WAWANCARA EKSKLUSIF

Sejarah Sekaten Solo : Ternyata Banyak yang Hilang dari Wujud Aslinya

Sekaten selalu identik dengan pasar malam dengan berbagai wahananya mulai dari komidi putar hingga ombak banyu.

KOMPAS.com/ANGGARA WIKAN PRASETYA
Ilustrasi Sekaten Solo. 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Ahmad Syarifudin

TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Sekaten selalu identik dengan pasar malam dengan berbagai wahananya mulai dari komidi putar hingga ombak banyu.

Canggah Dalem Pakubuwono X, Kanjeng Raden Mas Tumenggung (KRMT) L. Nuky Mahendranata Nagoro mengungkapkan banyak hal yang hilang dari tradisi sakral umat muslim merayakan hari kelahiran Nabi Muhammad saw ini.

“Ada muncul musik-musik. Musik dangdut di sana. Dengan musik seperti itu gamelan tidak terdengar. Ada nilai yang disampaikan gamelan seperti itu,” ungkapnya, dalam podcast bersama TribunSolo.com.

Menurutnya, pasar malam dengan berbagai hingar bingarnya mengaburkan prosesi inti dari sekaten itu sendiri, yakni pembunyian gamelan selama seminggu di Bangsal Sekati kompleks Masjid Agung Keraton Kasunanan.

Di saat membunyikan untuk pertama kali itulah orang-orang melakukan tradi nginang, memasukkan sejumlah racikan rempah untuk dikunyah di dalam mulut. Lalu makan telur asin.

“Sekaten itu ada budaya nginang, makan telur asin atau ndog amal, pecut atau cambuk menyemangati kita. Filosofi jawa yang ada dimasukkan dalam momen Maulid Nabi,” jelasnya.

Baca juga: Awas Kena Prank! Ini Kode-kode Makanan Non-Halal di Solo : Ada Sate Jamu hingga Scooby Doo

Gongso Sekati Kyai Guntur Madu dan Guntur Sari merupakan dua gamelan yang dibunyikan secara terus-menerus selama sepekan.

Tradisi ini meneruskan ajaran Kesultanan Demak sebagai cikal bakal Keraton Kasunanan Surakarta.

Namun, karena ada perpecahan maka satu pasang gamelan dibagi dua untuk Keraton Kasunanan Surakarta dan Keraton Kasultanan Yogyakarta.

“Dua pusaka ini awalnya dimiliki Kesultanan Demak. Ketika Perjanjian Giyanti mau nggak mau harus dibagi. Kyai Guntur Madu ke Kasultanan Yogyakarta yang pasangannya masih di Solo,” jelasnya.

Di awal tradisi sekaten dilakukan tidak ada hingar bingar lain selain bunyi gamelan.

Dengan demikian dari kejauhan pun orang yang mendengar gamelan seketika memasukkan kinang ke dalam mulutnya.

“Ada nilai spiritual yang terkandung dalam gamelan itu. Ketika gending dibunyikan orang jaman dulu langsung mengunyah kinang. Dan diyakini akan berumur panjang menambah awet muda,” jelasnya.

Meski sama-sama bermakna kegembiraan, kini hingar bingar pasar malam jauh dari pemaknaan sesungguhnya bagaimana leluhur mengajarkan tradisi ini.

“Kalau jaman dahulu dipenuhi dengan makanan atau kegembiraan yang sifatnya natural. Kalau sekarang keceriaan yang kadang mengaburkan nilai sekaten itu sendiri,” ungkapnya.

Sumber: TribunSolo.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved