Pencabulan Oknum Guru Silat di Wonogiri

Latihan Silat Malam Hari Disorot, IPSI Wonogiri Tawarkan Dinas Duduk Bersama, Singgung soal Tradisi

Soal sorotan jam latihan silat di Wonogiri, IPSI menyebut itu perlu duduk bersama. Sebab, setiap perguruan silat punya tradisi masing-masing.

Istimewa
CABULI BOCAH : S (56) oknum guru silat yang mencabuli sejumlah anak di bawah umur yang merupakan muridnya sendiri. Pelaku telah diamankan di Mapolres Wonogiri untuk menjalani proses hukum dan mempertanggungjawabkan perbuatannya. Kini ada sorotan soal jam latihan silat. 

Laporan Wartawan TribunSolo, Erlangga Bima

TRIBUNSOLO.COM, WONOGIRI - Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Wonogiri merespons soal sorotan dinas terkait jam latihan silat sampai malam hari. 

Bahasan ini masih berhubungan dengan kasus guru silat yang mencabuli muridnya yang masih di bawah umur. 

Menanggapi kasus itu, Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPKBP3A) Wonogiri menyoroti soal latihan silat yang sampai malam bahkan dini hari. 

Apalagi latihan tersebut diikuti juga oleh anak di bawah umur. 

Merespons hal itu, Ketua Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Wonogiri Weda Hendragiri mengatakan hal itu perlu dibahas bersama karena di setiap perguruan pencak silat punya tradisi tersendiri.

Terutama soal jam latihan silat yang dilakukan.

PENCABULAN REMAJA - S (56) oknum guru silat yang mencabuli sejumlah anak di bawah umur yang merupakan muridnya sendiri di Purwantoro, Wonogiri, tengah diinterogasi polisi, Kamis (3/4/2025). Sudah ada 7 orang yang melapor sebagai korban pencabulan dari S. Kini jam latihan silat yang sampai malam juga menjadi sorotan.
PENCABULAN REMAJA - S (56) oknum guru silat yang mencabuli sejumlah anak di bawah umur yang merupakan muridnya sendiri di Purwantoro, Wonogiri, tengah diinterogasi polisi, Kamis (3/4/2025). Sudah ada 7 orang yang melapor sebagai korban pencabulan dari S. Kini jam latihan silat yang sampai malam juga menjadi sorotan. (TribunSolo.com/Istimewa)

"Terkait itu, memang harus duduk bersama untuk membahasnya. Perguruan-perguruan punya tradisi, kemudian di sekolah atau institusi pemerintahan juga ada aturan. Itu yang perlu disinkronkan," jelasnya.

Menurutnya jangan sampai semua pihak mempertahankan ego masing-masing yang pada akhirnya menimbulkan ketidarukunan antara instansi yang mana anak-anak sekolah yang mengikuti perguruan silat bisa menjadi korban.

"Ada batasan-batasan, itu bisa menjadi baik. Jadi pihak sekolah juga menghargai tradisi, dari perguruan juga bisa mengikuti aturan dari pemerintah," ujarnya. 

Sebelumnya, Kepala Dinas PPKB P3A Wonogiri, Kurnia Listyarini, menyoroti aktivitas latihan bela diri yang dilakukan tengah malam saat hari sekolah.

Berdasarkan informasi yang diterimanya, latihan silat dilakukan 2 kali setiap minggunya.

"Mereka anak-anak SMP, seminggu dua kali latihan dari jam 19.00 sampai 02.00 malam. Hal-hal seperti itu kan harus dicermati oleh tokoh masyarakat. Tidak sewajarnya anak-anak sekolah beraktivitas sampai tengah malam seperti itu," kata Kurnia.

Baca juga: Guru Silat Asal Purwantoro Wonogiri yang Cabuli 7 Siswanya Terancam Penjara Maksimal 15 Tahun

Pihaknya berharap, seluruh tokoh-tokoh masyarakat yang ada di Wonogiri ikut menjaga anak-anak apabila mereka mengikut aktivitas yang mungkin mengganggu tugas utama yakni belajar.

Ia menekankan tidak mempermasalahkan anak-anak mengikuti kegiatan ekstra, asalkan dilakukan di waktu yang sesuai dan tidak mengganggu waktu belajar dan istirahat anak.

"Saya meyakini itu bukan hanya di satu tempat (latihan sampai malam) walaupun pelatihnya beda-beda. Anak-anak tugas utamanya belajar, kalaupun ikut latihan yang lainnya masih di jam-jam yang wajar," jelasnya.

(*)

 

Sumber: TribunSolo.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved