Mitos di Wonogiri
Asal-usul Gunung Gandul Wonogiri, Punya Mitos Terkenal : Ada Pertunjukan Wayang di Malam Tertentu
Sejarah lain yang ada di Gunung Gandul, setiap malam tertentu, ada pertunjukan wayang yang tidak bisa disaksikan secara kasat mata.
Penulis: Tribun Network | Editor: Hanang Yuwono
TRIBUNSOLO.COM, WONOGIRI - Gunung Gandul saat ini merupakan salah satu ikon Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, yang cukup populer.
Namun tahukah Tribuners? Ada mitos terkenal yang menaungi Gunung Gandul.
Salah satu warga yang tinggal di lereng Gunung Gandul, tepatnya di Kelurahan Giriwono, Teguh Widodo, pernah mengungkapkan cerita Gunung Gandul sendiri dimulai jauh sebelum Kerajaan Majapahit.
Baca juga: Asal-usul Nama Mojogedang yang Kini jadi Kecamatan di Karanganyar, Ada Jejak Raden Mas Said
Dia menyebut, dahulu di Gunung Gandul, terdapat sebuah kerajaan besar yang dikuasai oleh Nyi Ratu Rantamsari.
Kerajaan yang dipimpin Nyi Ratu Rantamsari itu dihuni oleh manusia biasa.
"Kemudian berkonflik dengan Ratu Gadung Melati yang mempunyai kekuasaan di daerah Gunung Kembengan, kalau tidak salah di Jatiroto," kata dia, kepada TribunSolo.com.
Teguh mengatakan, konflik itu disebabkan kedua ratu itu berebut seorang perjaka yang bernama Ki Joko Tarub.
Saat itu, Joko Tarub masih berusia belasan tahun.
Ketika kedua ratu itu berkelahi, Nyi Ratu Rantamsari kemudian meninggal.
Namun bisa hidup kembali saat ditetesi air.
Baca juga: Asal-usul Nama Gunung Pegat Sukoharjo dan Mitosnya : Konon Pengantin Tak Boleh Lewat Sini
Peristiwa itu terjadi berulang kali, hingga Ratu Gadung Melati jengkel.
"Akhirnya melapor ke Ratu Kidul. Selanjutnya ada titah bahwa kedua ratu itu tidak boleh mendekati Joko Tarub, sehingga dibuatlah perjanjian," jelasnya.
Adapun perjanjian itu adalah, daerah kekuasaan Nyi Ratu Rantamsari adalah sampai di wilayah Ngadirojo.
Sementara Ratu Gadung Melati, wilayah kekuasaannya Ngadirojo hingga Jatiroto.
Sejarah Gunung Gandul sendiri tidak terlepas dari sumber air yang bisa menghidupkan Nyi Ratu Rantamsari saat kalah, yakni Sendang Panguripan yang tidak diketahui secara pasti dimana letaknya.
"Kenapa dinamakan Gunung Gandul? Sebenarnya ada sumur atau air yang gemandul (menggantung) yang namanya Sendang Panguripan, itu tidak ada talinya atau gantungan, jadi gemandul. Itu sejarah yang dahulu," jelasnya.
Cerita itu didapatkannya turun temurun dari para orang tua terdahulu, soal kebenaran cerita, belum bisa terverifikasi karena tidak ada catatan sejarah menuliskan peristiwa itu.
Mitos di Gunung Gandul
Sementara itu, warga lain Wahyudi yang juga warga setempat, menceritakan versi lain sejarah Gunung Gandul itu sendiri.
Menurutnya, Gunung Gandul merupakan salah satu bagian dari laut selatan.
Seiring berjalannya waktu, terjadilah penyusutan yang kemudian memunculkan Gunung Gandul.
Baca juga: Asal-usul Desa Dalangan di Kecamatan Tawangsari Sukoharjo, Dulu Tempat Tinggal Para Dalang Terkenal
"Makanya di Gunung Gandul itu tidak pernah kehausan ibaratnya, karena di bawah itu ada sumber air, yang mungkin menyatu ke laut kidul. Sejarahnya seperti itu," kata dia.
Berdasarkan cerita sejarah yang didapatnya, Gunung Gandul sendiri juga pernah digunakan sebagai tempat persinggahan oleh Panembahan Senopati dan Pangeran Sambernyawa.
Di Gunung Gandul, kata dia, terdapat sebuah belik atau sumber air.
Menurutnya, belik itu dikuasai oleh putri yang bernama Dewi Angin Angin yang merupakan utusan dari Ratu Kidul.
Tak hanya itu, ada sebuah kerajaan atau keraton di Gunung Gandul.
Bahkan, ada pasukan tentara yang berjaga di depan pintu gerbang yang tidak terlihat.
"Dewi Angin Angin punya pengawal berwujud Kera Putih, tapi keluarnya tidak sembarangan," ujarnya.
Baca juga: Asal-usul Kecamatan Sambungmacan di Sragen, Diambil dari Dua Nama Jagoan Sakti di Kampung
Sejarah lain yang ada di Gunung Gandul, setiap malam tertentu, ada pertunjukan wayang yang tidak bisa disaksikan secara kasat mata di batu yang bernama Watu Kelir.
Dia mengatakan, pertunjukan wayang hanya mementaskan harimau putih dan harimau hitam. Setiap pertunjukan, ada seorang dalang dan juga diiringi musik gamelan.
Dia bahkan juga sempat menyaksikan secara langsung pertunjukan wayang itu. Awalnya dia hanya penasaran dengan suara gamelan yang terdengar.
"Tiap malam suro pasti ada, yang melihat sebangsa penghuni disitu. Seperti kera putih yang dimitoskan disitu," terang Wahyudi.
Menurut pengalamannya, ada sejumlah sosok lain yang menghuni Gunung Gandul, seperti ular yang berukuran besar, kera, harimau juga kereta kencana yang melintas disana.
Hingga saat ini, menurut Wahyudi masih ada sejumlah orang yang berkunjung ke Gunung Gandul untuk melakukan ritual sesuai dengan kepercayaannya.

Gunung Gandul sebagai Obyek Wisata
Di bagian lain, Sub Koordinator Destinasi Disporapar Wonogiri, Panggah Tri Asmara, mengatakan Gunung Gandul sendiri sempat menjadi tempat wisata yang sangat populer sebelum pembangunan Waduk Gajah Mungkur.
Soal nama Gunung Gandul sendiri, menurut dia ada sejumlah spekulasi yang berkembang, salah satunya batu yang berada diatas puncak, sehingga masyarakat menyebutya Gunung Gandul.
"Beberapa tahun kebelakang, teman-teman Perhutani mengarahkan kembali ke pariwisata yang dinamakan Gunung Gandul Hill Top," pungkas dia.
(*)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.