Fakta Menarik Tentang Solo
Makna Batik Parang yang Dilarang Dikenakan di Keraton Solo dan Mangkunegaran
Di Keraton Yogyakarta, status larangan ditetapkan sejak masa Sri Sultan Hamengku Buwono I pada 1785, terutama untuk Parang Rusak
Penulis: Tribun Network | Editor: Rifatun Nadhiroh
1. Versi Rouffaer & Joynboll
Motif Parang berasal dari pola pedang (parang) yang digunakan para ksatria.
Motif ini diyakini dapat memberikan kekuatan tambahan bagi pemakainya.
2. Versi Panembahan Senopati
Motif Parang tercipta saat Panembahan Senopati mengamati gelombang Laut Selatan yang menghantam karang.
Pola lengkungnya dianggap melambangkan kekuatan alam dan kedudukan raja sebagai pusat energi.
Komposisi miring pada Batik Parang juga diartikan sebagai lambang kekuasaan, kebesaran, kewibawaan, dan dinamika gerak seorang pemimpin.
Motif Parang sebagai Batik Larangan di Keraton
Di Yogyakarta maupun Surakarta, motif Parang termasuk dalam batik larangan atau awisan dalem.
Artinya, penggunaan motif ini diatur secara ketat dan hanya boleh dipakai kalangan tertentu.
Di Keraton Yogyakarta, status larangan ditetapkan sejak masa Sri Sultan Hamengku Buwono I pada 1785, terutama untuk Parang Rusak.
Aturan ini diperkuat lagi pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono VIII (1921–1939) melalui Rijksblad van Djokjakarta tahun 1927.
Aturan Pemakaian Motif Parang (Versi Kelas Sosial)
Berdasarkan buku All About Batik: Art of Traditional and Harmony (2007), ukuran motif Parang menentukan siapa yang boleh memakai:
Parang Barong (15–20 cm)
Hanya untuk raja, ratu, dan pangeran.
Parang Rusak (8–15 cm)
| Tempe Gembus Mudah Dijumpai di Angkringan Solo, Ternyata Pernah Jadi Penyelamat Saat Krisis Pangan |
|
|---|
| Kisah Menarik Kelurahan Gajahan di Solo, Ternyata Dulu Tempat Kandang Gajah Milik Keraton Surakarta |
|
|---|
| Contohnya Selat, Ini Sejarah Panjang Kenapa Kuliner di Solo Kebanyakan Bercitarasa Manis |
|
|---|
| Cerita Misteri di Ndalem Kalitan Solo Rumah Soeharto, Konon Gamelan di Sana Berbunyi Tiap Malam |
|
|---|
| Asal-usul Nama Kawasan Baron di Solo: dari Tempat Tinggal Bangsawan, Kini jadi Tempat Kuliner Ikonik |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/solo/foto/bank/originals/Motif-Batik-Parang-Wow.jpg)