Klaten Bersinar
Selamat Datang di Klaten Bersinar

Kasus DBD di Sragen

Kasus DBD di Sragen Sudah Tersebar di 14 Kecamatan, Tapi 6 Kecamatan Ini Masih Nol Kasus

Kecamatan yang belum ditemukan kasus DBD antara lain di Kalijambe, Sambungmacan, Karangmalang, Sidoharjo, Gemolong dan Jenar.

TribunSolo.com/Septiana Ayu
Fogging di parit yang ada di Desa Pilangsari, Kecamatan Ngrampal, Kabupaten Sragen, Selasa (6/2/2024). 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Septiana Ayu Lestari

TRIBUNSOLO.COM, SRAGEN - Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) sudah menyebar ke 14 kecamatan di Kabupaten Sragen per Senin (5/2/2024).

Namun, masih ada kecamatan yang aman dari kasus DBD alias nol kasus.

Kecamatan yang belum ditemukan kasus DBD antara lain di Kalijambe, Sambungmacan, Karangmalang, Sidoharjo, Gemolong dan Jenar.

Diketahui, kasus DBD di Sragen kembali bertambah per Senin (5/2/2024) menjadi 46 kasus.

Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Sragen, Udayanti Proborini.

"Total sampai hari ini ada 46 kasus Demam Berdarah Dengue," kata Udayanti.

Sedangkan, kasus DBD sudah tersebar di 14 kecamatan yang ada di Kabupaten Sragen.

Kasus DBD terbanyak ditemukan di Kecamatan Sumberlawang sebanyak 8 kasus, kemudian di Kecamatan Plupuh dan Mondokan ada 5 kasus.

Baca juga: Waspada! Bukan Cuma Genangan Air, Nyamuk Penyebab DBD Suka Hidup di Rumah dengan Pohon Rimbun

Baca juga: Bocah 6,5 Tahun di Sragen Meninggal Diduga Terjangkit DBD, Sempat Dirawat di Rumah Sakit 

Kemudian, masing-masing ditemukan 4 kasus di Kecamatan Masaran, Ngrampal, dan Sukodono.

Di Kecamatan Sragen, Tanon, Gesi, dan Tangen ditemukan masing-masing 3 kasus.

Sedangkan di Kecamatan Kedawung, Sambirejo, Gondang, dan Miri masing-masing ditemukan satu kasus.

Total terdapat 277 kasus demam dengue yang tersebar di seluruh kecamatan di wilayah Sragen.

Hingga kini, ada 2 warga Sragen yang meninggal dunia karena DBD.

Untuk menangani kasus tersebut, Dinas Kesehatan Kabupaten Sragen telah mengumpulkan pengurus seluruh fasilitas kesehatan di Kabupaten Sragen.

"Kami kumpulkan dari rumah sakit, faskes, puskesmas, klinik baik milik pemerintah maupun swasta untuk bisa dilakukan koordinasi terkait kasus seperti ini," jelasnya.

"Bagaimana percepatan penanganan, bagaimana melakukan percepatan rujukan dan bagaimana pelaporan KDRS harus cepat," pungkasnya.

(*)

 

Sumber: TribunSolo.com
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved