka Penuh dengan Isian Daging dan Urat
"Makanya ini petani harus nunggu dan memasang jaring keliling. Supaya tanaman bunga tidak rusak," kata Widiyanto.
"Tunas muda dari bunga mawar bakal makan juga," jelasnya.
Meski telah dipagar keliling dengan jaring, namun kawanan kera ini masih bisa menerobos.
Dimana kalau ada pohon yang ada di sekitar ladang maka, ribuan kera ini akan naik semua supaya pohon itu mendoyong ke lahan setelah melewati pagar jaring.
Selain itu, kera ini juga punya cara lain untuk menembus pagar ini.
Yakni dengan cara menaikkan salah satu titik pagar untuk mereka masuk.
Baca juga: Niatnya Nyetrum Ikan di Kali Pepe, Warga Boyolali Ini Kaget Dapatnya Mayat : Jenis Kelamin Laki-laki
"Tak gagas-gagas, kawanan kera ini tak pernah kehabisan akal untuk bisa mengbrak-abrik lahan kami ini," jelasnya.
Dia pun berharap adanya solusi yang bisa diberikan untuk mengatasi permasalahan warga ini.
Sebab, jika dibiarkan terus menerus, tak banyak generasi yang mau tinggal di Dukuh yang paling tinggi ini.
"Sektor pertanian sudah tidak bisa diandalkan, mau cari apa lagi disini," pungkasnya.
(*)