WAWANCARA EKSKLUSIF

Lambang Padi Kapas Hingga Bendera Merah Putih, Sumbangsih Keraton Solo untuk RI?

Moeng menceritakan bagaimana peran besar Keraton Solo di tangan sang ayah pada awal berdirinya Republik Indonesia sebagai sebuah negara yang merdeka.

|
TribunSolo.com
GKR Wandansari Koesmurtiyah atau yang akrab disapa Gusti Moeng, saat podcast bersama TribunSolo.com 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Andreas Chris Febrianto Nugroho

TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Tepat hari ini, Sabtu (17/8/2024) Republik Indonesia (RI) memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan ke-79 tahun.

Perjalanan panjang Indonesia bisa berdiri sebagai sebuah negara ternyata tak bisa terlepas dari peran Keraton Kasunanan Solo.

Hal itu diungkap oleh putri dari raja Kasunanan Solo Pakubuwana (PB) XII, GKR Wandansari Koesmurtiyah atau yang akrab disapa Gusti Moeng.

Dalam wawancara eksklusif dengan TribunSolo.com, Moeng menceritakan bagaimana peran besar Keraton Solo di tangan sang ayah pada awal berdirinya Republik Indonesia sebagai sebuah negara yang merdeka.

Moeng menceritakan bahwa Keraton Kasunanan Solo memiliki peran penting karena PB XII menjadi sosok utama penghimpun dukungan kerajaan-kerajaan yang ada di Hindia Belanda kala itu untuk menyokong terbentuknya NKRI.

"Bapak kan raja pertama yang mendukung dan mengakui berdirinya republik. Terus seakan-akan keraton tidak berperan, padahal di BPUPKI kan sudah jelas," tutur Moeng saat menceritakan kondisi Keraton Kasunanan Solo saat ini, dalam podcast bersama TribunSolo.com, Jumat (9/8/2024).

Tak hanya itu saja, bukti tersebut berupa Salinan Risalah rapat BPUPKI pada tahun 1945 sampai saat ini pun masih disimpan oleh Moeng.

Dalam risalah tersebut, Moeng mengatakan terdapat bukti penting bagaimana peran Keraton Kasunanan Solo dalam penentuan bendera kebesaran kerajaan turunan Mataram Islam tersebut dijadikan lambang bendera RI.

Tak hanya bendera merah putih, bahkan simbol benda di lambang Garuda Pancasila pun terinspirasi dari Keraton Kasunanan Solo. Simbol benda tersebut adalah padi dan kapas yang disebut Moeng tertera pada halaman 24 risalah rapat BPUPKI di awal berdirinya republik.

"Dan saya punya risalah BPUPKI itu termasuk bendera merah putih itu kan punyanya Surakarta dari Majapahit itu diminta. Itu di halaman 24, tentang permintaan di sidang BPUPKI itu bahwa bendera negara itu akan merah putih, termasuk kapas dan padi sebagai lambang negara," kata Moeng.

Sebelum digunakan oleh RI sebagai bendera maupun lambang negara. Dua hal tersebut telah lebih dahulu dipakai di Keraton Kasunanan Solo sebelum akhirnya dirombak pada masa penguasaan PB X.

Baca juga: Bantah Masih Berkonflik, Gusti Moeng Sebut PB XIII Raja Sah Keraton Solo Sesuai Pesan Sang Ayah

Baca juga: Makna Eksekusi Pintu Kori Kamandungan Keraton Solo, Tanda Berakhirnya Konflik Keturunan PB XII?

"Itu kan sudah dipakai keraton di radyalaksana itu ke atasnya dipakai oleh eyang-eyang yang dulu itu adalah Surya mataram. Sebelum PB X membuat lambang yang baru Namanya Radyalaksana itu yang sekarang sering dipakai abdi dalem," tambahnya.

Ia pun berharap peran penting Keraton Kasunanan Solo bisa kembali menjadi perhatian pemerintah. Salah satunya agar pemerintah maupun negara menghormati adanya hukum adat Keraton Kasunanan Solo.

"Dari sini yang paling utama bagi saya, monggo penyelenggara negara ini, pemerintahan ini kembalilah pada konstitusi karena pada pasal 18, negara mengakui dan menghormati kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-haknya," tegasnya.

Sumber: TribunSolo.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved