Mitos di Sukoharjo
Asal-usul Gunung Majasto di Sukoharjo, Ada Jejak Sejarah Ki Ageng Sutowijoyo
Gunung Majasto ini terletak di bagian selatan Kabupaten Sukoharjo, tepatnya di Desa Majasto, Kecamatan Tawangsari.
Penulis: Tribun Network | Editor: Hanang Yuwono
Di sini, Ki Ageng Sutowijoyo mendirikan sebuah pemukiman dan juga sebuah masjid yang sebelumnya dipindahkan dengan ilmu tinggi dari Tegalampel.
Menariknya, masjid ini didirikan di puncak Gunung Majasto, sebuah tindakan yang penuh dengan makna spiritual.
Baca juga: Asal-usul Nama Weru yang Kini jadi Kecamatan di Sukoharjo, Kisah Patah Hatinya Seorang Putri
Makam Keluarga Ki Ageng Sutowijoyo
Selain masjid, salah satu peninggalan penting yang ada di Gunung Majasto adalah makam keluarga Ki Ageng Sutowijoyo.
Ki Ageng Sutowijoyo memiliki seorang putri yang menikah dengan Ki Ageng Banjaran Sari dari Gunung Taruwongso. Hingga kini, makam mereka masih dapat ditemukan di Gunung Majasto.
Yang menarik dari makam ini adalah proses penggaliannya.
Ketika liang lahat digali, ukuran lubangnya hanya sekitar setengah meter.
Namun, yang lebih unik lagi adalah tidak ada bau yang keluar dari makam tersebut, yang menambah kesan mistis dan sakral pada tempat ini.
Oleh karena itu, Gunung Majasto juga dikenal dengan nama Bumiarum Majasto, yang berarti tanah yang tidak mengeluarkan bau.
Baca juga: Asal-usul Kecamatan Sambungmacan di Sragen, Diambil dari Dua Nama Jagoan Sakti di Kampung
Museum Sultan Agung
Gunung Majasto juga memiliki situs bersejarah lainnya, yaitu museum yang didedikasikan untuk Sultan Agung Hanyokro Kusumo Joko Bagus Mertopo Mbangun Tapan Mataram Binangun.
Museum ini didirikan untuk mengenang perjuangan Sultan Agung dan merupakan tempat yang sangat berarti bagi wisatawan yang ingin mempelajari lebih dalam tentang sejarah dan kebudayaan Mataram.
Yang menarik dari pembangunan museum ini adalah teknik konstruksinya.
Untuk menjaga kelestarian puncak Gunung Majasto, pondasi bangunan museum tidak langsung dipancang ke dalam tanah.
Sebaliknya, museum ini dibangun dengan menggunakan tiang-tiang yang ditempatkan di atas permukaan tanah.
Tujuannya adalah untuk mempertahankan bentuk asli dari puncak gunung yang memiliki nilai spiritual dan sejarah yang sangat tinggi.
(*)
Tim Medis Mengaku Dipukuli Polisi di Solo, Saat Antar Pasien di Tengah Kerusuhan Massa |
![]() |
---|
Demo di Kawasan Gladak Solo Ricuh, Patung Ikonik Pahlawan Nasional Slamet Riyadi Ditulisi 'ACAB' |
![]() |
---|
Eskalasi Demo Ojol di Solo Meluas, Massa Bakar Pembatas Jalan di Simpang Gladak |
![]() |
---|
Aparat Paksa Mundur Massa dengan Gas Air Mata, Fasilitas Umum di Kawasan Gladak Solo Rusak Parah |
![]() |
---|
Demo di Solo Ricuh hingga Malam, Massa Terdorong Gas Air Mata di Bundaran Gladak |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.